Showing posts with label Gunung Pangrango. Show all posts
Showing posts with label Gunung Pangrango. Show all posts

Wednesday, May 14, 2014

Double Summit Gunung Gede Pangrango Bagian 2


Tapi kenapa saya masih saja bimbang? Padaha fisik saya mengingkan saya untuk menyudahi pendakian ini dan ikut pulang bersama 8 rekan lainnya, namun entah mengapa ketika saya memutuskan akan pergi, saya malah mundur lagi dan melirik tekad terbesar saya yaitu masih ingin berjuang menggapai Puncak Pangrango. Tiba-tiba saya pun menjatuhkan pilihan saya bersama 8 rekan yang masih memilih tetap tinggal disini untuk melanjutkan pendakian malam nanti.  
(Baca cerita sebelumnya : Double Summit Gunung Gede Pangrango )




Part 2 : Pendakian Puncak Gunung Pangrango

Sabtu malam, 19 April 2014. Pada akhirnya kami tinggal ber-9. Saya, Teh Nina, Tami dan Pegy hanya berharap pada 5 sisa petangguh ini, Yoga, Kang Fadhli, Tomi, Andre, dan Mas Dikun, 4 orang penghuni ITB dan satu orang penghuni PT Dirgantara Indonesia.

Sepasang tenda telah dibangun, seperti biasa, Teh Nina selaku yang tertua dari kami selalu berinisiatif duluan untuk menyediakan konsumsi. Menu kali ini adalah menu termewah kami sepanjang perjalanan pendakian kami, nasi,mie, dan bubur ayam siap saji dipadukan dengan berbagai lauk pauk seperti sarden, tuna saus padang, sosis, tempe orek campur kentang mustafa, ditambah snack pilus garuda sebagai toppingnya. Tentu saja selaraskan dengan minuman hangat kaya akan nutrisi seperti susu cokelat fullcream, energen, dan white coffe. Merupakan suatu anugerah ternikmat jika di hutan saja kami masih bisa menikmati makanan se-spesial itu. (padahal sih itu juga dikasih tenda sebelah, sengaja juga semua dimasak supaya beban carier berkurang).

Pukul 20.30. Tak terasa sudah malam lagi, tiap malam di tiap tempat persinggahan yang berbeda, layaknya para nomaden. Sudah saatnya beristirahat meregangkan otot-otot yang tegang sebagai persiapan pendakian tengah malam nanti. Bicara soal otot-otot yang tegang, saya baru ingat bahwa bekas jatuh turun Gunung Gede tadi belum sempat saya periksa. Awalnya saya kira tidak apa-apa, hanya sekedar lecet-lecet di kaki dan sikut saya. Tapi setelah saya periksa ternyata ada luka di bawah telapak kaki saya, sepertinya cukup dalam, entah bekas menginjak pisau malam kemarin, entah kerena tertusuk ranting, atau mungkin luka bekas menginjak pisau kemudian tertusuk ranting. Satu lagi yang paling mengganggu sedari tadi adalah bengkak dan rasa sakit yang menyaut-nyaut di lutut kiri saya, betapa sangat menghambat langkah saya. Hanya berpikir kalo itu sekedar bengkak akibat memar di lutut (Setelah pergi ke dua orang tukang urut dan satu tukang tulang, belakangan saya ketahui bahwa itu adalah urat kecil yang kejepit diantara engsel tulang lutut), akhirnya saya mengoleskan cream pereda rasa sakit dan menempelkan koyo di lutut serta bagian tubuh lainnya. Begitupun Teh Nina,Tami, dan Pegy, saling pijit, saling balur, saling tempel, dan aktifitas saling menghangatkan lainnya sehingga kami pun bisa tidur dengan optimal.

