Showing posts with label Lazy Backpacker. Show all posts
Showing posts with label Lazy Backpacker. Show all posts

Monday, November 21, 2016

EMPAT HAL YANG HARUS KAMU LAKUKAN SAAT PERTAMA TIBA DI VIETNAM

Hai hai haiiiiiii lama tak jumpaaaaa...

Setelah sebelumnya Saya nulis cerita tentang HO CHI MINH CITY, INI VIETNAM APA PERANCIS SIH? yang kamfret banget isinya malah ngebahas sejarah asal muasal kota Ho Chi Minh tanpa cerita apa-apa soal pengalaman travelingnya, hahahahah hampura (maapkan) pada waktu itu tiba-tiba dateng Si Syaiton BOSS yang mengganggu kekhusuan Saya dikala lagi asik nge-blog, ya iyalahhh bego, orang mah sibuk ngetik laporan, nah ini malah ngetik curhatan .

Nah yuk mumpung sekarang Si Boss lagi pergi ke negeri antah berantah, mari kita lanjutkan bertualang.
Setelah sampai di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City, selanjutnya kami ...mmmm...
“Kami???” //
“Iyaaaa kami, Saya, Mike, Rizwan dan Ichad.”
“Ohh Si pasukan Lazy Travelers yang otak waras nya udah pada jatoh sebagian itu kan?”
“IYEEEEEEE, nyet.”

ketibaan di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City

Mike dan Ichad saat di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City 


Jadi rabu siang di tanggal 20 April 2016 kala itu, di bandara, kami berempat mampir ke 4 tempat paling penting yang wajib kami kunjungi sebelum menclok sana sini bertualang di Ho Chi Minh. Apasajakah gerangan..? kenapa kamu harus kesana?... cekidot kita bahas.

1.  MONEY CHANGER

Saya dan penampakan nominal USD setelah ditukar dengan pecahan VND
 (abaikan pemeran figuran di sebelah kiri belakang)

Kenapa baru kami tukar Rupiah kami disini...? karena Di Money Changer di Bandung kami tidak menemukan (apa emang gak tersedia kali ya) DONG alias VIETNAM DONG alias VND Si Mata Uang Vietnam satu ini. Sehingga, dari Bandung kami menukar Rupiah dengan  Dolar US, di Vietnam baru kami tukar $ USD dengan VND. Waktu itu, 1 $ USD dihargai dengan 22.260 VND, dan asal kamu tahu kalo 1 Rupiah dihargai sekitar 1.7 VND atau hampir dua kali lipatnya disana, misal kamu bawa 5 juta dari bandung, pulang-pulang kamu bisa bawa Iphone 7, atau bawa 10 juta dari Bandung, pulang-pulang kamu bisa bawa satu unit mobil sport mewah Lamborghini Gallardo nya Eneng Syahrini lho, kaca spionnya tapi wakakakkkk. Yakale mobilnya, ngimpiiiii luuuu....

Nah bisa kebayang kan, disini mah gembel keceh kaya kami pun mayan meningkat kasta nya muihihihihi.

Mike sedang menukar  Dollar US di Money Changer Bandara Tan Son Nhat

 2. SIM CARD COUNTER

Jangan lupa mengganti sim card gadget kamu dengan sim card lokal disini. Seperti yang Saya beli di Sim Card Counter yang ada di Bandara seharga 100.000 VND dengan kuota internet 5 GIGA .  LIMA GIGA jaringan 3G Cuma Rp 50 rebuan kan murah bener ya kalo di kita, coba bandingin sama provider SEMPATIN prodaknya  TELPONSEL yang punya slogan khas nya BEGITU DEKAT DEGITU NYATU, HUHHHH mending jangan dibandingin deh biar gak nyesek. #curhat

Dan kamu harus tau juga kalo ternyata di Ho Chi Minh tuh akses wifi menjamur banget dimana-mana, di tempat-tempat umum, di taman kota, di supermarket, di bus, bahkan di kios-kios kecil yang sekalipun berada di daerah-daerah pelosok seperti perkampungan nelayan – Mui Ne yang sempat Saya kunjungi.  Di depan elatase nya, kebanyakan ditempel stiker bertuliskan FREE WIFI ACCESS. SALUTE SUPER GAK ADA DUA pokonya, sekalipun negara berkembang, tapi perkembangan akses teknologi informasinya beuhhhh jangan ditanya. Saking banyaknya akses internet gratis, malahan kuota internet 5 giga yang kami beli pun (padahal sudah dipakai untuk 4 orang selama 3 hari) masih sisa kuotanya dong. Noh yang gila medsos, sepertinya berimigrasi ke Vietnam adalah solusi NGACO terbaik. 

penampakan counter-counter yang selain melayani penukaran uang, beberapa
merangkap melayani pembelian sim card dan sewa taksi 


3.  TAXI COUNTER

penampakan taxi counter di dalam Bandara Tan Son Nhat
Gak Cuma Taxy counter, ada juga travel counter yang akan siap mengantarkan kita ke pusat kota atau pun tempat-tempat wisata di Vietnam dari Mulai Ho Chi Minh sampe yang jauh sekalipun seperti Mui Ne atau Da Lat. Kalo kamu sudah punya link travel agen atau taxy yang sudah terpercaya, kamu boleh lupakan ini. Tapi buat yang ketika sampai bandara masih mencari-cari moda trasportasi buat perjalanan kalian, Saya saranin buat hubungi counter-counter taxy yang ada di dalam Bandara saja. Karena ternyata disini banyak oknum-oknum sejenis calo yang suka nawarin jasa kendaraan dengan harga berlipat ganda, mungkin sebagian dari mereka adalah santri-santrinya Kanjeng Dimas Taat Patuh Tertib Lalu Lintas Saat Berkendara dan Jangan Lupa Gunakan Helm. BYE.

