Friday, February 7, 2014

Pendakian Puncak Gunung Papandayan

Masih bersama YKS team, libur imlek pekan lalu, tepatnya tanggal 31 Januari 2014, Saya dan beberapa kawan seperjuangan Pendakian menuju Puncak Mahameru (Guntur, Yoga, Agita, Mila, Chitra, Teh Nina, Tami, dan Uchi) kembali ingin menelusuri keindahan alam raya dari atas ketinggian. Dan Papandayan lah yang menjadi gunung pilihan ketua tim kami, Guntur. Di cerita tempo lalu, Saya pernah bilang bawa alam dapat menyatukan perbedaan, dan hal tersebut berlaku juga di perjalanan kami kali ini. Guntur membawa pasukan baru, sebut saja DNF (Doni and Friends), mereka ber-13 orang adalah rekan-rekan kerja Guntur di kantornya., 4 orang wanita ( Ainun, Icha, Putri, Reni) dan sisanya para pria ( Mas Doni, Abul, Cupit, Hendro, dll). Jika ditinjau dari logat bicaranya yang kental, kebanyakan dari mereka sepertinya  berasal dari daerah Jawa (yang jelas bukan Jawa Barat), dan ternyata memang benar. Inilah mengapa tadi saya bilang alam dapat menyatukan perbedaan, dari mulai beda tempat kuliah, jurusan, daerah, tempat kerja, suku bangsa, bahkan negara (cuma sayang disini 4 bule-bule kemarin gabisa ikut). 



Menurut informasi yang dilansir dari Mbah Wiki, " Gunung Papandayan adalah gunung api yang treletak di Kabupaaten Garut, ajawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 mdpl itu terletak 70 km sebelah tenggara kota Bandung. Gunung ini memiliki beberapa kawah yang terkenal, diantaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Naangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya. Tofografi di dalam kawasan curam, berbukit dan bergunung serta terdapat tebing yang  terjal. Menurut klasifikasi Schmidt dan Furquson termasuk type iklim B, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/thn, kelembaban udara 70-80 % dan temperatur 10 C.


Itulah sekelumit gambaran umum mengenai Gunung yang kami daki kali ini. Sebagai info tambahan yang saya dapat dari....(Tet tot lupa nama website nya), gunung ini juga masuk ke dalam salh-satu dari 4 gunung dengan padang edelweiss terindah di Indonesia disamping Gunung Gede, Pangrango, dan Rinjani. Gimana ga penasaran coba.. makannya supaya ga semakin mengawang-ngawang, langsung kita simak ceritanya.

Di suatu pagi yang cerah di kota kembang,, (hallaaaah, udah kaya dongeng aja pembukaannya). Oke, jadi gini ceritanya, jumat pagi tanggal 31 Januari 2014 bertepatan dengan libur imlek, kami berangkat dari stasiun Bandung tujuan Cicalengka menggunakan kereta api KRD Bandung. Tidak butuh waktu lama kami menumpangi kereta tersebut, satu jam kemudian kami telah sampai di stasiun Cicalengka.  Disana kami memulai perkenalan satu sama lain antar anggota sambil menunggu angkot yang kami charter munuju Cisurupan, Garut.

Singkat cerita, sampailah kami di alun-alun Cisurupan. Disini, kami berhenti lumayan lama untuk mengecek kembali persiapan logistik dan perbekalan sambil menunggu anak laki-laki jumatan. Dari mulai yang jumat’an, makan siang, bungkus bekal, jajan es krim,  cek kelengkapan, bolak balik wc untuk sekedar pipis, sampe yang buang air besar pun ga kalah bolak balik. Pokonya segala aktifitas berbau kelaziman kami selesaikan disini, karena disana tidak akan lagi kami temukan fasilitas-fasilitas umum seperti biasanya (iyalahhhhhh, namanya juga gunuuung).

Sekitar jam 13.30 kami melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian yang untungnya masih bisa dijangkau dengan kendaraan sejenis Jeep (kalo di Semeru), ya kalo di Garut sih istilahnya Kol buntung atau Kolbak (Itu lohhh yang biasa dipakai buat ngangkut sayur atau domba Garut tea geuning..). Luarrrr biasa sekali garinjulna ieu jalan (= istilah untuk mengatakan jalannya rusak /jelek dalam bahasa Garut), saking jeleknya, belum pun kami memulai pendakian, tapi rasa sakit di badan (tepatnya pantat dan punggung) sudah lumayan terasa gara-gara goncangan badan yang mau tak mau harus berbenturan dengan permukaan kolbak yang kami duduki. Satu jam dengan kondisi seperti itu menjadi tidak terasa karena ketika kami nikmati perjalanan dengan penuh guyonan, candaan dan cengkrama khas ala kami.



Lalu tibalah kami di posko pendakian. Cuaca disini mendung,  lekukan panorama gunung pun hanya bisa kami lihat samar-samar karena tertutup gumpalan awan hitam pembawa hujan. Semoga ramalan cuaca BMG yang mengatakan hari ini akan turun hujan deras adalah keliru. Tapi ternyata hipotesa kami yang keliru, tak lama setelah kami melakukan olahraga pemanasan, hujan pun turun, bubarlah kami mencari tempat berteduh, terjadilah kegalauan antara menunggu hujan reda atau sama sekali tak memperdulikannya. Cuma ada 2 pilihan dan kami harus memutuskan satu, akhirnya salah satu dari kami terlibat percakapan seperti ini:

Unyil    : Jangan risaukan hujan, ayo kita mulai mendaki saja..!
Usro     : Tapi kan, hujannya masih deras bung.
Unyil    : Ayo jangan mau kalah sama hujan, buktikan bahwa kita tangguh..!
Usro     : Oh benar juga, jadi kita berangkat sekarang aja nih bung?
Unyil    : Kenapa tidak, jika hujannya sudah mulai reda.
Usro     : Gubraaaaakkkkk...ftftftftfttt... berlalu tanpa tanda tanya.

Ah sepertinya memang cuaca sedang tidak bersahabat dengan kami, sekitar pukul 15.00 akhirnya kami memutuskan untuk berangkat dan mulai menapaki jalur pendakian. Trek di awal pendakian ini dihiasi oleh pemandangan tebing-tebing yang menjulang tinggi dan cekungan-cekungan kawah Papandayan yang mengeluarkan bau blerang super tajam. Perjalan kali ini rasanya begitu berisik, bunyi air hujan beradu dengan bebatuan sisa letusan gunung yang kawahnya masih aktif bahkan sewaktu-waktu bisa meletus lagi. Raincoat yang kami kenakan menjadi tidak ada fungsinya, hujannya memang benar-benar ramah ingin menemani perjalanan kami.