Minggu dini hari, pukul 01.30. Banguuuuuuuun. Alarm manual itu berasal dari suara ketua  tim kami, Yoga. Kami harus segera bersiap-siap untuk melakukan summit attack menuju Puncak Pangrango. Hawa dingin tidak menciutkan nyali kami. Setelah melakukan olahraga pemanasan, tepat pukul 02.00 kami bergegas memacu langkah menyusuri track menuju Kandang Badak. Hanya butuh 40 menit waktu bagi kami sampai di Kandang Badak, padahal kemarin saja hampir 2x lipatnya dari Kandang Badak menuju tempat nge-camp kami. Mungkin karena kami meninggalkan carier dan semua barang bawaan kami di tenda, hanya jas hujan, minuman, bekal sarapan pagi se-alakadarnya saja. Selain itu, perjalanan tengah malam memang dipercaya dapat menaikan kecepatan langkah, tak memakan banyak waktu untuk beristirahat.

Setibanya di Kandang badak, kami beristirahat sebentar untuk sekedar meneguk air minum, menghela nafas panjang, dan mengisi ulang mulut kami dengan premen jahe yang katanya ampuh menghangatkan tenggorokan. Untuk menuju jalur pendakian puncak Pangrango, kami mengikuti tanda panah berbelok ke kanan, masuk hutan yang lebih rapat dan lebat, lalu menyusuri jalur aliran air yang hanya setapak. Bukan hanya itu, disepanjang track sering sekali kami jumpai pohon-pohon besar dan lapuk yang menghalangi jalur kami. Mau tak mau kami harus menaiki pohon itu untuk melewati jalur demi jalur.

Saya melirik jam tangan saya, dan ternyata ini baru pukul 03:15. Seharusnya ini menjadi tengah malam yang gelap, sepi, dan sunyi. Namun itu tidak terjadi pada kami, pasukan di belakang Saya (Teh Nina, Peggi, Andre, dkk) membuat perjalan ini menjadi lebih bersuara dengan gurauan dan obrolan ala mereka, malah ocehan mereka sesekali saya dengar bersautan dengan kicauan suara para penunggu hutan ini lebat ini. Saya pribadi sebenarnya sedang tidak ingin menyimak atau berusaha bergabung dengan obrolan mereka,  karena nyatanya cidera kaki kiri ini telah menghancurkan mood saya. 

Hampir 3 jam kami menyusuri hutan gelap ini.  Selama beberapa jam lamanya tidak kami temui satupun pendaki lain yang melewati jalur ini, tidak seperti di Gunung Gede yang sangat ramai ditemui para pendaki. Wajar saja, track pendakiannya berupa jalan super sempit yang sangat curam, becek, dan licin mungkin menjadi pertimbangan bagi mereka untuk melakukan pendakian tengah malam seperti ini. 

Di tiga perempat perjalanan, kami sempat mendapati sebuah tenda bediri di hutan selebat dengan tebing-tebing securam ini.  Kami pun sempat bertanya kepada mereka kira-kira berapa lama lagi kami sampai puncak, “Sekitar setengah jam lagi mas, mba” dan sautan mereka menjadi cambuk dalam kenyala-redupan semangat kami. Kami semakin bergegas untuk menapaki  jalur demi jalur yang menebing. Saya kembali mengintip jam tangan saya, ini sudah lebih dari setengah jam, tapi ternyata kami belum menemukan tanda-tanda puncak, kami masih berputar meliuk-liuk menapaki track.

Sial, ternyata orang itu memberi kami harapan palsu walaupun mungkin niatnya mensugesti kami supaya tetap semangat, tapi lain lagi jika kondisinya seperti ini, malah semakin merasa dipermainkan dan akhirnya kecewa. Ekspresi ini mungkin terkesan berlebihan jika terjadi di dalam kondisi normal, tapi berdasarkan suatu suatu teori alamiah yang pernah seseorang katakan pada saya 
Di gunung itu, kalau kita senang maka akan terasa benar-benar senang, sebaliknya kalau  kita kesal, tidak suka atau sejenisnya maka benar-benar akan kita rasakan itu luar biasa”.
Dan itu lah yang sedang saya rasakan sekarang.  Benar memang saya cape, kesal, dan hampir putus asa, tapi untungnya saya punya rekan-rekan satu tim yang solid, satu melangkah semua melangkah, satu beristirahat semua beristirahat, tak sungkan menarik tangan saya ketika hendak tergelincir, tak hentinya saling menyemangati supaya kami tetap melangkah, dan  ketika ada yang kedinginan, yang lain dengan rela meminjamkan jaket tebal dan sarung tangan mereka. Saya fikir, mungkin ini bentuk persamaan integral dari teori alamiah diatas,  bukan hanya perasaan senang dan kesal, segala macam perasaan akan terasa sangat kuat dan peka pada kondisi survival seperti ini. Bermodal kebersamaan itulah, hingga akhirnya pada hitungan ke-5 jam yang begitu terasa tetiba kami kami mendapati Sebuah plang di samping tugu bertuliskan “PANGRANGO, 3019 MDPL”.