So, BE AWARE  ya yang punya niatan mau jalan-jalan irit ke Vietnam khusunya, save money, banyak-banyakin searching dulu supaya tau tarif-tarif transportasi disana, supaya gak kena tipu, aelahhhh masa tukang tipu kena tipu, kan gak logis.

VINASUN, adalah label taksi di Ho Chi Minh yang paling aman dan save money banget menurut Saya.  Mobilnya berwarna putih, kapasitasnya muat untuk 6 orang lagi (sejenis toyota avanza atau emang iya ya), udah paling enak banget kan patungan ongkosnya hihi.  Juara nya lagi tarif taxi disini tuh murahnya pake banget, dengan tarif minimum sekitar 5.000-10.000 VND (kalo gak salah, tapi pokoknya manusiawi banget tarifnya), ditambah jarak tempat wisata satu ke tempat lainnya di Ho Chi Minh City berada berdekatan, sehingga mudah, murah, dan efisien.

Rizwan sedang mangkal menyetop taksi VINASUN

4.  TOILET
Buat kalian yang BOKER-an akut kayak Saya, tempat ini bahkan menjadi tujuan  pertama yang wajib disambangi saat tiba di bandara.
Lah kenapa harus di bandara..?, di pesawat bisa keleus buang hajat.
GAK BISA, itu adalah jawaban paling rasional dari peboker yang yang gak tau gimana caranya boker di toilet pesawat. SEKIAN.


Dan itulah empat tempat yang wajib kamu kunjungi saat tiba di Vietnam. Lalu, setelah kami berempat mengantongi sejumlah DONG, kuota internet, dan kuitasi pembayaran taxi, kami pun segera meluncur menuju menuju Pham Ngu Lao, District 1, Ho Chi Minh City dengan menumpangi taksi bandara seharga 10 Dolar alias 220.000 VND alias rugi 40.000 VND (karena di dalam bandara, tarif taksinya hanya 180.000 VND , begonya kami malah memesan taksi di luar bandara, berharap dapat yang lebih murah eh malah kena sial, BEGO sih gak banyakin searching dulu).

Akhirnya dalam  30 menit, kami pun sudah sampai di pusat kota. Chào bạn (Hello) Ho Chi Minh City, MARI KITA MULAI PETUALANGAN.

Ichad bersama si Mamang supir taksi

Lazy Traveler Formasi 4

Written by : Ananuranita
Photos by  Mikeelfia, Ananuranita

Tuesday, August 9, 2016

HO CHI MINH CITY, INI VIETNAM APA PERANCIS SIH?


Kali ini Saya akan melanjutkan cerita perjalanan Saya yang melibatkan 8 kota di  5 negara Asean bersama 3 orang partner gila bernama Mike, Rizwan, dan Ichad.  Saya ulangi lagi kalo rute kota yang kita singgahi adalah Bandung – Purwakarta - Tangerang – Kuala Lumpur – Ho Chi Minh – Mui Ne – Bangkok – Pattaya – Bangkok – Singapore - Tangerang – Bandung. 

Setelah pekan lalu saya bercerita tentang pengalaman unik kami ketika transit di Kuala Lumpur di cerita "Dari Bandung Sampe Kuala Lumpur, Dari Sini Semua Kebodohan Dimulai", sekarang saatnya Saya menceritakan perjalanan utama di kota ke-4 yang kami singgahi. TOUCHDOWN HO CHI MINH CITY AND WELCOME THE FRENCH OF ASIA.

Foto yang Saya ambil ketika Landing di Tan Son Nhat Airport
4. Ho Chi Minh City, Ini Vietnama Apa Perancis Sih..?

Pukul 12.55 masih di tanggal 20 April 2016, pesawat kami landing di Bandara Internasional Ho Chi Minh City, Tan Son Nhat Airport. Yeayyyy touchdown Saigon, eh Saigon apa Vietnam ya? Duhhh biar gak salah mending simak dulu sebait prolog sejarah berikut ini.

Hostel dimana kami menginap

Jadi menurut cerita yang beredar di buku-buku sejarah anak sekolah maupun mbah WIKI, kota Ho Chi Minh yang kini merupakan kota termetropolitan di Vietnam (dahulu terbagi dua, Vietnam Selatan dengan Saigon sebagai ibu kota, sedangkan di bagian utara Vietnam tersebutlah kota Hanoi sebagai urat nadi nya) dulunya bernama Saigon.  Dulu nya kapan? Ya dari dulu aja sampe sekitar abad ke-19an. Setelah ditaklukan kolonialisme Perancis pada 1859, peradaban kota Ho Chi Minh selama pendudukan mereka atas Vietnam  banyak dipengaruhi oleh gaya-gaya bangunan klasik dan tata ruang kota khas eropa. Itulah kenapa kota ini dijuluki Paris di Timur.

Sampai akhirnya kekuasaan Vietnam Selatan diambil alih oleh Tentara Rakyat Vietnam pada 30 April 1975 sebagai akibat dari perang Vietnam. Selanjutnya pada 1 Mei 1975, nama Saigon diganti oleh pemerintah komunis yang berkuasa saat itu menjadi Ho Chi Minh City  yang berasal dari nama samaran pemimpin mereka. Di Perancis, dikenal dengan Ho Chi Minh Ville Atau Kota Ho Chi Minh.