Hampir setengah perjalanan menuju tempat camp (Pondok Saladah) dilalui dengan track lumayan menanjak, full berbatu, dan tentunya berbau bangeeet. Hujan masih turun dan kami masih melangkah, sesekali berfoto, sesekali meneguk air mineral sebagai penghilang dahaga, dan sesekali menghentikan langkah untuk sekedar menghela nafas panjang.



Tepat di ujung jalur kawah bebatuan kami berpapasan dengan sekelompok pengendara motor cross yang ternyata mereka sedang ber-offroad (dari jalur manaaaa gitu lupa tapi yang pasti beda kabupaten pokonya) hingga menembus menuju jalur bebatuan ini. Kaget juga sebenarnya, track untuk pendakian seperti ini bisa dilalui jalur pe-motor gila seperti mereka. Momen seperti ini sangat sayang jika dilewatkan begitu saja, maka dari itu saya, Tami, Guntur dan Mila menyempatkan diri untuk berpose diatas motor layaknya pengendara tangguh ditepi tebing.





Sedikit intermezo rasanya cukup, kami harus mendirikan tenda  sebelum hari semakin gelap. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Menjelang track selanjutnya, panorama kanan kiri sudah mulai berganti dengan  barisan pohon tinggi nan rimbun yang menghiasi tebing-tebing curam. Dari sini, konturnya terus menanjak, hanya berupa jalur setapak., itupun sebenarnya bukan jalur khusus pendaki, tapi lebih terlihat seberti jalur aliran air. Kami berjalan menelusuri jalur bersamaan dengan air hujan yang mengalir sampai tepat di atas mata kaki kami. Awalnya saya kira ini musibah, tapi setelah saya pikir-pikir lagi ini justru anugrah. Dengan datangnya hujan ini, saya semakin menyadari bahwa tanpa hujan, semua yang hijau ini tidak akan bisa tumbuh dan bertahan begitu indah membalut tebing-tebing curam ini, sehingga pada akhirnya saya dan yang lain bisa menikmati keindahan ini dengan mata telanjang. Terimakasih hujan.

Belum beres ceritanya, di setengah perjalanan ini saya lebih banyak berjalan agak terpisah dari rombongan, ada beberapa yang lumayan jauh di depan saya, dan kebanyakan masih jauh di belakang saya. Bukan sengaja memisahkan diri, hanya saja saya terlalu terlena dengan pesona tebing-tebing hijau di sekeliling yang membuat saya terlalu sering merogoh kamera dan mengabadikan setiap momen yang saya lalui di tengah gemercik hujan ini.





Lawang Angin, agak aneh sih namanya, tapi inilah tempatnya. Tak terasa kami tiba di suatu padang rumput agak lapang, ada satu bangunan disitu yang ternyata adalah posko pendakian kedua. Posko ini biasanya diperuntukan wajib lapor bagi para pendaki yang turun gunung. Tidak jauh dari sana, terlihat sebuah plang di pohon lengkap dengan arah panah bertuliskan “Pondok Saladah”. Uwooooooo (ekspresi khas ala guntur) satelah membaca petunjuk itu, saya menjadi semakin bersemangat untuk menaiki jalur menanjak, terjal nan setapak itu.







Menanjak dan licin, tanpa turunan sama sekali. Track kali ini harus lebih hati-hati karena di sebelah kiri jalur sempit tersebut kami langsung disuguhi jurang curam sepanjang track, tergelincir sedikit, salah salah kami bisa terperosok jatuh ke jurang. kami pun fokus berjalan tertunduk sambil menajamkan mata ke arah track, dan tanpa terasa ( terasa banget sih sebenarnya) track menanjak itu tiba-tiba disulap menjadi padang rumput lapang di depan mata kami (bukan disulap, tapi karena terlalu fokus nunduk, jadinya ga sadar udah sampai di Pondok Saladah). “Uwoooooooo (lagi) kita sudah sampai teman-temaaaan,,. Ayo kita cari tempat buat nge-camp.



“Jangan disana..! ada jalur aliran air. Jangan disini..! permukaannya ga rata. Disana saja..! biar bisa numpang nge-api unggun ke yang lain. Disini saja, biar..., disana saja, disana sini hatiku senang, lalalalalalala,,lalalalaaa....”
Hampir setengah jam lebih kami berdiskusi soal tempat nge-camp. Semua orang mencari, bahkan sepertinya ada segerombolan mata yang memperhatikan kemondar-mandiran kami, bertanya asal muasal kami, memberi saran ini itu, sampai mengira kalo kami ini sekumpulan anak-anak pencinta alam SMA sama seperti mereka. Juara emang, entah muka kami yang begitu imut-imut ataukah karena pandangan mereka yang tertutup kabut saat melihat kami. Hemm apapun itu, tapi terimakasih karena Cuma kalian yang melihat kami sebagai remaja-remaja imut.



Sedang asiknya kita bercengkrama dengan anak-anak SMA itu, Tami dan Chitra datang menghampiri kami. Mereka sudah menemukan tempat nge-camp yang pas untuk kami. Saya, Tami, Yoga dan Agita segera merapat ke TKP untuk mendirikan tenda sementara Teh Nina, Mila, Chitra, dan Uchi datang menyusul (mungkin mereka jatuh hati pada anak-anak SMA itu).

Tenda sudah dipasang, hujan belum begitu reda, cuaca masih berkabut, suhu udara semakin menggigit kulit, dan kami mulai laparrrrrrr. Alhasil, kami ber-8 berdesak-desakan di 1 tenda kecil (tenda lainnya dibawa Guntur dkk) menyantap bekal seadanya sambil menunggu Guntur dan rombongan DNS tiba.

18:30. Saya melirik jam tangan fossil ES-3030 yang akhir-akhir ini selalu setia menemani perjalanan saya. Tak terasa hari pun berganti menjadi malam pekat bersamaan dengan berhentinya hujan. Hanya dingin dan perlengkapan basah kuyup yang tersisa.  Tak lama kemudian, rombongan lainnya pun datang dan segera mendirikan tenda. Sedangkan kami yang telah lebih dulu datang, menyalakan kompor parafin, memasak air teh atau kopi untuk sekedar menghangatkan tenggorokan.




Malamnya, masing-masing orang sibuk dengan aktifitas menghangatkan badan di tenda mereka massing-masing. Tidak terkecuali dengan kami tim YKS. Kembali, di satu tenda kecil ini kami rela berdesak-desakan untuk suatu misi rahasia, “Tiup lilin satu bulanannya YKS”, petualangan pertama YKS di akhir desember 2013 dan malam ini kami memulai petualangan lagi di akhir januari 2014. Ucapan selamat, doa, harapan, dan tentunya obrolan gosip menjadi pengiring indah menjelang mimpi kami di Bukit Pondok Saladah ini.