Entah kenapa, semua lelah dan putus asa itu mendadak sirna, tergantikan oleh rasa riang dan syukur tak terhingga. Subhanallah, terimakasih Ya Rabb telah memberikan kami kesempatan untuk menikmati pesona-Mu lebih nyata lagi. Sinar matahari yang sudah satu jam terakhir menemani pendakian kami menuju puncak ini teryata masih tetap cantik mendampingi kami mengabadikan momen bersama disini, di puncak tertinggi kedua Jawa Barat.

Usai menikmati panorama dri atas puncak, kami memutuskan untuk sedikit menyisir turunan depan kami, beberapa puluh meter dari meneus dari puncak, ternyata kami temui Padang edelweis yang menurut saya lebih indah dari Suryakencana, dialah Mandalawangi. Luar biasa indaaaaaaahhhh, cekungan dataran di bibir gunung dengan hamparan bunga edelweis yang mulai mekar. Langit cerah dengan gumpalan awan putih nya membuat padang ini seolah-olah berada di atas awan.  Lebih istimewa lagi karena lebih jauh kami pandangi, ternyata padang ini menyimpan beribu kesegaran dari mata airnya, ada semacam sungai kecil di pinggir padang edelweiss ini yang airnya bisa kami gunakan untuk mengisi energi kami yang terkuras tadi. Sedikit aneh memang rasanya, mungkin karena sebelumnya kami tidak terbiasa meminum air mentah, tapi kami tak terlalu memperdulikannya, bukannya air gunung masih belum terkontaminasi, justru ini yang menyehatkan ( asumsi bahwa air ini belum terkontaminasi oleh para pendaki lain yang pipis atau buang hajat di sungai).

Pagi hari di akhir pekan yang indah, tak terasa harus kami akhiri karena jam menunjukan pukul 09.00, jadwal dimana kami harus turun gunung, pertimbangannya adalah karena kami butuh waktu turun gunung sekitar kurang lebih 3.5 jam, belum termasuk keliling nyari jalur sampe nyasar-nyasar ke tebing, terpisah dari tim, melipir ke dasar sungai, sosorodotan, dan gugulantungan di pohon, terus naik lagi nyari jalan, buka jalur, nanjak lagi, serodotan lagi, sampai akhirnya sampai juga kami di tempat camp dengan selamat sentosa walau sedikit bajred di sekujur tubuh.

Pukul 13.30 Saya, Teh Nina, Yoga, dan Tomi menjadi pasukan terakhir yang tiba di Kandang Batu. Kami langsung merapat ke camp, Saya, tami, peggy terkapar lesu di tenda, dan Teh Nina masak (Hahaa parahh, adik macam apa kita-kita iniii, membiarkan kakak tertua yg masakkk). Makanan matang, dan hujan pun turun. Alhasil, kami menyantap hidangan terakhir ini ditemani gemerincik hujan yang datang tiba-tiba. Akibat hujan, rencana setelah makan langsung bongkar tenda pun menjadi terhenti.

Sudah satu jam lebih kami menunggu hujan reda, namun ternyata hujan masih menyisakan gerismisnya. Mau tak mau, kami harus pulang, tak mungkin kami bermalam kembali disini, karena esok kami harus kembali ke rutinitas masing-masing. Pukul 15.00 kami memutuskan bongkar tenda, packing, beres-beres dan segala rupa. Fix beres, pukul 15.30  kami pun mulai berjalan kembali menyusuri hutan melewati jalur Cibodas.  Oh ya, sebelum berangkat, Saya, Teh Nina, Tami, dan Peggy buang air kecil berjamaah terlebih dahulu di balik pepohonan belakang tenda menggunakan alat pembersih seadanya.hihihihi, benar-benar berkesan.