Independence Palace, salah satu tempat bersejarah di Ho Chi Minh

Nah begitu kira-kira sejarah singkat nama Ho Chi Minh beserta asal-usulnya. Oke, sekian cerita kali ini, minggu depan Ibu Guru akan menjadwalkan QUIS ya, jangan lupa belajar yang rajin dan minum serebrovit grow. :D 

KAMFREETTTT, mana cerita perjalanannya WOOOYYY, MANAAAAA....!!!!!!

Astagfirullahaladzim kumprat kampret kumprat kampret, gak boleh tau ngomong gitu. Tuhan itu bersama orang yang sabar. kemudian gelar pengajian, dilanjut bagi-bagi nasi berkat.


Dan bersambung...
Nanti abis lonceng tanda jam kerja berakhir dilanjut lagi ya ceritanya MUIHIHIHIHIHIIIII..









written by : ananuranita
photos by : mikeelfia





Thursday, August 4, 2016

Dari Bandung Sampe Kuala Lumpur, Dari Sini Semua Kebodohan Dimulai

Sebelum baca cerita ini, biar sambung menyambung menjadi satu, ada baiknya baca dulu awal mulai kenapa cerita ini terjadi disini nih, KLIK : 8 Kota, 5 Negara, 2 Milyar Raib


Jadi, traveling seputaran ASEAN Saya kali ini masih bersama partner-partner sejati Saya seperti negara-negara sebelumnya. Namun kali ini cukup ber-4 saja, Saya, Mike, Rizwan, dan Ichad, sisanya banyak yang pada berhalangan, ada berhalangan waktu cuti, berhalangan duitnya, berhalangan gegara ada acara urgent, berhalangan karena lagi halangan, sampe berhalangan karena dihalang-halangin (yakale mau perang dihalang-halangin). Tapi tetep sih, ber-4 juga kayaknya berasa se-RT, karena perjalanan Saya dibarengi oleh duo sejoli GILA asal Sumatera Jawa yang rusuh minta ampun.

Baik, kita mulai dari rute. Rute nya adalah Bandung dan Purwakarta - Tangerang – Kuala Lumpur – Ho Chi Minh – Mui Ne – Bangkok – Pattaya – Bangkok – Singapore - Tangerang - Bandung, perjalanan yang melibatkan 8 kota di  5 negara di sepanjang destinasi nya. Mari kita kupas satu persatu.

1 Butir A.  Bandung, The Start Point City
Et dahhhh udah kayak bunyi UUD 45 aja ada butir-butirnya.

Rabu, 20 April 2016. Kami memulai perjalanan tepat jam 01.00 dini hari menggunakan bis Primajasa dengan harga tiket 140.000 IDR /orang. Oh ya, kami disini adalah Saya dan Icad saja, sedangkan dua lagi berangkat dari Purwakarta. Udah sih di Bandung nya Cuma gitu aja, kan biar banyak aja gitu list kota yang kami singgahinya, wkwkwk.

1 Butir B. Puwakarta Istimewa, punya nya Kang Dedi Mulyadi
Beuh naha jig-jig mamawa Purwakarta jeung bupatina? Teunanaon atuh, supaya ikut jadi topik yang banyak dicari orang di mesin pencarian dengan hasil sekitar 20.700 pencarian tiap 0,48 detiknya. Nih ane kasih buktinya gan.

Ngomong noh sama dengkul gueeee...!!!

Tenang-tenang gan. Maksudnya adalah selain Bandung sebagai tempat starting point kami, nah satu orang dari kami ternyata merupakan putra daerah Purwakarta yang diutus Wa Enung sama Mang Atam untuk ikut berjelajah ke luar negeri.  
"Siapa lagi itu Wa Enung sama Mang Atam WOOOOOOYYYY...?"
"Ah sudahlah".
Pokoknya kesimpulannya adalah, Saya dan Ichad meluncur langsung  dari Bandung ke Tangerang, sedangkan si Kemmy yang kena sial karena harus nyamper dulu si Rizwan dari Bandung ke Purwakarta untuk kemudian ketemu Saya dan Ichad di Tangerang.

2.  Tangerang, It’s Time to Fly
Tiba di Soekarno Hatta Airport – Tangerang pukul 04.30 waktu setempat. kami melanjutkan dengan check in penerbangan kami tujuan Tan Son Nhat Airport via Kuala Lumpur. Pukul 06.25 merupakan jadwal take off pesawat tercinta yang Saya tumpangi dengan hanya 639.500 IDR. Mayan Murah kaaaaan? Iyalah, maskapai ter-low cost apalagi kalo bukan AIRASIA.

Penampakan Rizwan saking antusias banget mau naek pesawat

     3.  Kuala Lumpur, Oh Nooooo The Stupidman Leaves His Bag
09.25 waktu setempat, dan inilah saatnya kami transit. Ada waktu sekitar 2,5 jam buat ngubek-ngubek kota ini sebelum nanti kami terbang lagi pukul 12.00.  Awalnya mikir gitu, lumayan lama kan 2,5 jam dan bakal berasa banget boringnya kalo kami cuma diem-diem aja. Akhirnya salah satu dari kami punya ide briliant untuk mencegah keboringan kami,
 “Yuk kita keluar aja dulu, cari makan di luar biar lebih murah, trus jalan2 aja dulu sekitaran luar bandara, yang jelas jangan di bandara nya aja." 
“Oke Deal”
sampe KL cuy, foto dulu dong


