Tuesday, December 2, 2014

Bukan Tentang Seberapa Gunung yang Pernah kita Daki

Jadi ceritanya rombongan traveller bernama AKS yang desember taun lalu (baca cerita ini : Pendakian Menuju Puncak Mahameru) melakukan perjalanan perdananya ke Semeru (AKS = Ayo Ke Semeru) ternyata ga kerasa udah mau setahun aja kita berkeliling bersama menjajakan diri di berbagai gunung dan pantai indah di Indonesia, mulai dari Gunung Semeru, Gunung Papandayan, Pantai Sawarna, Gunung Gede Pangrango, Gunung Merbabu, Malioboro dan Pantai Siung Gunungkidul, Gunung Manglayang, Gunung Rinjani, Gunung Ciremai , Gunung Guntur, Gunung Cikuray, Gunung Lawu, Pulau Semak Daun, Gung Prau, dan akhirnya Gunung Sumbing dan Sindoro (AKS = Ayo Ke Sindoro Sumbing) yang menjadi destinasi penutup travelling kita taun ini. 

http://mapala-cartens-jepara.blogspot.com/2011/12/asal-usul-sejarah-gunung-sindoro-dan.html


Aduh lumayan banyak juga yah kalo dilist gitu. Tapi gini men, intinya bukan seberapa banyak gunung atau tempat indah yang udah kita kunjungi, tapi justru apa hal-hal baru (yang bermanfaat tentunya) yang bisa kita dapatkan dari sebuah perjalanan. Mengenali keragaman negeri kita lebih banyak lagi, menyelami kebudayaan negeri kita lebih dalam lagi, mencintai lingkungan kita lebih banyak lagi, memperjuangkan apa yang ingin kita raih, dan tentunya menemukan sahabat sejati yang tak hanya bisa dibawa senang saja. Itu barangkali manfaat yang sudah saya, teman-teman seperjalanan saya, dan mudah-mudahan kalian juga, teman-teman yang belum sempat dipertemukan dengan saya untuk berkeliling Indonesia.

LAMPIRAN (udah kaya tugas akhir aja, pake lampiran). Dibawah ini adalah rundown  yang udah disusun Ketua Geng AKS (Cieee Ugun jadi ketua Geng) buat double Summit kita ke Sumbing dan Sindoro. Walaupun terkadang segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, tapi  kita sebagai manusia biasa (langsung play lagu Radja "Manusia Biasa")  apa salahnya membuat rencana perjalanan kita supaya lebih jelas, terorganisir, terarah, dan terprediksi  (dana nya T_T) sehingga bisa dipersiapkan dari jauh-jauh hari.


Rabu, 24 Desember 2014
17.00-18.00 Berkumpul di Terminal Cicaheum
18.00-05.00 Perjalanan Bandung-Wonosobo

Kamis, 25 Desember 2014
05.00-07.30 Istirahat, Shalat Shubuh, Cari Angkutan
07.30-08.00 Perjalanan Terminal-Desa Garung
08.00-10.00 Pendaftaran di Basecamp Garung, Repacking
10.00-17.00 Perjalanan Basecamp-Pos Pestan
17.00-18.00 Bangun Tenda, Beres-beres
18.00-20.00 Masak, Makan Malam
20.00-22.00 Acara Bebas
22.00-03.00 Tidur

Jumat, 26 Desember 2014
03.00-04.00 Persiapan Summit
04.00-05.30 Perjalanan ke Puncak
05.30-07.30 Sunrise dan Foto-foto di Puncak
07.30-08.30 Perjalanan ke Pestan
08.30-10.00 Masak, Makan Pagi
10.00-15.00 Perjalanan Pestan-Basecamp
15.00-16.00 Beres-beres
16.00-18.00 Perjalanan Desa Garung-Rumah Ita (salah satu personil AKS)
18.00-22.00 Beres-beres, Mandi, Istirahat
22.00-04.00 Tidur