Hore Jalur Cibodas, katanya jalur ini jalur yang paling mending diantara jalur Gunung Putri dan Salabintana. Hemmm tapi ternyataaaaaa?....tunggu dulu, menurut saya justru ini ga kalah ribet dibanding track-track sebelumnya. Memang sih jalunya jauh lebih tertata dan  lebih lebar, tapi kendalanya adalah semua jalur terbuat dari susunan batu kali yang besar-besar, lumayan tajam dan bergerigi, salah-salah injak, ya tergelincir. Itulah yang terjadi pada rekan saya Peggy, hujan yang belum terlalu reda membuat jalan menjadi licin, salah injak batu, dan tergelincirlah dia. Saya melihat sekali krologisnya karena kebetulan saya berjalan di depan dia. Kami dan beberapa rombongan pendaki lain langsung memberikan pertolongan pertama, membasuh luka di kaki dengan air, memebrikan alkohol, memberikan betadin, kemudian membalutnya dengan perban. Tak hanya itu, yang lebih parah adalah ternyata kakinya keseleo. Kang Fadhli kemudian memasangkan sejenis perban elastis untuk menahan posisi tulang di pergelangan mata kakinya, lalu salah satu dari tim kami Andre menggendong dia, karena sudah jelas kaki kanannya sakit jika digerakkan.  Kami semua pontang panting ganti peran, siapa yang handle bawa carier Peggy dan Andre, mau tak mau harus ada beberapa orang yang bergantian double bawa carier , dan mereka adalah Yoga, Kg Fadli, Tomi, dan Mas Dikun.

Mereka memang juara. Teman-teman saya memang hebat. Yoga dengan double cariernya tanpa membawa headlamp, Kg fadhli pun demikian, Tomi dengan carier dan sekarung trashbag berisi sampah, Mas Dikun dengan luka di Kakinya masih bisa menemani saya membuka jalur, Andre masih kuat menopang berat badan Peggy sepanjang perjalanan, Pegy yang pemula namun tak gampang menyerah, Tami yang super tangguh tak sungkan membantu Saya, dan terakhir, Teh Nina yang santei, cekatan, sama seperti Saya ga terlalu tangguh tapi punya nyali besar buat double summit. Kalo Ariel NOAH bilang “KALIAN LUAR BIASAAAAAA”.

Bersama kalian, pendakian dua gunung ini bisa saya lewati dengan mulus. Pukul 20.00, tiba di pos pendakian, mengurus administrasi simaksi terlebih dahulu, lalu akhirnya pulang dengan kaki cidera dan badan bau segala rupa. Trimakasih Kawan, Terimakasih GEDE PANGRANGO. 





























Tuesday, April 29, 2014

Double Summit Gunung Gede dan Pangrango

Part 1 : Pendakian Puncak Gunung Gede

Gunung gede dan Pangrango merupakan suatu kawasan wisata nasional yang terletak dalam satu kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango atau disingkat dengan istilah TNGGP. Untuk mendaki dua puncak ini, ada tiga jalur yang dapat dipilih, dari arah Cianjur (posko Gunung Putri), Bogor (Posko Cibodas), dan Sukabumi (Saalabintana).  

Hari itu, Jumat 18 April 2014, kami memulai misi pendakian ke-3 kami setelah Semeru dan Papandayan, namun kali ini judul misinya agak lebih keren, yaitu Double Summit Puncak Gede Pangrango atau dengan kata lain pendakian dua puncak Gunung Gede dan Pangrango.

AKS, Begitulah demikian nama sekumpulan pendaki kekinian ini disebut. AKS yang merupakan singkatan dari “Ayo Ke Suryakencana” sebenarnya bukan nama baru bagi kami,  AKS ini adalah peralihan dari nama asal kami YKS (baca Yuk Ke Semeru). Kenapa namanya diganti? Mari kita bicarakan di lain pembahasan. Trus kenapa kepanjangannya Ayo Ke Suyakencana? Ya karena kali ini tempat indah berawalan S yang kami tuju adalah Suryakencana, salah satu dari 4 padang edelweis terindah di Indonesia. Oh iya, anggota yang sekarang berangkat berjumlah 18 orang, 17 diantarnya asli nusantara (Sunda, Jawa, Betawi, dan Sumatera) serta seorang asli  vietnam (entah lah nemu dari mana).