03.00. Dini hari di Pondok Saladah. Sebagian dari kami sudah ada yang bangun, karena berdasarkan schedule sekarang adalah saatnya persiapan menuju hutan mati, sementara sisanya masih asik dengan mimpi dan dengkurannya. Chitra menjadi orang pertama di tenda kami yang keluar tenda, dan entah kenapa suatu keajaiban karena saya menjadi pengikut selanjutnya (biasanya saya selalu menjadi yang kedua terakhir dalam hal apapun), ternyata ini gara-gara kebelet pipis, Saya cepat-cepat menyusul Chitra menelusuri semak belukar untuk mencari “tempat cocok”. Alhamdulillah leganya.

Tak lama setelah kami kembali, orang-orang pun sudah mulai ramai melakukan persiapan, dari mulai masak air, mengemas perlengkapan summit, mengenakan perlengkapan anti dingin, sarapan roti, buang air kecil, sampai aktifitas melakukan Operasi Golok (= buang air besar dengan cara membuat lubang menggunakan golok di semak belukar), aktifitas tersebut entah kenapa menjadi kebiasaan Saya dan Mila akhir-akhir ini.

04.00. Saatnya kami memulai perjalanan menuju Hutan Mati. Kenapa disebut Hutan Mati? Alasannya adalah kalian bisa menyimpulkannya berdasarkan gambar yang sempat Saya abadikan ini. Rawa berlumpur, becek, lembek dengan kontur yang cenderung datar. Selama sekitar satu jam, Itulah track yang harus kami lalui hingga akhirnya kami mendapati suatu padang kering nan tandus yang dihuni oleh batang-batang pohon penuh ranting namun tanpa daun. Inilah Hutan Mati. Letusan Gunung Papandayan di masa silam hanya menyisakan  barisan batang dan ranting saja.   
Terkesan mengerikan bukan? Tapi yang terlihat adalah sebaliknya, lekukan pohon-pohon itu berderet rapi  menghiasi hamparan padang tandus yang jika kita telusuri hingga ujung tebing, ada sekumpulan panorama mengejutkan yang akan kita lihat lebih dekat.




Subhanallah. Semua yang hanya bisa Saya lihat di coretan lukisan ternyata terpampang jelas di depan mata. Sang fajar yang mulai mengintip dari balik puncak ditemani sekumpulan awan putih terhampar luas sepanjang mata memandang. Jika bukan tebing curam dan cekungan kawah yang jadi pembatas, sudah saya hampiri mereka.  Ini bukan hanya dongeng, tapi benar-benar negeri di atas awan. Allahuakbar. Engkau memang Maha Besar.





Dari sudut dimana Saya berdiri, gumpalan putih menyerupai awan tersebut samar-samar mulai menepi dan tergantikan dengan panorama indah di bawah sana, sepertinya semua pun bisa Saya lihat dari sini.  Bukan hanya itu saja, ternyata Saya bisa melihat gunung-gunung lain yang ternyata berderet membungkus negeri kelahiran saya tercinta, Garut ini.












Hampir  dua jam kami bertengger di sini, di tepi hutan mati dengan berjuta pesonanya. Dua jam sepertinya belum cukup, namun perjalanan belum usai, kami masih harus menapaki jalur pendakian untuk mencapai tujuan utama kami “Puncak“. Rasanya kami sudah tidak sabar menantikan keindahan selanjutnya di Tegal Alun yang merupakan puncak gunung dengan hamparan padang edelweissnya.  Sekitar pukul 07.00 kami mulai move on.






Perjalanan pun kini tak lagi semudah menggapai hutan mati, kembali kami disuguhkan dengan jalur pendakian ekstrim, berbatu, becek, dan dengan tanjakannya yang curam. Ini bukan masalah besar, kami pernah melalui hal yang lebih ekstrim sebelum ini (sombooong yang pernah mendaki ke Semeru). Berapa lama persisnya Saya lupa (1.5 atau 2 jam gitu), pokoknya setelah melewati jalur yang menguras tenaga dan dahaga ini akhirnya kami dapat menginjakan kaki di Padang Edelweiss Tegal Alun.

Ahhh entah kata-kata apalagi yang harus saya tulis disini untuk mengungkapkan kekaguman saya terhadap apa yang sedang saya saksikan sekarang. Jujur memang ini padang edelweiss terindah yang pernah Saya temui. Hamparan edelweiss dengan balutan tebing yang ditumbuhi pohon-pohon menjulang tinggi di sekelilingnya membuat saya tidak ingin cepat beranjak dari puncak Papandayan ini. Ratusan foto mungkin telah kami simpan di memori kamera kami masing-masing, bahkan kami pun sempat membuat video Teletubbis karena kebetulan situasi, lokasi dan warna jaket yang kami kenakan menyerupai 4 tokoh Teletubbis.











Orang bilang, puncak Papandayan itu ya Tegal Alun ini, maka dari itu kami berniat ingin berfoto di belakang tulisan “Puncak Papandayan 2665 mdpl”. Lha tapi setelah kami berkeliling, ko belum nemu juga tulisannya.
No picture = Hoax = Ga ada foto tulisan puncak = Ga sampe puncak.

Berbekal keyakinan tersebut, akhirnya kami bertekad ingin mencari tulisan puncak papandayan tersebut, karena memang beberapa orang yang sudah pernah kesini ada juga yang berhasil menemukan tulisan tersebut.  Untungnya kami bertemu dengan sesama pendaki yang ternyata baru berhasil menemukan puncak. Selanjutnya kami menelusuri hutan sesuai petunjuk pendaki tadi.

Nah, disinilah kesimpangsiuran terjadi. Ketika kami mulai menelusuri jalur, kami berpapasan lagi dengan pendaki lain yang memberi tahu bahwa mereka telah berhasil menemukan puncak papandayan tapi dengan jalur dan posisi puncak yang berbeda dengan yang ditunjukan pendaki pertama. Mereka sama-sama memperlihatkan foto puncak kepada kami namun dengan lokasi dan tulisan “Puncak’ yang berbeda.  Apa maksudnya semua ini??? Kondisi ini membuat kami semakin penasaran mengubek-ngubek isi hutan ini.

Ternyata terlalu banyak jalur disini, ini membuat semuanya semakin bingung. Akhirnya kami berpencar mengambil jalur masing-masing yang kami yakini, tapi ternyata kami malah berputar-putar di jalur itu-itu saja hingga pada suatu saat setelah semua orang sibuk mencari letak persis puncak, satu orang diantara kami “Guntur” datang kembali menghampiri kami dan mengatakan bahwa dia telah berhasil menemukan tulisan itu. Saya, Mila, Anggun, Agita,dll yang masih mencari di jalur lain akhirnya dipanggil-panggil supaya mengikuti jalur yang Guntur temukan.