Sabtu, 27 Desember 2014
04.00-07.00 Bangun, Sholat, Mandi, Sarapan
07.00-08.00 Persiapan Berangkat
08.00-09.00 Perjalanan Rumah Ita (salah satu personil AKS) -Desa Kledung
09.00-10.00 Pendaftaran di Basecamp Sindoro, Siap-siap
10.00-15.00 Perjalanan Basecamp-Pos 3
15.00-17.00 Bangun Tenda, Beres-beres
17.00-20.00 Masak, Sholat, Makan Malam
20.00-22.00 Acara Bebas
22.00-03.00 Tidur

Minggu, 28 Desember 2014
03.00-04.00 Persiapan Summit
04.00-06.00 Perjalanan ke Puncak
06.00-07.30 Sunrise dan Foto-foto di Puncak
07.30-09.00 Perjalanan ke Pos 3
09.00-11.00 Masak, Makan, Beres-beres
11.00-15.00 Perjalanan Pos 3-Basecamp
15.00-16.00 Perjalanan Basecamp-Terminal
16.00-18.00 Menunggu Bus
18.00-04.00 Perjalanan Wonosobo-Bandung


Tuesday, November 4, 2014

Man Jadda Wa Jada

Air mata ini rasanya ingin mengalir haru tiap kali mendengar kabar baik dari teman-teman yang berhasil meneruskan pendidikan ke negara orang, alhamdulillah, melihat orang-orang bisa meretas mimpinya, bukankah seharusnya ikut disyukuri. Ikut mensyukuri, mendoakan, dan mengamini, semoga kita pun diberi kemudahan seperti teman-teman kita.
Man Jadda Wa Jada. Sebuah ketetapan yang mengisyaratkan manusia bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum selama kaum tersebut tidak berusaha merubahnya sendiri. 
Yah, mungkin belum di tahun ini. Tapi yakin,  pasti ada rencana indah dibalik niat yang sungguh-sungguh. Doakan saya kawan, jikalau menurut orang ini hanya mimpi, perkenankanlah saya menjadikannya bukan hanya mimpi.


Tuesday, October 14, 2014

Cerita Singkat Bersama Pantai Siung dan Air Terjun Jogan


Pantai Siung dan Pantai Jogan. Adalah dua pantai yang berbeda namun masih satu kawasan di pesisir pantai daerah Gunung Kidul, Jogja. Pertama kali saya kesini, bersama teman-teman dari Bandung, tepatnya beberapa jam setelah turun Gunung Merbabu.

Rencana awalnya kami akan melakukan double summit Merbabu dan Merapi, bahkan sampai kami mendaki Merbabu pun kami masih berpikiran untuk meneruskan pendakian menuju Merapi. Namun rencana meneruskan pendakian ke Merapi tersebut mau tak mau harus kami pupuskan karena ternyata kami mendengar kabar bahwa pada waktu itu Merapi kembali Awas. Saya langsung membuka info di media elektronik dan benar memang, Pihak pengelola Gunung Merapi hanya memperbolehkan melakukan aktivitas pendakian sampai Pasar Bubrah saja. Akhirnya kami pun memutar ide untuk mencari tempat lain yang bisa kami kunjungi di sela-sela perjalanan kami ini.  Ternyata jatuhlah pilihan kami pada pada pantai-pantai di wilayah Gunung Kidul, alasannya sih iseng saja awalnya. Karena namanya ada Gunung-nya, yah seengganya gagal ke Gunung Merapi, Gunung Kidul pun bisa jadi pelipur hati.

Pukul 21.00 sabtu malam, Tanggal 3 Mei lalu, kami mulai memacu kecepatan menggunakan dua buah mobil yang kami sewa di daerah alun-alun Jogja, serba mendadak namun akhirnya dapat juga.  AAAhhhhhh ini bakal jadi perjalanan super random yang begitu menyenangkan pastinya. Ditemani  banyolan khas ala frekuensi FM radio Jogja, kami mengambil arah ke wilayah Kidul Jogja, lelucon dan gelak tawa sesekali memecah perjalanan yang semakin malam semakin sunyi dan jarang penghuni.
Pantai Indrayanti, awalnya menjadi tujuan utama destinasi kami kala itu, namun entah kenapa ketika Saya bangun, tiba-tiba Saya sudah berada di sebuah parkiran beralaskan pasir, mungkin lebih tepatnya bibir pantai. Saya tidak bisa melihat jelas apa yang ada di depan saya karena begitu pekat dan gelap. Saya hanya mendengar deburan ombak dan angin yang saling bertautan menjajaki gendang  telinga saya.  