Sejak jumat dini hari kami telah tiba di jalur pendakian gunung Putri, jalur pemberangkatan yang kami pilih. Sambil menunggu pagi tiba, kami beristirahat di warung-warung dan halaman depan rumah warga setempat, beruntung sekali karena warga disana sudah terbiasa akan lalu lalang para pendaki yang sedikitnya mengusik tidur nyenyak mereka, alih-alih ini justru menjadi penghasilan tambahan mereka untuk sekedar menjajakan cemilan hangat, kopi, sarapan  serta jasa penyediaan WC umum.

Sang fajar telah keluar dari ufuk timur, itu kali pertama kai melihat sunrise di kaki gunung ini, begitu cantik merah merona, saya fikir di kaki gunungnya saja sudah secantik ini, apalagi jika dilihat dari puncaknya. Karenanya, hal ini menjadi salah-satu penyemangat kami untuk segera berkemas dan bersiap-siap memulai pendakian kami ke puncak yang sudah terbentang luas di depan mata.

Pukul 07.30, setelah melaksanakan olahraga pemanasan dan foto full team yang merupakan ritual wajib bagi pendaki eksis sekelas kami, kami pun bergegas menuju posko penjagaan Gunung Putri (1450 mdpl) terlebih dahulu.  Posko ini wajib kami singgahi untuk melakukan pemeriksaan barang bawaan serta menunjukan persyaratan administratif yang harus kami urus sejak sebulan sebelumnya.

“Ada yang bawa pisau, sabun, odol, radio,???”. “Tidak ada”, dan kami pun lolos melewati pemeriksaan tersebut. Oh ya satu lagi, sampah harus dibawa pulang dan wajib diperlihatkan di posko terakhir pendakian.
Ini nih ada secarik kronologi yang saya salin ulang (berhubung sama banget ceritanya dan lebih kearah males untuk nyeritainnya lagi) dari Jalur Pendakian Gunung Gede dan pangrango  , gini nih ceritanya:

“Pendakian awal berupa jalan setapak yang melintasi kebun penduduk, yang selanjutnya akan menyeberangi sungai kecil. Setelah melewati sungai jalur mulai menanjak dan kita akan menemukan pipa air minum yang disalurkan untuk keperluan penduduk sekitar. Satu jam perjalanan dari pipa air pendaki akan sampai di Pos Tanah Merah yang berupa bangunan bekas kantor Taman Nasional yang sudah tidak terpakai di ketinggian 1.850 mdpl. Beberapa dinding kayu sudah hilang dan lantai kayunyapun sudah pada berlobang, namun atapnya masih bagus sehingga dapat digunakan untuk berteduh.”

“ Jalur semakin menanjak dan melintasi akar-akar pepohonan, suasana hutan semakin lebat dan mencekam, setelah berjalan sekitar 1,5 jam akan sampai di Pos Legok Lenca diketinggian 2.150 mdpl. Jalur berikutnya semakin curam dan licin terutama di musim penghujan, di beberapa tempat medan sempit sehingga pendaki harus ke pinggir bila berjumpa dengan pendaki dari arah berlawanan.”

“Pos berikutnya adalah Buntut Lutung yang berada di ketinggian 2.300 mdpl. Tempat ini agak lega sehingga bisa beristirahat rame-rame setelah melintasi jalur sempit. Jarang sekali ada pendaki yang membuka tenda di pos-pos di sepanjang jalur gunung putri. Selain tempatnya sempit dan tidak ada sumber air, pendaki lebih suka bersusah payah sekuat tenaga untuk sampai di Alun-Alun Surya kencana dan berkemah di sana.”

“Sebelum sampai di lapangan terbuka Surya Kencana kita masih harus melewati dua pos lagi yakni Pos Lawang Seketeng (2.500 mdpl) dengan medan yang semakin terjal dan semakin menguras tenaga, serta Pos Simpang Maleber (2.625 mdpl). Pos yang ada berupa bangunan untuk duduk yang dilengkapi dengan atap yang disangga satu tiang seperti payung. Seperti pos-pos yang lainnya tiang penyangga atap sudah roboh semua.”