“Teman-teman kita sudah sampai, ini puncaknya.” Jelas memang, disitu ada batang pohon portable yang dipasang plang bertuliskan “Puncak Papandayan” namun tulisan 2665 mdpl-nya telah terhapus. Saya pribadi sih sebenarnya bingung harus berekspresi seperti apa, melihat kondisi tulisan puncak yang letaknya masih lebih rendah dari tanah yang sedang saya pijak. Haha aneh memang, tapi setidaknya ada bukti bahwa kita telah mencapai puncak Gunung Papandayan ini.  Sesuatu yang kita yakini, itulah yang terjadi. Begitupula dengan ending dari pertanyaan:

Unyil    : Dimana sih sebenarnya puncak Gunung Papandayan?
Usro    : Ya disini, tepat dimana setiap orang menyakini bahwa “sebuah puncak  dapat  diraih saat kita berhasil melalui tantangan yang kita yakini bisa melaluinya.












































Friday, January 17, 2014

Braga Culinary Festival


Sabtu, 11 Januari kemarin menjadi sabtu malam pertama dibukanya acara  Braga Culinary Night.

Braga Culinary Night atau adalah semacam pesta kuliner yang berlokasi di Jalan Braga, Bandung. Kegiatan ini untuk sabtu malam- sabtu malam berikutnya akan menjadi agenda mingguan masyarakat Bandung. Kenapa? Karena Bapak Walkot kita tercinta om Ridwan Kamil menggagaskan kegiatan ini dalam program kerjanya sebagai acara rutin yang tiap minggu akan digelar di sepanjang Jalan Braga. Tujuannya apa lagi kalo bukan untuk mewadahi tempat-tempat nongkrong kreatif muda-mudi Bandung, hahaa (jadi berasa masih muda..)

Gimana ga kreatif cobaa?.. mulai dari pemilihan tempat,"Braga" yang identik dengan identitasnya kota Bandung, ga lengkap kalo ke bandung belum ke Braga, konsep acaranya pun terbilang sederhana tapi unik, "menutup jalan kemuadian ada yang jualan makanan, maksudnya agar orang menikmati kegembiraannya dengan cara sederhana, makan," Ujar beliau saat diwawancarai Healt Liputan6.com saat pembukaan acara.

Untuk sekelas acara pembukaan, saya rasa sabtu malam kemarin bisa menjadi awal yang baik untuk terselenggaranya acara ini secara rutin, meskipun memang tidak bisa dipungkiri jumlah pengunjung yang demikian buanyaaaaaknya kurang seimbang dibanding jumlah stand jajanannya. Tapi justru itu membuktikan bahwa masyarakat Bandung begitu menaruh antusiasme yang besar terhadap terselenggaranya kegiatan ini., sehingga itu bisa menjadi ajang pembenahan supaya kegiatan positif ini kedepannya bisa terlaksana lebih sempurna.

Yappppp sekian curhatan dari warga kabupaten yang numpang nge-kost di Tanah Bapak ini.
Ini baru pemimpin kreatif, aspiratif yang berjiwa muda bangettt.
Two tumbs up for you  pokonyaaa....













 write and doc by : Badriana Nuranita
                              17 Januari 2014.






Thursday, January 9, 2014

Pendakian Menuju Puncak "Mahameru" 24-29 Desember 2013



Sebuah perjalanan luar biasa yang telah memberikan saya pembelajaran mahal tentang arti menaklukan diri sendiri dan tentang menyadari kemampuan diri sendiri.
Badriana Nuranita



Gunung tertinggi di Jawa dengan puncak ketinggian 3676 mdpl. Ya, itulah Mahameru. Sedangkan pegunungannya dinamakan Semeru. Dan itulah yang menjadi latar belakang dari kebanyakan para pendaki Semeru, tidak terkecuali dengan saya dan 24 rekan-rekan lainnya. Kami ber-25 merupakan rombongan pendaki asal Bandung “Yuk ke Semeru” atau biasa disingkat dengan YKS-25 (rada numpang tenar dari acara trans yg lagi nge-trend “Yuk Keep Smile”,hehe).

Oh iya, rombongan ini terdiri dari beraneka ragam kultur, budaya, negara, dan latar belakang pendidikan yang kebanyakan anak-anak angkatan 2009. Coba kita absen satu-satu, ada yang dari Unjani (Agita dan Raka), Unpad ( Teh Nina dan Febi), dari ITB (Guntur sang ketua geng, Ita, Novi, Shaffi, Citra, Mila, Tami, Aldi, Reza, Uruqul, Tomi, Yoga, Ucup, kg Fadli, dan kg Purwa), lalu ada 4 orang bule kebangsaan non Indonesia (yaiyalah namanya juga bule) yang sedang menjalani pertukaran studi atau apalah itu namanya di ITB dan STSI (Ivan, Nikki, Dola, dan Marcin), ada seorang siswa SMA juga (Mugi) adiknya Mila, dan yang terakhir ada temen SMA-nya Guntur dari Itenas (Badriana Nuranita) yang so’so’an mau ikutan jadi pendaki gunung juga (padahal Cuma mau ikut-ikutan Pevita Pearch aja di film 5 cm) .

Maka jadilah kami 25 orang dengan 1 misi ‘Menginjakan kaki di puncak tertinggi Jawa’ (hahaha itu versi hiperbolanya), ingin bertadabur alam dan menikmati keagungan ciptaan-Nya ( ini versi personifikasinya), atau ingin belajar menaklukan diri sendiri dan melawan ego kita sendiri (nnahhh ini baru versi petarung bergaya original kaya saya,,cie ciee) . Tapi apapun misinya, yang pasti adalah 5 hari singkat bersama mengarungi perjalanan dramatis nan heroik (pliss jangan lebayy..!) itu ternyata dapat menyatukan kebersamaan kaya yang udah kenal lamaa banget gituuu. Ya Itulah ajaibnya, alam memang luar biasa.

Mari kita mulai dari hari pertama, tepatnya hari Selasa 24 Desember 2013 jam 17.30, sebagian dari tim berangkat dari bascamp (kontrakan Guntur, Tomi,dkk) menuju stasiun KA Kiaracondong, Bandung, sebagian lagi langsung berangkat dari rumahnya masing-masing. Intinya kita nunggu pemberangkatan Kereta Bandung- Kediri jam 21.00. Perjalanan menggunakan KA kelas ekonomi, alhasil selama 14.5 jam + ngaret 1 jam kita harus sukarela dikukung di dalam kereta. Tapi tenang, kelas ekonomi jaman sekarang ga kaya dulu ko, udah pake AC (walaupun kadang-kadang bocor dan ga nyala), udah jauh lebih tertib, dan pastinya jauh lebih layak. Bagaimana dengan para pedagang asongan? Wiuh jangan ditanya lagi, kalo gaada mereka ya kami gabisa makan murah ala backpacker dong, nasi pecel itu pokonya jadi menu primadona banget buat para backpacker sejati macam kami.