Seseorang berteriak memanggil dan menyuruh Saya turun dari mobil, Saya pun membuka pintu mobil mengikuti teman-teman saya yang sudah terlebih dulu turun. Samar-samar, saya semakin bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depan mata saya. Ombak, pasir, air garam, tebing, dan karang.

“Wooaaaaaawww kita sampai di Indrayanti ini? “ // “Bukan-bukan, ini bukan Indrayanti” //” Beuuuhh terus apa apa dong ini??”// “Ya pantai lahhh masa gunung “//” Yaelah anak balita juga tau ini pantai, pantai apa maksudnyaaa..?”//” aaaahh  banyak nanya lu, yaudah sih mending cepet sini bantuin kita ngebangun tenda sama bikin perapian//”  -imajinasi.

Pantai Siung. SUMPAAAH Ini pantai emang kece badai.  Kalo biasanya di film-film barat romantis suka ada adengan:

 “Suatu malam di sebuah pantai indah di Surganya dunia, tersebutlah sepasang kekasih yang sedang menikmati malam bersama. Mereka mendirikan tenda diatas cekungan bibir pantai tersebut, tepat didepan tenda mereka terlihat hamparan luas pasir putih berbalut air laut, sesekali dikeroyok ombak lalu dibawa pergi. Disamping tenda, mereka berkumpul membentuk lingkaran kecil diantara hangatnya nyala api ungun. Dalam canda dan gelak tawa, mereka pun mulai menghempaskan diri menyentuh pasir-pasir yang kian berbisik. Mereka mulai menengadah menyapa langit dan tanpa sadar  milyaran bintang sudah menggantung menghiasi atap tidur mereka. Tak ada satupun bintang yang menyendiri, mereka berkumpul membentuk gugusan indah penuh makna dan cerita. Bahkan lebih takjub lagi, tidak sedikit dari bintang-bintang itu yang nampak seperti  jatuh menghujani orang-rang di bawahnya, seperti hujan bintang, atau hujan meteor, lebih jauh lagi hujan matahari yang berada 5 cm diatas mata, begitu dekat, namun tak sedikitpun panas. Sungguh malam yang begitu mendekatkan mereka dengan alam dan penciptanya, beralaskan pasir, beratapkan langit, berhiaskan bintang, bemandikan air laut. Di setiap untaian suka cita, terselip doa dan nyanyian. Lalu mereka pun berdoa lewat untaian nada berbalut ketulusan.  Begini bunyinya:

“Tetaplah bersamaku,”
“Jadi teman hidupku,”
“Berdua kita hadapi dunia,”
“Kau milikku Ku milikmu kita satukan tuju”
“Bersama arungi derasnya waktu....”


Tak terasa hari pun berganti, atap bintang tetiba berubah menjadi  lukisan langit biru tanpa batas.
Hari sudah siang, “Bangun-bangun heh..” seseorang membangunkan Saya.
Jadi semalam saya mimpi?? Tapi terasa nyata banget banget. Tidak-tidak, itu bukan mimpi!!  Semua alurnya persis saya alami ko, hanya saja tokoh utamanya yang berbeda. Bukan sepasang kekasih, melainkan sekumpulan teman.  Ada saksinya ko, ada rekaman pas kami lagi nyanyi-nyanyi bareng ko di ponsel saya, ups baru inget kalo data di ponselnya keformat ulang....siaaaal...

Ahhh terlalu panjang jika saya ceritakan lewat drama telenovela ini, intinya pantai Siung itu bagi saya seperti duplikasinya Phiphi Island di Phuket sana. Ada tebing tebing menjulang di bibir pantainya, ada karang berjejer membentuk lekukan indah menawan, ada pasir putih dengan lautnya yang biru, ada matahari yang malu-malu terbit dari balik tebing, ada kepiting dan aneka penghuni laut saling berlarian, ada bahagia dan rasa syukur tak terhingga disana, dibalik semua kenikmatan yang telah alam karuniakan di bumi nusantara ini.