Eh ternyata ada satu hal kecil tapi penting yang luput dari perencanaan matang-matang perjalanan kami. DUIT MALAYSIA ALIAS RINGGIT ALIAS RM ALIAS RUMAH MAKAN EH MAKSUDNYA RINGGIT MALAYSIA ATAU POPULER DENGAN SEBUTAN MALAYSIA RINGGIT  MYR.
“Cuy, gue lupa gak bawa ringgit.”
“Iye sama gue juga, nih adanya sisa-sisa taun taun lalu”
“Apaan tinggal receh-receh gitu, mana cukup buat makan kita, di gue ada 10 ringgit nih.”
“Yaudah, Gue narik aja dulu dari CIMB gue”, ujar Saya. 
Lalu kami bergegas menuju mesin ATM CIMB yang berkeliaran disana. Tapi pas Saya mau menuju mesin ATM, si Kampret Rizwan tiba-tiba bilang kalo dia ternyata punya Ringgit banyak yang cukup buat makan kami berempat. Ah tapi, melihat dari track record dia yang hobinya nge-eek-banteng alias nge-BULL-SHIT ini bau-banya pasti dia becanda doang. Kami minta kasih liat duitnya, eh malah gak diliatin, malah sambil cengengesan bilang ih pokonya ada aja. Kan ini pasti kebohongan semataaaaa.

Bye, kami bertiga memutuskan untuk gak percaya sama dia, finally Saya terus aja jalan menuju mesin ATM, membuka dompet kemudian mengambil kartu ATM. Ehhhhh pas Saya udah tinggal nempelin si kartu ATM ke mesinnya, bener dong tiba-tiba dia keluarin selembar uang pecahan 50 RINGGIT sambil ketawa ketiwi kayak orang sableng. Emang sialan nih si Kamfret, kalo bukan karena emaknya yang baik banget, udah kita karungin terus dilempar ke Laut Merah juga ini anak.

Terimakasih Rizwan, sudah menyelamatkan nyawa kami di negeri orang. Berbekal 50 MYR atau sekitar 160 ribu-an, ditambah receh-receh yang terkumpul, berangkatlah kami berburu Pokemon Go nyari pintu keluar Airport. Kami berkeliling, mengikuti petunjuk, berputar-putar tapi anehnya gak nemu-nemu pintu keluar (Emang bego aja dasarnya ini mah). Sial, satu jam yang wasting time, yaudah lah akhirnya kami memutuskan untuk cari makan di foodcourt Airport yang sebenarnya tadi sudah kami puterin 7 puteran sekalian lempar jumrah sekalian cium ka’bah buat cari tau harga nya dan ternyata kami pandang mahils banget buat level traveler bokek kayak kami.

No option, dan dari sekian banyak menu yang tersedia, kami menjatuhkan hati kepada 1 paket combo fried chicken without rice yang kami tebus seharga tepat 62 MYR di resto bernama Popeye Lousiana Kitchen. Lho, kok gak pake nasi? Bukan karena gaya-gayaan, tapi karena gak ada menu nasi hiks. Dasar orang Endonesaaaa.


Rizwan dan Ichad saat menikmati makan siang di Popeye Lousiana Kitchen

Saya dan Mike saat menikmati makan siang di Popeye Lousiana Kitchen

Menu di resto yang kayaknya memberlakukan sistem pelayanan self service ini sebenernya woth it buat kami berempat, meskipun enak nya masih kalah sama KFC di Indonesia sih kalo menurut Saya. Hanya saja, ada hal yang rada menggu pikiran, yaitu waiter-nya. Berbadan gempal, tinggi, besar, hitam, berbulu lebat, dan berekor panjang bermata belo. Dari mulai kita order, bayar, makan, minum,ngobrol, makan lagi, minum lagi, bayar lagi, itu waiter sangar entah kenapa rasanya ngelirikin kamiiiii terus. Nah Lu, abis Lu disate sama Si Gorila Babon.

Tapi hal itu gak berlangsung lama, karena kami harus segera pergi dan segera masuk antrean bording pass lagi untuk keberangkatan Ho Chi Minh City sekitar setengah jam lagi.  Kami berempat pun meninggalkan restoran dan bergegas menuju tangga eskalator menuju Gate berapa yaa lupa yang dituju sambil cekakak cekikik ngeliatin kelakuan si Rizwan, sampai pada suatu ketika pas kami sudah berbelok menuju eskalator, tiba2 terdengar teriakan si Gorila Babon yang sepertinya tertuju pada kami.
“WOY WOYYYY, liat belakang cobaaaa, itu si waiter kok kayaknya manggil-manggil kita deh,” seru Rizwan.
“Ahhh mana mungkin, lu salah liat kali”, timpal yang lain.
“ Eh tapi bener deh dia ngeliatin kita kok bener, duhhh kenapa ya?”, tanya yg lain.
“Ooohhh apa jangan-jangan karena kita barusan lupa bersihin bekas makanan kita kali ya?”, jawab Rizwan pasti. 
“Oh iya iya bener- bener, ayo cepet kabuuurrrrrr”, masih Rizwan yang bilang.
Akhirnya kami tergesa-gesa menuruni eskalator karena takut diuber si Gorila Babon lalu dilaporin ke satpam, kemudian diringkus aparat, dan berakhir di penjara internasional dengan titel penjahat kelas kakap yang makan gak beresin lagi bekas makanannya. OMAIGAT.

Nah, pas kita lagi tergesa-gesa menuruni eskalator yang panjangnya hampir setara dengan jari-jari bumi  ternyata ada hal ganjil yang baru kami sadari.
“Wan, koper Elu manaaaa?”
Satu kalimat tapi bagai sebuah isyarat akan datangnya hari kiamat. Sontak kami berempat menyadari satu hal,  oooohh jangan-jangan si Gorila Babon dari tadi manggil-manggil tuh gegara koper gembel si Kamfret satu ini ketinggalaaaaaan...!!!
WADAWWW dosa besar ini mah udah suudzan sama orang.  