Stop sampe sini nyalin cerita orang nya. Sekarang dilanjutkan penuturan dari saya lagi. Apa yang dilansir di cerita diatas benar-benar kami alami ternyata, dari awal berangkat sampai tiba di Suryakencana tuh full tanjakan terjal semua, cape nya luar biasa, meskipun kalo dibandingkan dengan Arcopodo-nya Semeru sih masih males banget Arcopodo. Tapi panjangnya itu lhoooooo, yang bikin perjalanan terasa sangat monoton. Kalo menurut saya sih malesin banget, berasa berjalan tanpa ujung deh.

Untungnya kemonotonan ini membuat saya sadar bahwa semakin lama saya berjalan maka semakin lama saya sampe Surya Kencana. Alhasil Saya dan rekan saya Tomi memutuskan untuk mempercepat langkah kami, berharap di depan sana sudah tidak akan kami temui kemonotonan ini.  Dan setelah melalui hampir 6 jam yang panjang, kami pun tetiba disuguhkan dengan hamparan tanah lapang  menyerupai taman, edelweis tampak depan mata, ternyata inilah Surya Kencana.

Selanjutnya yang saya lakukan adalah menghempaskan tubuh saya ke tanah dekat rerimbunan pohon edelweis, menghela nafas panjang, serta memandang sekeliling saya dengan penuh takjub. Sejauh mata memandang, di sekeliling yang saya lihat hanya padang hijau lapang terhampar ilalang, dan kini edelweis-edelweis itu menghiasi padang rumput ini. Saya menutup mata sejenak, tersenyum sedikit, dan berkata pada diri saya sendiri, “Sungguh tiada hal yang lebih dari indah, selain menikmati lukisan-Mu”. Subhanallah.

Sedikit relaksasi otot dirasa cukup, kami pun membuka bekal yang kami beli pagi tadi di kaki gunung, pindang dan sayur menjadi sajian makan siang kami. Tidak sampai satu jam kami beristirahat disini, usai mengambil foto bersama full team, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat camping, berjalan ke arah kanan mengikuti aliran sungai kecil diantara dua lapang mendekati mata air.

Nah ini kan niatnya mencari tempat nge-camp yang dekat dengan sumber air, tapi belum pun sampai sumber air, malah air yang berinisiatif menghampiri kami terlebih dahulu. Hujan  turun begitu cepat, semakin lama semakin deras, jas hujan  dan cover bag pun menjadi sia-sia,  alhasil sekujur badan dan semua yang kami bawa menjadi basah kuyup.

Bukan hanya itu, hal menarik lain adalah di padang edelweis ini kami sempat terpisah hampir satu setengah jam (bahkan saya sempat ketiduran ditengah hujan deras, sementara teman-teman saya sedang mencari rekan-rekan lainnya ) lamanya, ternyata kami para wanita terpisah dari rombongan kami para pria yang lebih dulu dari kami. Mereka sengaja lebih dulu untuk membangun tenda, barangkali  supaya kami yang agak lambat ini tinggal duduk manis saja di tenda. Tapi ternyata begitu banyak tenda yang dibangun di tempat seluas ini, sehingga kami menemui kesulitan untuk menemukan tenda team kami. Ditambah lagi guyuran hujan deras ini semakin mempersulit kami untuk menjangkau keberadaan mereka. Akhirnya kami mengambil inisiatif untuk mencari mereka dengan panggilan nama, teriakan lebih tepatnya, dan teriakan teriakan itu ternyata membawa kami kepada mereka. Alhamdulillah mereka masih lumayan peka dengan suara kami.

Sekitar pukul 17.00 kami sudah berkerumun di  tiga tenda yang kami bangun. Masing-masing orang sibuk membenahi pakaiannya yang basah kuyup dan menggantinya dengan pakaian lain yang setidaknya tidak terlalu basah.

Menjelang malam, rintik hujan semakin lama semakin melemah. Syukur lah hujan mulai reda, karena kami harus menyalakan api untuk menghangatkan badan dan memasak menu makan malam ini, oseng bayam dan sosis cukup untuk perbaikan gizi malam ini.