Rabu, 25 Desember 2013. Siang hari di Kediri, langsung disambut bus mini semi hot gitu (no AC just mini banget pan dan itupun ga nyala), sekitar 4.5 jam perjalanan menuju Pasar Tumpang diiringi gemercik air hujan membasahi Kota Malang. Sekitar sore hari kita sampe di Pasar Tumpang, beristirahat, melaksanakan solat, sambil menunggu jeep yg bakal kita tumpangi menuju Ranupani, titik awal menuju perjalanan yang sesungguhnya (rada didramatisir ah..).

Dua jam harus berdiri di jeep, dengan posisi kaki dan tangan full menahan badan karena kondisi jalan yang hemmmm lumayan banget lah yah buat uji ketahanan kaki. Satu lagi yang makin nambah luar biasa, suhu udaranya gileeee, mana pelaratan antidingin antiangin (syal,sarung tangan, sepatu,kaos kaki,jaket tebel) belum sempet dipake lagi, tapi bagusnya gitu kata Guntur, supaya tubuhnya bisa menyesuaikan kondisi dan suhu udara (walaupun tetep aja sih, kalo udah dingin mah tubul menggigil). Jadi, ceritanya ini pun belum jadi masalah apa-apa. Oke lanjuuuttt..



Rabu malam sekitar jam 8an, sampailah kita di Ranupani, kaki Gunung Semeru sekaligus merupakan posko awal pendakian. No signal, no market, minim air, tapi untungnya masih ada wc, meskipun terjadi ketidaksesuaian yang sangat signifikan antara volume air dan kapasitas penggunanya (rada ilmiah saeutik ah), dan itu artinya udah ketebak kan upaya penghematan air apa yang harus kami lakukan? Ga mandi. Benar. Itu jawabannya.

Disini, sudah banyak tenda-tenda didirikan, begitupun kami, dua buah tenda dengan ukuran large dipasang di dekat mesjid Ranupani. Malam ini rasanya akan menjadi malam yang paling panjang diantara 2 malam berikutnya. Maka dari itu, maribooo..mari kita bobo teman-teman. Save our energy for tomorrow.

Kamis, 26 Desember 2013. Sejak sebelum adzan subuh, antrian wc sudah berderet panjang hampir melewati tenda kami. Segera kami bangun ikut mengantri untuk mengambir air wudhu dan melakukan salahsatu aktifitas membersihkan tubuh yang paling penting “Gosok Gigi” (itu juga kalo beruntung masih dapet air).


Pagi indah di Ranupani, sang mentari memang tak terlalu nampak, namun tetap saja keindahan Ranupani bisa terintip dari sela-sela gumpalan kabut putih yang samar-samar menutupinya. Pagi itu, para ketua tim dan perwakilannya sudah berangkat ke posko mengurusi persyaratan administrasi yang wajib dilakukan oleh setiap pendaki (meliputi KTP, surat keterangan sehat, surat perjanjian dengan materai, beserta uang pendaftaran), sedangkan anggota lainnya sibuk beres-beres, packing dan mempersiapkan sesempurna mungkin semua perlengkapan logistik dan medis. Setelah semuanya beres, dianjutkan dengan sarapan, olahraga bersama, foto bareng (ini tidak boleh dilewatkan), dan akhirnya tepat jam 9.00 kami berangkaaaat menuju perjalanan yang sebenarnya, berjalan kaki sambil menenteng carier (dikira kresek ditenteng).



Ranukumbolo menjadi tujuan kedua kita setelah melewati Ranupane. Ada 3 pos yang kami singgahi sepanjang perjalanan Ranupani-Ranukumbolo dengan jarak 10.5 km. Dari Ranupani ke Landungan Dowo sejauh 3 km dengan ketinggian + 2300 mpdl, lanjut ke Watu Rejeng sejauh 3km dengan ketinggian + 2350 mdpl, jalan lagi 4.5 km, barulah kami dapat menginjakan kaki di Ranukumbolo (+ 2400 mdpl), dan itu masih terhitung perjalanan di kaki gunungnya. Kontur jalur pendakiannya masih terhitung normal, cenderung berliku, sedikit menanjak, masih bisa ditemui turunan, namun tetap harus waspada (jalurnya sempit dan banyak ditemui jurang di kanan-kiri jalur). Normal sih memang iya, bahkan jalurnya masih dapat dijangkau para wisatawan yang memboyong anak istri mereka untuk sekedar berlibur menikmati indahnya Danau Ranukumbolo, tapi tetap saja jaraknya yang menurut saya mah panjaaang bgt itu lho dengan ketinggian yang semakin lama semakin menanjak yang membuat saya harus banyak berhenti menghela nafas ketika berjalan melewati jalur ini.


Lima jam kalo kita nongkrongin twitter, facebook, chatting atau sekedar tidur tuh kayanya ga kerasa yah. Bagi yang persiapan fisiknya full, buat sekedar jalan 10.5 km tuh biasa-biasa aja kayanya. Tapi buat gueeeeee??? Yang dari awalnya gaada persiapan fisik dan mental, cuma sebagai follower yang ikut-ikutan aja biar ikut kece (apasihhh) dan persiapannya pun cuma dilakukan H-1 sebelum berangkat (beli-beli perlengkapan naik gunung itu pun imitasi semua dikarenakan budget sekarat) pokonya ceuk bahasa sunda na mah ‘maksakeun pisan weh’, sudah pasti ketebak dong ceritanya kaya gimana?...

5 jam tuh yah berasa kamu 5 tahun berjalan di padang pasir bawa-bawa tumor seberat 1 ton dipunggung kamu dan mau ga mau kamu harus terus berjalan sambil membawa gondolan 1 ton itu demi mencapai oasis yang merupakan surga terindah yang kamu impikan (efek iklan Good Day Cappuchino..zzzz), Luar biasa cape nya kan?.. tapi untungnya saya tidak merasakan hal itu seorang diri, ada sosok imut nan keibuan di belakang saya yang selalu setia menemani (bukan setia sih sebenarnya, tapi lebih kearah sama-sama mudah lelah,,hehee). Sebut saja Teh Nina, wanita bandar logistik ini adalah sosok ibu bagi kami, karena selalu membawa buanyaak banget makanan sehingga kami jauh dari kata kelaparan (tapi rada percuma juga sih, soalnya kami lebih butuh minuuuuuuuuuuuum T_T). Dengan dia dan Kang Fadhli (Ikhwan yang begitu care dan mau bersabar menemani perjalanan tergopoh-gopoh saya dan Teh Nina), kami bertiga berkelana menapaki jalur demi jalur ini hingga akhirnya kami menemukan secercah kehidupan. Yassssss, tanpa terasa Ranukumbolo sudah di depan mata.. Subhanallah luar biasa cantiknya, Inilah memang oasis sempurna di tengah padang pasir. Kami bertiga pn segera mempercepat langkah kaki menuju Ranukumbolo untuk menyusul rekan-rekan kami yang sudah lebih dulu sampai disana. Dan semua kelelahan itupun terbayar oleh hamparan air bening menghiasi cekungan tanah Ranukumbolo.