Akhirnya buru-buru kami solat tobat dan memohon ampunan saat itu juga Si Rizwan balik lagi menuju resto tadi, menghampiri si Gorila Babon yang ternyata merupakan jelmaan dari Pangeran Damar Wulan berwujud Lutung Kasarung, Rizwan kemudian mengambil koper gembelnya, dan seketika menghilang karena takut diuber si Gorila Babon lalu dilaporin ke satpam, kemudian diringkus aparat, dan berakhir di penjara internasional dengan titel penjahat kelas kakap yang makan gak beresin lagi bekas makanannya mengucap terimakasih. 



Saya, Ichad, Mike yang tak peduli lagi Rizwan kemana
Kejadian naas saat kekamfretan itu terjadi, bisa diliat di video ini.




Nah guys, Berbekal pengalaman tersebut, hikmah yang bisa diambil adalah :
DON’T JUDGE A BOOK BY THE COVER yang artinya adalah JANGAN BELI BUKU KALO GAK ADA COVERNYA.
Pukul 12.00, gak kerasa udah saatnya terbang lagi aja nih kita. Bye Malaysia, bye Kuala Lumpur, bye Popeye Lousiana Kitchen, bye Pangeran Damar Wulan berwujud Lutung Kasarung.




bye Pangeran Damar Wulan berwujud Lutung Kasarung

Nb:
O ya satu lagi, jadi ternyata setelah saya cari tau, usut punya usut, ternyata si Popeye Lousiana Kitchen itu emang gak menerapkan sistem SELF SERVICE alias dari mulai ambil makan sampe beres sampe buangin bekas makan ke tempatnya sampe bersihin tempatnya itu dikerjakan sama masing-masing costumer. Yang kami lihat waktu itu ada bule habis makan terus langsung bersiin sama beresin lagi bekas makannya mah emang dasarnya aja si bule itu mantan Pembantu Rumah Tangga  di Arab udah biasa menerapkan kebiasaan di negaranya. SALUT YANG BERAKHIR LEGA.



Lega gak jadi buronan polisi internasional dengan titel penjahat kelas kakap yang makan gak beresin lagi bekas makanannya. OMAIGAT.


to be continue ya ceritanya, mamangnya mau lanjut ngerjain kewajiban lembur kantor yang sesungguhnya dulu.


writes by   : ananuranita (dunia-si-ana.blogspot.com)
photos by : mikeelfia

Thursday, May 5, 2016

8 Kota, 5 Negara, 2 Milyar Raib



www.dunia-si-ana.blogspot.com

Diawali dari traveling Saya dan 7 sahabat Saya sejak taun 2012 silam ke Malaysia, Singapore, dan Thailand, sejak saat itu, setidaknya tiap tahun sekali menjadi  agenda wajib bagi kami untuk merencanakan perjalanan go internernational (jiga lomba nyanyi wae). Hampir tiap tahun selalu ada saja destinasi negara yang menjadi tujuan kami, ya meskipun baru hanya seputaran sesama Negara Melayu dan sekitarnya.  

Taun 2016 ini, kami sudah membidik dua negara sekaligus untuk tujuan traveling kami. Seperti biasanya, perencanaan selalu dimulai minimal 1 tahun sebelum keberangkatan. Supaya apa? Supaya kami dapat tiket promo pesawat yang murmer. HIHIHIHI.  Dari agustus 2015, jatuhlah pilihan destinasi kami kepada VIETNAM dan THAILAND. Alasannya karena apa? Karena promo tiket pesawat yang didapat pada saat itu adalah tujuan Ho Chi Minh City, Vietnam. Haahahahaaa maaf ya kami bukan traveller dengan tingkat idealis yang tinggi yang punya visi misi tertentu mengunjungi suatu negara. Yang penting cap di passport penuh, pungkas salah satu dari kami, maksudnya Saya.


www.dunia-si-ana.blogspot.com

 Nah kalo alasan satu lagi, kenapa Thailand? Padahal kan udah pernah kesana. Iya udah pernah kesana, ke Thailand, tapi Cuma ke Phuket, Bangkok sama Pattaya nya kan belum. Mangkanye nih sekalian aja mumpung lewat.

Okei  Ane paham gan. Pertanyaan Selanjutnya, apa korelasinya traveling dua negara ente dengan judul postingan yang ente tulis 8 KOTA 5 NEGARA  2 MILYAR RAIB?? 

Good question. Korelasinya adalah ya emang faktanya kayak gitu sih. Okelah biar lebih jelas dan terbuka, Saya akan jabarkan yang dimaksud 8 KOTA 5 NEGARA  2 MILYAR RAIB itu maksudnya kek mana? apa aja ? gimana bisa ? masa ? bodooooooo.


Penjelasannya mana?

Tunggu postingan selanjutnya ya plisssss ini mah plissssss  (muka super ngarep biar banyak yang penasaran padahal semua orang muak).
Besok besok deh dilanjut postingannya, sekarang Saya mau lanjut lembur dulu, lembur buat traveling menyambung tujuan hidup yang haqiqi.

Yang jelas, perjalanan Saya dan para partner (kali ini ber-4 saja) yang menamakan dirinya Lazy Traveling adalah perjalanan yang ibarat Nano-nano, dia mengandung bermacam rasa asam asin dan gaada manisnya.

4 Lazy Traveller

Thursday, April 16, 2015

Singapore Trip Part II (Episode 2)

Supaya nyambung, mending baca yang Episode 1 nya dulu Singapore Trip Part 2 (Episode 1)
Nah kalo yang itu udah hatam, baru deh baca yang ini.