Sabtu, 19 April 2014, 3 jam di pagi ini kami habiskan dengan berbagai aktifitas, dari mulai bolak balik sungai buat ngambil air wudhu, ngambil air minum, nyuci alat makan, cuci muka, pipis, sampe buang air besar. Jika dibayangkan sekarang mungkin begitu menjijikan, tapi  entah kenapa pada waktu itu semuanya terasa baik dan sah-sah saja. Menemukan sebuah sumber air saja sudah Alhamdulillah.

Di sudut sebelah tenda, aktifitas lain nampak sedang dilakukan oleh kebanyakan orang, menjemur pakaian. Seketika hamparan edelweis ini dipenuhi oleh hamparan pakaian dan perlengkapan naik gunung kami yang kemarin sore basah terkena hujan. Semua tampak sibuk menjemur dan mengeringkan apapun yang bisa dikeringkan. Padang edelweis ini lebih seperti lapak Gasibu (pasar tumpah setiap hari minggu di Bandung) jika saya tatap sekilas dari atas bukit yang sedari tadi saya pijaki ini. Saya pun tak mau kalah dan segera meniru gaya mereka mengeringkan pakaian.

Pukul 10.00, matahari hendak mulai berdiri di atas kami,  hari yang cerah untuk melanjutkan misi pendakian puncak Gede. Tak banyak basa basi, kami pun bergegas meneruskan perjalanan, kembali menyusuri tanjakan dengan alas batu-batu terjal yang membentuk tangga. Semakin lama semakin menanjak tak karuan, kali ini saya masih tetap bersama parter saya Tomi, sedangkan sisanya nampak sudah jauh di depan kami. Setiap 40 langkah, kemudian saya berhenti dan menghela 10 nafas panjang, begitu seterusnya selama hampir 2 jam, sampai akhirnya kami berhasil menginjakan kaki di 2958 mdpl, Puncak Gunung Gede.  Lekukan kawah raksasa dipinggir puncak yang kami pijaki begitu nyata terpampang, namun baunya yang khas membuat kami tidak betah berlama-lama disini, ditambah lagi dengan kepulan kabut tebalnya yang menghalangi pandangan kami untuk menikmati pemandangan indah bogor, sukabumi, dan cianjur dari atas puncak. Kabut dan gerimis hujan yang turun menggiring kami untuk ikut turun bersama mereka.

Turun Gunung menuju jalur Cibodas, demikian nama jalur pendakian yang kami lalui ini. Dari puncak Gunung gede kami tidak turun melewati jalur yang sama dengan jalur pemberangkatan, namun kami turun lewat track pepohonan tropis dengan akar dan batang yang bisa dijadikan pegangan. Jalur ini cenderung tidak rapi seperti jalur Gunung Putri. Kami mengambil jalur sembarangan semau kami saja, tapi tetap ujung-ujungnya  kami  akan dihadapkan pada suatu jalur pendakian paling curam yang menantang nyali.

Tanjakan Setan. Namanya saja sudah ngeri, dan ternyata memang sesuai dengan kenyataannya. Sebenarnya jika kami mengambil jalur ke sebelah kanan terus, kami bisa lolos dari tanjakan setan ini, tapi justru rintangan ini lah yang membuat kami semakin tertantang.  Satu persatu dari kami mulai membalikan badan menghadap tebing sambil berpegangan pada tambang yang dikaitkan di pohon, perlahan-lahan kaki kami mulai turun mencengkram kuat pada punggung tebing, terpeleset sedikit salah-salah kami bisa terguling ke dasar pendakian.

"Saya kira itu biasa saja, lagipula kan ada tambangnya, gampang lah pasti." Itu hal yang terlontar dari mulut saya saat melihat satu persatu orang sedang menuruni tebing tersebut. Tapi saat giliran saya, baru pun saja menginjakan kaki saya menuruni tebing, hati saya sudah berdebar-debar tak karuan, sambil memegang erat tambang, kaki saya meraba mencari tumpuan, kondisi ini semakin menguji adrenalin saat saya berbalik ke depan dan menoleh ke bawah...gilaaaaa.. ternyata saya masih takut ketinggian. Saya pun terus memegang tambang dan memperkuat pijakan kaki yang sebenernya terasa gemetaran. Alon-alon asal kelakon, sama seperti yang lain, saya pun akhirnya dapat mendarat dengan selamat di dasar tanjakan.