Sejuk, hijau, bening, damai. Itulah kesan pertama saya ketika duduk terpaku memandangi Danau Ranukumbolo sambil sejenak melepas letih pundak akibat beban ransel yang sepanjang perjalanan bertengger di pundak saya. Kalau dilihat dari bentuknya sih memang paling ramping diantara semua carier teman-teman saya (yaiyalah, orang lain bawanya tas khusus gunung, ini malah pake tas khusus kuliah), karena awalnya saya fikir ini jauh lebih simpel, tapi ternyata malah sebaliknya. Beban isi tas yang saya bawa hanya terdistribusi di pundak saja, karena tidak ada sejenis sabuk ato ikatan apalah namanya yang dipasangkan di pinggang dan dibawah pundak sehingga membuat distribusi bebannya tersebar, tidak tertumpu di satu titik saja, berbeda dengan carier yang memang didesain senyaman mungkin untuk membawa beban-beban berat seperti seperangkat perbekalan naik gunung ini (ini bukan matkul mekanika teknik woooy..!! ko malah ngebahas distribusi beban). Tapi serius, ini penting juga buat memperlancar perjalanan naik gunung, jadi soal apa yang dibawa dan media untuk membawa itu wajib banget diperhatikan.

Back to Ranukumbolo, cuaca semakin sayu dan semilir angin yang mulai menggigit kulit membuat kami tidak bisa terus terduduk disini menikmati keindahan sesaat ini, karena jauh di depan sana perjalanan panjang menuju puncak tertinggi jawa masih menanti kami. Ba’da sholat ashar kami pun lekas bergegas melanjutkan perjalanan. Gemuruh semangat yang kami teriakan sambil menggambrengkan tangan satu sama lain membuat kebersamaan ini semakin terasa indah. “Yeahhhh, ayo kita merapat ke jalur berikutnya teman, semangaaat..!”

Suatu tanjakan, dari jauh terlihat sangat indah dengan hamparan bukit hijau disekitarnya, dari segi historikal, tanjakan ini menyimpan cerita romantis mengenai cinta sejati, “siapapun orang yang berhasil melewati tanjakan ini tanpa melirik ke belakang maka sambil memikirkan orang yang dia cintai, maka orang tersebut akan menjadi jodohnya kelak”. Tidakkah terkesan sangat memukau dan begitu romantis..?.. Maka, sesuai ceritanya tanjakan ini diberi nama Tanjakan Cinta.

Namun apa yang terjadi pada kenyataannya, jika kita tinjau lebih dekat dan mulai ditelusuri tapak demi tapak jalurnya, ternyata apa yang saya rasakan terasa jauh dari cerita indah di diawal tadi. Gila meeeeeen, nanjak banget banget dah. Lalu kenanjakan ini membuat saya sadar akan satu hal bahwa,
“cinta sejati memang patut diperjuangkan, selelah apapun kita, tetaplah tahan godaan untuk tidak menengok ke belakang dan tetap konsisten kedepan dengan apa yang dituju”. Hahahaa (hikmah macam apa ituuu).


Tepat disamping kiri saya, Guntur sang ketua regu mendapingi saya ditengah perjuangan ini (padahal mah sama-sama cape oge sih dia teh), ditemani celotehan Ivan, satu-satunya bule lebay yang pernah saya temui di muka bumi ini, tapi kelebaiannya berkali kali membuat saya tertawa, terlebih karena saya ga ngerti apa yang dia bicarakan dengan bahasa non-indonesianya itu (maklum abdi mah pituin sunda asli, garut pisan deuih, janten ngartos na ngan Yes No Yes No hungkul).

Singkat padat merayap cerita, akhirnya sampe juga lah saya di puncak tanjakan (tumben disini engga jadi yang terakhir, mungkin karena semangat cinta sejati yang berkobar di hati saya,,haha), lalu tak lama kemudian yang lain segera menyusul. Jadi tetap saya menjadi yang paling bontot lagi (T_T).

Walau lelah, eksis tetap harus diutamakan (ki:saya, ka:guntur, belakang:kg Fdhli)

Dibalik perjuangan, ada kebahagiaan. Dibalik tanjakan, ada turunan. Okeeeeee, dan alhamdulillah kami menemui suatu turunan yang membawa kami pada ketakjuban lainnya, yaitu hamparan padang lavender dengan pemandangan Gunung Semeru depan mata, inilah dia Oro-Oro Ombo.



Seperti biasa, saya mengabadikan momen istimewa dengan view yang luar biasa ini. Guntur menjadi partner in crime saya dalam hal ini. Hasilnya, saya tetap menjadi pendaki dengan ranking paling akhir (tapi kalo yang ini asli bukan karena cape, tapi karena saya dan Guntur sibuk bereportase dan berfoto-foto ria, hoho pembelaan). Puas mengeksplore padang lavender (sebenernya lagi kering sih dan belum mekar bunganya) kami langsung menyusul rekan-rekan se-team yang sudah jauh di depan kami.

Pemandangan ilalang ini tidak lama lagi akan berakhir, karena tepat didepan mata, sudah tampak rombongan kami yang entah menunggu saya dan Guntur ataukah memang sedang melepas lelah (geer banget yah pengen ditungguin). Ada satu pohon cemara besar tumbang yang sepertinya menjadi batas antar Oro-Oro Ombo dan Hutan rimba di depan sana. Tempat lapang ini dinamakan Cemoro Kandang. Cemoro yang berarti pohon cemara, dan kandang yang berarti kandang atau markas atau berhubungan dengan sesuatu yang banyak. Pantas saja, karena di area ini, terdapat banyak pohon cemara. Jadi cemoro kandang adalah kandang pohon cemara atau lebih layaknya hutan cemara. Kami sempat mengabadikan foto kami di depan plang lokasi kami sekarang berada.



Kalimati adalah tujuan kami selanjutnya, karena disana kami akan bermalam, mendirikan tenda, dan mengisi perut untuk persiapan mendaki puncak Mahameru tengah malam nanti.
Namun dari sini, sudah terlihat sebuah hutan belantara dengan kontur yang terus menanjak dan sangat minim turunan, dan tempat antara yang akan kami temui jika berhasil melewati hutan ini adalah Jambangan. Oke, tanpa berlama-lama berangkatlah kami melanjutkan perjalanan menelusuri hutan tersebut.