The Lazy Traveller
Day-2 :  Berkesempatan Mengunjungi Salah Satu Jembatan Pejalan Kaki Terindah Didunia

Jumat, 30 Januari 2013. Setelah melakukan aktivitas yang panjang dan menyenangkan seharian kemarin, mulai dari touchdown di Changi Airport, menuju hostel di Chinatown, memulai perjalanan menuju Santosa Island, menikmati berbagai wahana dari mulai yang biasa saja sampai yg absurd sekalipun, panas-panasan, naik MRT, jalan kaki sampai kaki lecet, bungkus makan ke hostel, mandi di kamar berukuran minim, gani baju, ganti celana, ganti daleman (ban dalem kali ah), selonjoran di kasur, sampai mata pun ikut selonjoran deh akhirnya. Bye yesterday, hari ini dapat dipastikan bahwa kami akan lebih semangat dari hari kemarin, karena inilah cara kami menikmati hidup..! this is my Rule Meeen....-Welcome to My Life-  (langsung nyanyi ala Simple Plan keselek kresek)


08:00. Sebenarnya ini terang-terangan memperlihatkan ke-lazy traveller-an kami. Barangkari lupa, kami disini terdiri dari Geng Guee (Saya, Icad, Massa, Dhika, Mba Ian) dan Ridha Cees (Ridha, Nizar, Mba Niar, dan Rapi), sedangkan sisanya (Mike, Teguh, Rizwan, Wulan) lagi sibuk menjadi gembel kece di Malaysia.

Jika biasanya seorang traveller selalu bersemangat bangun pagi karena ada banyak tempat yang ingin dia kunjungi, nah justru berbeda dengan kami yang begitu susah bangun pagi, membuka selimut, bangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi, dan langsung menghampiri sarapan pagi.  Inilah kenapa kami disebut Lazy Traveller. Butuh waktu berjam-jam untuk membuat kami sadar total bahwa ini bukan bangun tidur seperti akhir pekan – akhir pekan biasanya, malas bangun karena takut disuruh beres-beres rumah sama mamah, atau malas bangun karena semalaman begadang ngeboyong kerjaan kantor ke rumah, atau malas bangun karena balas dendam tiap hari harus bangun pagi biar ga telat kuliah. Bukan bukan woooyyy,, ini bukan weekend biasa, sadarrrr wooyyy,, ini bakal jadi salah-satu weekend terseru kamu..!!! eh gila beneran dong ini Saya lagi liburan. Dan atas kesadaran diri saya yang paling dalam, Saya pun bangun, buka jendela, melirik pemandangan pagi di sepanjang Pagoda Street yang penuh dengan lampion dan dekorasi serba merah, menikmatinya dengan damai, lalu tidur lagi. Kampret ini belek di mata lengket banget susah kebuka.

Di halaman yang berfungsi sebagai dapur, tersedia satu set kompor gas (gas apa listrik sih lupa ), ada kulkas, mikrowafe, lemari gantung, dispenser segala isi (tinggal pencet mau kopi, milo, capuccino, latte, atau Cuma air putih) rak piring, wastafel yang diletakkan berdekatan dan sejajar dengan pintu. Sekitar 1 meter di seberangnya ada sebuah meja persegi tanpa taplak, diatasnya penuh dengan hidangan pagi seperti roti lengkap dengan pemanggangnya, sereal, selai, gula, susu, margarin, garpu, pisau, gunting, obeng, baud, paku, palu, kunci inggris, amplas (sekalian aja buka bengkel reparasi otak).

Satu persatu dari kami mulai duduk di bangku kosong (itu judul pelm hantu woooy) dan mulai menyantap segala macem yang tersedia di meja, termasuk perkakas-perkakas bengkel tadi. Ada sekitar 5 set meja dan kursi kayu disana.

Satu lagi, wc nya. Wc berdimensi sekitar 1x1x1 m (kandang marmut kali ah) menjadi tujuan kami selanjutnya setelah sarapan. Ya, buang hajat, buang tisyu, buang sabun, buang aer, dan buang-buang waktu pastinya.

10:30. Kali ini tujuan jalan-jalan kami adalah Henderson Waves Bridge. Apakah itu Henderson Waves Bridge?? (yaelah dari judulnya aja udah ketauan kalo itu tuh jembatan). Kita lihat nanti deh, pokoknya dari hostel ini, kami menuju ke stasiun MRT yang ada di Chinatown menuju arah Telok Blangah.

11:00. Berhenti di stasiun Telok Blangah, selanjutnya kami berjalan kaki sekitar 1 km menuju halte bis, ada bis cantik yang akan membawa kami ke Henderson Waves. Nah di bis ini, kamu tidak perlu repot-repot mengeluarkan koin SGD kamu, cukup menempelkan EZ Card kamu saja (ada saldonya tapi yesss, sekali lagi –ADA SALDONYA-).


Perjalanan dari Telok Blangah menuju Halte Bis via Henderson Road

Hanya dalam waktu 10 menit saja, kita sudah dapat turun dari bis. Jangan lupa tempelkan kembali EZ Card kamu ke alat sensor di pinggir pintu keluar, soalnya kalo engga, kamu dianggap tidak membayar, dan kamu akan dikenakan denda yang langsung dipotong dari saldo EZ Card kamu. Entah berapa dendanya, tapi yang pasti malu-maluin deh, soalnya di EZ Card kamu nantinya akan ada catatan khusus, nah kalo keseringan itu bisa jadi catatan kriminal lho. Makannya dikasih tau dari sekarang nih biar ga lupa, biar ga ngelakuin kesalahan yang sama kaya temen Saya, bukan temen sih sebenernya, tapi Saya sendiri wakakakakkk (yah namanya juga manusia, tidak luput dari Khilaf dan Bego).