Satu rintangan berhasil dilewati, namun sayang ini bukan akhir dari rintangan. Masing ada beberapa kilo meter yang harus kami lalui untuk sampai di tempat peristirahatan sementara, Kandang Badak.  Sebelum sampai Kandang Badak, ada insiden kecil yang saya alami ketika sedang asik memacu kecepatan menuruni track.  Saat itu nampaknya saya sudah menemukan irama kecepatan saya menuruni track, tapi tanda sadar kaki saya menginjak batu yang licin, terseok menambrak akar, dan saat saya berusaha mempertahankan keseimbangan saya,  tubuh saya malah terpelanting jatuh dan membentur tanah berbatu. Sesaat saya meringis sambil terbangun membenarkan kondisi badan, ada sesosok pria yang membantu saya bangkit, tapi saya agak lupa apakah itu Mas Yanuar atau Mas Dikun. Salah satu rekan saya, Pegi  malah menyuruh saya untuk berhenti dulu, tapi saya rasa ini hanya sepele, tidak apa-apa, lalu saya segera bangkit dan berlari kembali menuruni track.

Singkat cerita sampailah kami di Kandang badak, disini tempatnya tidak se-lapang Surya Kencana, tapi lumayan lah bisa dijadikan tempat nge-camp para pendaki.  Akhirnya kami ber-18 beristirahat terlebih dahulu sambil briefing membahas kelanjutan pendakian kami. Sebenarnya rencana  awal kami adalah melaksanakan dua pendakian sekaligus Gunung Gede dan Pangrango, hanya saja mempertimbangkan cuaca, situasi dan kondisi sekarang, sepertinya tidak akan kondusif lagi jika diteruskan sampai pendakian puncak kedua. Kebingungan ini memecah tim menjadi 3 suara:

  • Pertama, terdapat sekeompok orang yang sudah bulat tekad ingin pulang hari itu juga karena beberapa pertimbangan dan alasan masuk akal, kelompok ini akan langsung menuju Kandang Batu untuk segera pulang;
  • Kedua, terdapat sekelompok orang  yang masih berharap untuk meneruskan pendakian ke Pangrango, kelompok ini seharusnya bermalam di Kandang Badak dan membangun tenda ;
  • Ketiga, Ada sekelompok orang yang masih galau antara ikut pulang bersama kelompok 1 atau tetap tinggal bersama kelompok 2, saya lah orangnya, dan saya pun bingung tidak tau harus kemana.
Yang membuat lebih galaunya, harapan ketua tim kami Yoga adalah, "Jika kita berangkat bersama, pulang pun harus bersama", tapi anehnya dia justru yang paling semangat melanjutkan pendakian (gimana sih, loyal tapi egois, ga konsisten Yoga ini). Berbekal kebimbangan ini lah akhirnya kami menunda solusi perdebatan ini dengan kembali berjalan menyusuri Kandang Batu,  satu jam di perjalanan mungkin cukup bagi kami (saya terutama) untuk dapat menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil.

Di Kandang Batu, ternyata Keolopok Pertama (tidak akan melanjutkan pendakian) sudah langsung pergi turun gunung menuju jalur Cibodas.  Lalu satu demi satu dari kami pergi menyusul turun gunung dengan berbagai pertimbangan yang real dan masuk akal sekali.

Tapi kenapa saya masih saja bimbang? Padaha fisik saya mengingkan saya untuk menyudahi pendakian ini dan ikut pulang bersama 8 rekan lainnya, namun entah mengapa ketika saya memutuskan akan pergi, saya malah mundur lagi dan melirik tekad terbesar saya yaitu masih ingin berjuang menggapai Puncak Pangrango. Tiba-tiba saya pun menjatuhkan pilihan saya bersama 8 rekan yang masih memilih tetap tinggal disini untuk melanjutkan pendakian malam nanti.