Perjalanan sudah semakin panjang, matahari pun sudah mulai tidak terlihat di hutan ini (emang udah mau malem kaleee). Rasanya, cape itu datang lagi, kecepatan mulai melambat seiring dengan jauhnya jarak yang sudah kami lewati, tidak terkecuali bagi saya dan Mila, wanita Farmasi yang menjabat sebagai tim medis di tim kami (yaiyalah secara dia anak farmasi), jadi dia lah yang sekarang menjadi partner saya melalui perjalanan menanjaki hutan belantara ini. Kami berjalan paling akhir diantara yang lain, “alon-alon asal kelakon”, itulah moto kami.

Malam sudah semakin nampak, gelap sudah mulai menghiasi mata, ditambah lagi dengan abu vulkanik sudah mulai menebar pesonanya, maka ini lah saatnya kami mengenakan masker untuk menutupi hidung dan mulut kami. Semakin malam semakin dingin, semakin atas semikin berkurang kadar oksigen, semakin menanjak semakin pegal kaki. Sesak, pegal, kesemutan, keram, dan cape pastinya. Itulah yang kami rasakan. Tapi tetap kami harus melanjutkan perjalanan sebelum malam semakin melenyapkan penglihatan kami. Meskipun pelan ( 2 langkah istirahat 5 menit) perjalanan ini tetap kami lanjutkan.

Ternyata bukan saya dan Mila doang yang ketinggalan, di depan ada yang sudah menunggu kita untuk bersama-sama meneruskan perjalanan ( Mugi, Teh Nina, Guntur, Reza, dan Kg Fadhli). Selanjutnya kami berjalan beriringan dituntun oleh sinar senter dan headlamp yang kami bawa (kecuali saya, gak punya headlamp dan sialnya malah bawa senter rusak), jadilah saya seonggok daging yang serba nebeng ke orang lain.

Setelah menelusuri tanjakan demi tanjakan jalur pendakian, betapa leganya saya ketika samar-samar melihat plang “Anda Berada di Jambangan, + 2600 mdpl”. Jika ditelusuri sebelumnya, berdasarkan petujuk yang ada, disitu terdapat informasi bahwa jarak Ranukumbolo – Cemoro Kandang – Jambangan – Kalimati berturut-turut adalah 2.5 km, 3 km, 2 km yang jika dijumlahkan berarti kami harus berjalan lagi sejauh 7.5 km menuju Kalimati. Jambangan sudah berhasil kami pijaki, ini berarti tinggal 2 km lagi yang harus kami lalui. Dari sini, semangat’45 mulai berkobar lagi, “Ayo ayo pasti bisa.. Kalimati sudah semakin dekat” itu yang terus menerus saya dan mungkin teman-teman yg lain ucapkan berkali-kali dalam hati.

Perjalanan Jambangan-Kalimati ini lumayan tidak membuat nafas tersendat-sendat karena jalurnya cenderung datar, hanya saja entah kenapa hempasan angin yang masuk ke sela-sela jaket membuat bulu kuduk kian merinding sehingga mata mata saya tidak mau mencoba melirik kiri dan kanan (mengingat malam itu malam jumat, dan saya memang parnoan abis).


Ayo ayo pasti bisa, Kalimati sudah semakin dekat, dan ternyata memang benar. Sejauh mata memandang sudah mulai terlihat titik-titik sinar yang semakin dekat semakin jelas terlihat kumpulan tenda-tenda para pendaki. Horreeeee,, Kalimati depan mata, dan tak butuh waktu lama untuk menemukan tenda kami. Disana sudah terlihat orang-orang tim kami yang duluan sampai sudah mendirikan tenda dan sedang memasak. Lega dan senang, pun merasa tertantang. Karena itu artinya tinggal beberapa langkah lagi kami akan sampai pada pendakian paling menantang menuju puncak semeru. Senyum itu mulai terpancar ketika kami pungkas hari ini dengan makan bersama, dan istirahat (walaupun ternyata cuma 2.5 jam) dan tepat jam 23.00 kami harus bangun kembali untuk melakukan persiapan summit attack.

Bangun bangun bangun..! Salah-satu dari kami, Shaffi (wanita tangguh yang menjabat menjadi komisi disiplin merangkap sebagai alarm) terdengar membangunkan saya dan yang lain. Kami berkumpul melingkar melaksanakan briefing summit attack dan pembagian kelompok. Saya, Mila, Kg Fadhli dan Uruqul sebagai koordinator, kami ditunjuk guntur menjadi sebuah tim di kelompok 3. Penunjukan langsung itu pun berlaku untuk yang lain, sehingga jadilah kami beberapa kelompok yang akan melanjutkan pendakian menuju puncak.

Tepat pukul 00.00 kami beriringan memulai summit attack dengan hanya berbekal 1.5 liter air mineral, satu buah sleeping bag, raincoat, beberapa biskuit, dan obat-obatan, sementara sisanya kami tinggalkan di Kalimati. Hal ini dilakukan karena berkaitan dengan medan amat curam nan menanjak yang harus kami daki sejauh 2.7 km. Jika ditebak, 2.7 meter masih belum ada apa-apanya dibanding dengan berpuluh-puluh km yang telah kami lalui, tapi setelah kalian lihat seperti apa medannya, semoga kalian tidak berpikir untuk menyudahi perjalanan menuju puncak ini. 60°-70° kemiringan track dengan jalur terjal, curam, dan tanpa sedikitpun turunan. Kaki kami hanya bisa bertumpu pada setapak jalur air yang kadang berbatu dan penuh akar belukar. Kaki saja rasanya tak cukup untuk menumpu keseimbangan badan supaya tetap kokoh, maka tangan pun ikut berperan dengan cara memegangi ranting, akar, namun terkadang harus rela melepaskan pegangan karena tidak jarang kami temui jurang di sisi kanan dan kiri jalur.

Belum pun setengah perjalanan menuju Arcopodo (Jarak Kalimati-Arcopodo sekitar 1.2 km) kaki kiri saya tiba-tiba terasa sakit, saya kira ini sakit biasa jadi saya berusaha menahannya dengan terus berjalan. Namun semakin lama rasa sakit di pergelangan dan otot lutut saya semakin membuat saya mengaduh dan sangat sulit untuk melangkahkan kaki kiri ini. Akhirnya Uruqul sang ketua kelompok menginstruksikan agar kelompok kami beristirahat sejenak, Mila segera membuka perbekalan medisnya,mengoleskan sejenis obat keram “Konterpen” (kayanya bukan gitu deh tulisannya) dibantu Kg Fadhli yang mencoba mengurut dan meluruskan urat-urat dari lutut sampai pergelangan kaki saya karena ternyata kaki saya keseleo atau salah urat atau keram atau bengkak atau apalah, yang jelas yang saya rasakan saat itu adalah ngilu yang luar biasa saat mengangkatkan kaki kiri. Bahkan Agita, (masih satu tim dengan kami tapi beda kelompok) menyarankan saya untuk berhenti karena katanya “mumpung masih belum jauh banget” (huuhh apaan yg kaya gitu.., mematahkan semangat).