Ini yang Saya Maksud Bis Cantik via Henderson Road, banyak tiangnya, lumayan buat gelantungan

11:10. Henderson Waves Bridge, sebuah jembatan khusus pejalan kaki yang disebut-sebut merupakan salah satu jembatan terindah di dunia. Menurut sumber yang dilansir dari  http://travelawan.com/blog-travel/henderson-waves-sebuah-jembatan-cantik-di-singapura.html,  jembatan ini memiliki tinggi lebih dari 60 meter di atas permukaan laut dengan panjang sekitar 274 meter, jembatan ini menghubungkan Mount Faber Park dengan Telok Blangah Hill Park. Merupakan hasil desain dari IJP Corporation, London dan RSP Architects Planners and Engineers (PTE) ltd., Singapura. Diresmikan oleh Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 10 Mei 2008.

Nah tadi kan kita udah turun dari bis nih, yaudah deh jembatan Henderson tepat berada di atas kita. Di langit??  Bukan lahhhhh,, ya sekitar 40 meteran lah dari permukaan Henderson Road. Lah terus gimana caranya keatas dong? Ya naek tangga lah begoooo.

Dari halte pemberhentian Henderson Road, kamu tinggal menyebrangi jalan, lalu menaiki puluhan anak tangga yang tersedia disana, kemudian kamu akan menemukan 3 percabangan jalan (entah kemana aja skip), pokoknya ambil percabangan ke kiri, lurus dan sedikit menanjak, terus belok ke kiri lagi, maka kamu pun akan melihat tulisan besar yang nemplok di dinding “Henderson Waves”. Ini nih penampakannya:




Tuh ada plang ke arah Henderson Waves

Yang ini baca aja sendiri

View Henderson Waves dari Bawah

Tukang bersih-bersih kebun di Henderson Waves

Sejarah dan Penjelasan Proses Kontruksi Henderson Waves

Penampakan  Pelat Lantai Henderson Waves Pelat 

Penampakan Sepasang Sepatu di Henderson Waves

Penampakan Henderson Road dari atas Henderson Waves

Penampakan 5 orang Tim Super Rusuh di Henderson Waves
(Kiri: Dhika, Ichad, Mba Ian, Massa, Ana)

Benar memang, bentuk jembatan ini unik juga. Rangka baja yang merupakan bagian struktur utamanya didesain melengkung beraturan ke arah vertikal membentuk liukan seperti ombak (apa ular ya?, atau lele..?). Jika gelagar memanjang, melintang, bracing, dan main structure menggunakan rangka baja sebagai materialnya, maka berbeda dengan pelat lantai dan art structure-nya yang memilih kayu sebagai material yang digunakan. Warna dan pola serat kayu yang cenderung artistik menjadi pilihan tepat dalam mendesain jembatan pedestrian ini. Tidak hanya pelatnya saja, bahkan sang insinyur (ga mau bilang ini buatan arsitek) membuatkan undakan sebagai tempat bersantai para pengunjung dengan kayu-kayu cantik yang meliuk-liuk keatas sampe ke awan sampe ke langit ke-7 (lu pikir ini peristiwa isra mi’raj).

Malem hari, itu waktu yang paling bagus ngeliat jembatan ini. Ada lampu kuning menyala-nyala membalut seluruh lekukan jembatan. Tadinya kami berniat kesini lagi sih malamnya, cuma nyatanya hanya sekedar fiktif belaka. Ini nih penampakan Henderson Waves di malam hari yang Saya comot dari google.


http://www.worldtoptop.com/wp-content/uploads/2011/05/henderson_waves_bridge_2.jpg

http://nexttriptourism.com/henderson-waves-bridge-suitable-for-roads-in-singapore-1/images-henderson-waves-bridge-suitable-for-roads-in-singapore/

Aduh ga akan beres dikupas di bab ini doang deh kalo soal detail dan struktural jembatannya (Secara kerjaan ane ngitung2 jembatan gan, ngitung berapa banyak maksudnya..). Skip deh,, intinya kami pun puas jalan-jalan, lari, jungkir jumpalik meng-eksplore jembatan ini.  Saking enjoynya banget banget, sampe setengah sadar kalo ini tuh jumat lho (sekali lagi – JUMAT- Jumataaaan Wooooyyyyy). #buruburunyarimesjid #langsungsolattobatdimall

13:00. Laper meeen. Akhirnya kami memutuskan untuk menjajaki kuliner Singapura di Vivo Mall. Kamu tau makanan apa yang kami pesan? Nasi padang. Hahahaha jauh-jauh kesini ketemunya Rendang Saiyo juga, cuma yang jualnya bukan si Uda atau Uni, tapi emaknya si Upin Ipin.


Padang lagi Padang lagi
14:00. Tuntas menyalurkan hasrat tak terbendung, kami pun (oh iya lupa bilang, kami di Henderson udah beda sama kami disini, karena ternyata Ridha and the gank memutuskan bercerai dengan Saya dan yang lain), mereka lebih memilih menghambur-hamburkan uang mereka di Orchard daripada berbaur dengan alam bersama Saya, Ichad, Massa, Dhika, dan Mba Ian.  Jadi yang sekarang kami (ingat! Saya, Ichad, Massa, Dhika, dan Mba Ian) lakukan adalah pergi meluncur menuju Botanical Garden. Hanya sekali saja naik MRT ke arah Botanical Garden, kamu sudah akan tiba di taman hijau (lebih hijau taman safari sih) nan sejuk (sumpah panas banget) nya Singapura. Tapi bagusnya taman disini tuh emang tertata banget, bersih banget, dan terawat banget pastinya. Taman disini terbagi kedalam blok-blok berdasarkan fungsi dan habitatnya, ada blok tanaman dan pepohonan yang dilindungi, ada blok bunga-bunga warna warni, ada danau luas yang dihuni para angsa dan ikan-ikan, ada rumput hijau yang banyak disinggahi ratusan merpati, ada saung-saung dan bangku-bangku yang diperuntukan buat para pengunjung, ada juga kandang-kandang kosong yang diperuntukan buat kami, lhooo?..


Penampakan plang petunjuk arah Botanical Garden

Pose Saya berfoto di samping plang petunjuk arah Botanical Garden

Pose Saya memeluk plang petunjuk arah Botanical Garden memakai sendal capit (setelah kaki lecet karena salah pake sepatu)

Pose Saya berpura-pura menikmati hamparan rumput di  Botanical Garden 

Penampakan danau di Botanical Garden

Dua jam menjadi tidak terasa karena kami disana hanya duduk-duduk di bawah  pohon di bibir danau, lalu tidur.


Penampakan Tim Rusuh sebelum skip tidur depan danau

16:00. Rasanya perjalanan di hari yang cerah untuk jiwa yang tenang ini sekian. Saatnya kami berpulang dulu ke hostel untuk mandi, rehat, meluruskan kaki, meluruskan jalan dan bertobat. Okay, berangkatlah kami ke Pagoda Street.

16:30. Ngebangke. Skip.

19:00. Saya tiba-tiba tersadar sudah tidak berbusana, Saya kaget dan lalu terperanjat, apa yang telah Saya lakukaaaaaan??.. oh ternyata Saya sedang mandi (Lega, loncat-loncat, terus gelantungan di tiang shower). Semales-malesnya kami, tapi kami masih punya semangat 45 kok buat berburu belanjaan (yaelaaaaa, giliran belanja aja semangat banget).  Setelah kami bersiap-siap, berangkatlah kami menuju Orchard, sebuah pusat peradaban super modern-nya  Singapore (Ya ga beda jauh sama Pasar Baru atau Tanah Abang lah yah). Pusatnya Barang-barang branded, maka tak heran bila Orchard ini menjadi destinasi utama para shopaholic yang berkunjung ke Singapore.


Plang Orchard Road

Tugu Orchard Road

Begitupun dengan kami, semangat berburu, melihat-lihat, mencari-cari barang-barang mahal yang kami inginkan, kemudian hanya mampu berfoto saja (itu pun di depan tokonya). Eh bukan karena kami ga bisa beli lho, tapi kalo namanya backpacker sejati sihh haram beli yang begituan (ngelessss mulu sih bisanya). Kami kesini sebenarnya sih Cuma punya 1 tujuan mulia, yaitu mencicipi es krim 1 dolar, meskipun sihh sebenarnya di Bandung juga udah banyak, Orchard Ice Cream namanya. Ahhh peduli amat, pokoknya dulu pas dua tahun lalu kesini nyicipin es krim itu enak bangeett, trus mau mengenang lagi kenikmatan es krim itu lagi. Udah itu doang. Titik.


Es krim ternikmat sedunia

Oh iya, di sela-sela pencarian es krim ternikmat sedunia, kami pun sempat mampir ke sebuah toko sepatu laris manis murah meriah di Orchrad, katanya sih sepatu ini lagi booming banget di dunia per-instagraman Indonesia. Yaudah deh biar kekinian kaya kaula muda sosmed, Saya pun memilih dua pasang sporty flatshoes warna biru dan merah. Dua sepatu yang Saya beli dibandroli SGD$30, sedangkan untuk flatshoes atau teplek biasa itu kamu bisa dapet 3 pasang dengan hanya  SGD$30. Hayo tebak apa merk sepatu nya??.

Cukup melelahkan sih sebenarnya, berjalan-jalan hampir 3 jam Cuma buat nyocol eksrim doang. Haha, sebenarnya yang bikin lama adalah di bagian pas milih-milih sepatu tadi, lamaa banget. Tapi itulah sih wanita, se-kumisan apapun, dia tetaplah wanita, punya naluri memilih dan menimbang yang tinggi. 

22:00. Back to hostel, dan ngisi perut di Mcd Chinatown dulu, rencananya. Dan rencana itu terlaksana oleh semua teman-teman, kecuali Saya, ada something stupid yang Saya lakukan disela-sela saat mereka sedang memesan burger di Mcd. Hingga akibatnya, akan muncullah sub judul baru dari cerita bersambung ini, “ LOST IN CHINATOWN”. Nah bagian memalukan itu akan Saya ceritakan di judul yang berbeda. On progress ya.


Pas lagi lost in Chinatown, sempet-sempetnya Saya ngambil gambar ini
Begini saja, karena Saya tak ada di tempat yang semestinya bersama mereka, jadi anggap saja jam 23.00 kami sudah ada di kasur masing-masing untuk bermimpi indah, kali ini bukan dengan Albert, tapi dengan emm... dengan... sebut saja Solehudin (aduh lupa namanya), penghuni baru kamar kami yang menempati tempat tidur Albert, ternyata dia masih sebangsa dengan Albert, kebetulan sekali, kemampuan berbaha Inggrisnya juga sama seperti Albert, mungkin mereka kembar. 


Ananuranita
Photo by : Dhika, Ichad, Ryan, Massa, Ana