Tetap lanjut, jawab saya dengan yakin. Dengan dibantu uruqul, kg Fadhi dan Mila akhirnya berjalanlah kami meneruskan pendakian, meskipun dengan kaki kiri saya yang mati rasa akibat olesan cream tadi. Saya terus berjalan mengikuti alur hutan ini dengan hanya mengandalkan kaki kanan saja dibantu dengan uluran tangan Uruqul yang sesekali bergantian tugas dengan Kg Fadhli. Mereka memang luar biasa, saking luar biasanya, saya sampai merasa tidak enak, merasa menjadi benalu, karena sepertinya saya yang paling menyusahkan. Sempat saya drop, tapi mereka bertiga tak hentinya memberikan semangat buat saya untuk terus maju, aaahh kalimat-kalimat itu yang membuat tekad saya kembali bulat untuk terus melangkahkan kaki sampai akhirnya saya membanting tubuh saya dan langsung bersender ke sebuah batang pohon bertuliskan “Arcopodo”.Subhanallah, saya berseru dalam hati. Tak lama kemudian, terlihat Agita, Shaffi,dan Raka sambil menggandeng Teh Nina (yang ternyata tepar) berjalan menghampiri kami.

“Kita sudah sampai di Arcopodo, di ketinggian + 2900 meter, 700 meter lagi kita sampai puncak (bohooooong bgt, orang di tulisannya aja 1.5 km),. Cuma ada 2 pilihan, 1) Kalian tidak melanjutkan pendakian dan istirahat disini sambil menunggu kami mencapai puncak, dan pulang kembali bersama kalian, atau 2)Kalian melanjutkan pendakian sampai akhir tanpa berhenti sama sekali atau kalian akan hipotermia?”

Perkataan dari Agita tersebut entah merupakan kalimat penyemangat ataukah sebuah ancaman? Entahlah, yang jelas saya, Teh Nina dan mungkin siapapun yang langsung ditodongi pilihan macam tadi menjadi semakin bimbang antara menyerah sampai sini ataukah terus berjuang sampai akhir dengan kondisi fisik sudah segini nyusahin orang lain. Belum lagi suhu udara yang kian menusuk kulit, tulang, daging, jeroan, otak, hingga pembuluh darah pun rasanya mau pecah (pokona teu pararuguh we lah). Semua pemikiran ini bercampur aduk bergantian mengisi otak saya.

Tetap lanjut, kembali saya ambil pilihan itu. Berkali-kali beberapa dari mereka menanyakan keputusan saya lagi, mungkin karena keadaan kami yang sudah seperti ini membuat mereka ragu atau tidak tega jika kami meneruskan pendakian. Tapi berkali-kali juga saya ungkapkan bahwa saya masih mau dan masih (lebih tepatnya semoga) bisa melanjutkan pendakian. Menyusahkan memang, tapi maaaaaf bgt ini mah saya harus lebih memenangkan mental saya daripada fisik saya.

Tidak berbeda dengan saya, Teh Nina pun demikian (daripada disuruh diem di hutan seorang diri, iya kalo selamat, kalo tiba-tiba ada semacam serigala atau harimau hutan? Gimana tuh..?). Fix berangkatlah kami menelusuri ujung hutan yang ternyata dalam sekejap berubah menjadi track pasir sangat curam dengan kemiringan hingga 70° menanjak sampai puncak.

Bukan hanya curamnya itu yang sekarang menjadi masalah, tapi bumi yang begitu terasa susah untuk dipijak. Gunungan pasir yang mau tak mau harus kami daki dan mau tak mau kami harus rela jatuh merosot ke bawah dan bangun lagi, melangkah mencoba menguasai diri memijaki pasir, dan mundur lagi mengalah kepada pasir, begitu seterusnya hingga 700 meter keatas (bukan lagi ke depan saking nanjaknya). Kg Fadhli dan Uruqul begantian menuntun saya dan Mila menaiki gunungan pasir terjal tersebut. Tak hanya mereka, bahkan Raka dan Agita ternyata masih menginginkan saya untuk mendaki bersama menuju puncak. Mereka pun bergantian menuntun saya dan Teh Nina sambil menggemakan kalimat-kalimat penyemangat supaya kami terus tertantang.

Sekitar jam berapa saya tidak ingat jelas sudah berapa lama kami mendaki, yang jelas terlihat titik-titik cahaya indah diatas sana yang saya kira kumpulan bintang membentuk rasi padahal itu berasal dari nyala senter dan headlamp para pendaki yang telah jauh lebih dulu di depan kami. Tak apa, semuanya terasa sangat nyata disana, termasuk ketika saya merogoh tas kecil saya hendak mengabadikan panorama dini hari Malang yang begitu indah menawan dengan kilauan lampu-lampu pemukimannya, dan apa yang terjadi? Kamera mana kamera, saya berkali mencoba mencari dan ternyata hilang. Kamera saya hilang, entah dimana saya tidak ingat sama sekali. Astagfirullah.

“Tidak apa-apa, semoga saja ada orang baik yang menemukan dan mengembalikannya lagi”, teman-teman terus menenangkan saya. Merasa kehilangan memang, apalagi semua momen sejak awal perjalanan terjalanan terekam dalam memori kamera tersebut, tapi ya sudahlah, benar kata teman-teman saya, doa orang teraniaya kan kuat diijabah. Jadi saya harus mengikhlaskan diri dengan hanya merekam momen-momen luar biasa ini di memori otak saya.

“Ayo-ayo cepat, matahari sudah mau terbit” terdengar seseorang berkata demikian, saya masih dengan kondisi menyeret kaki kiri kini ditemani Uruqul, sedangkan kg Fadhli bersama Mila dan kelompok lain sudah lebih dahulu didepan kami.

“Saya harus mencapai puncak itu..! berkali-kali kalimat itu menjadi pembakar mental saya dan mengalahkan kondisi fisik saya yang sudah tidak berdaya sebenarnya. Tapi keyakinan itu tiba-tiba melepuh saat kedua tangan dan kaki saya kaku mati rasa, nafas saya tersengal-sengal, badan saya menggigil lemas dan akhirnya saya ambruk di beberapa ratus langkah menggapi puncak. Samar-samar masih saya dengar seseorang menguatkan saya menyuruh saya bangun dan berjuang lagi, tapi semakin lama suara itu semakin melemah seiring dengan menutupnya kelopak mata saya. (to be continue)




9 Januari 2014
Badriana Nuranita

Thursday, November 14, 2013

Untitle (belum sempet dikasih judul sama yg bikinnya)

As the day left

As the bright gone

As the sky ignored

As me with this feeling



This is my rules

This is life and death

This is never ending story

This is enternal survive


RZ,2007.