Teng- tong,, dan siang pun mulai datang, akhirnya kami pun harus rela meninggalkan tempat indah, bersih, dan menawan ini.  Jam 12.00 kami harus sudah ada di Stasiun Kereta Lempuyangan untuk kembali ke Bandung. Lalu mobil yang kita tumpangi pun meluncur menuju satu tempat lagi yang hendak kami singgahi sebelum kami pulang.

Pantai Jogan. Menyusuri jalan beraspal, membelah kesunyian hutan. Selanjutnya kami berbelok menuju jalan agak sempit, dan terlihatlah sebuah air terjun mengalir indah diantara ukiran tebing-tebing menjulang tinggi. Air terjun ini mempertemukan air tawar dari balik perbukitan Gunung Kidul dengan air laut khas milik Samudra Hindia. Derasnya Air Terjun Jogan terdengar memekik bersautan dengan gulungan ombak Samudra Hindia. Sebuah sensasi lain yang belum saya rasakan sebelumnya di gunung manapun bahkan di pantai berpasir manapun.

Jam menunjukkan pukul 10.00, saatnya kami meninggalkan Gunung Kidul bersama segala kenangan singkat yang sempat kami dapat. Terakhir, mobil pun berlalu menyusuri jalan beraspal melewati perbukitan membelah pepohonan kering menuju pusat kota.











































Tuesday, August 19, 2014

Soe Hok Gie - Catatan Seorang Demonstran

Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.

Petualangan Mahameru AKS Team - Dewa 19 Mahameru Cover

Thursday, August 14, 2014

Seseorang pernah bilang begini,,



"Cowok yang sayang sama ceweknya, bukan cowok yang bawain backpack si cewek sepanjang perjalanan, itu mah namanya porter. Cowok yang sayang adalah cowok yang ngebiarin lo mandiri, namun tetap membantu ketika si cewek lelah"

-takdos
WHATEVER I'M BACKPACKER

Tuesday, August 5, 2014

Menelusuri Kenangan Masa Kecil di Sungai Cimanuk



Tak melulu mendaki ketinggian, kali ini justru saya menuruni ketinggian, menghampiri salah satu percabangan sungai terpanjang di Garut. Percabangan sungai itu menjadi pemisah antara beberapa kecamatan di bagian utara Garut, diantaranya Selaawi, Limbangan, dan Malangbong. 

Libur lebaran kemarin, Kamis 31 Juli 2014, saya ditemani saudara-saudara sebaya saya kembali turun bukit mengunjungi Sungai Cimanuk. Tempat dulu kami bermain disini, menyebrang menggunakan rakit, berlomba melajukan perahu-perahu-an berbahan sendal jepit dan bambu (dulu mungkin kami belum terlalu memngerti soal mengotori lingkungan) bermain bersama sampai basah kuyup, membuka bekal dan makan bersama diantara tumpukan bebatuan sambil menikmati sejuknya angin yang membelai kami. Sungguh mengasikkan sekali rasanya.  

Tidak terlalu banyak yang berubah saat terakhir dan pertama kali saya kesini, masih hijau, masih asri, masih terjal bukit yang harus dituruni, dan tebing itu ternyata masih tetap cantik. Sesaat kami memijaki tebing curam itu, menikmati pemandangan elok lekukan tubuh sungai, mendengarkan riakan air ditemani kacauan manja burung-burung, dan sedikit mengabadikannya di kamera saku.  Ternyata setelah hampir sekian tahun kami tidak mengunjunginya, tebing ini masih menjadi tempat favorit yang kami kunjungi saat kami merindukan cerita masa itu. 


Lalu kami pun melanjutkan langkah menapaki satu-satunya track yang harus kami turuni. Curam memang, tapi menyenangkan. Ana.



Hamparan madi yang mulai menguning, kalo kata orang sini "geus meujeuhna alaeun"


Karena tak ada namanya, maka kami sebut ini "Tebing Cimanuk"






Beberapa pose saya saat menikmati Pemandangan dari Tebing Cimanuk




Inilah percabangan Sungai Cimanuk. 


Aiiihhh suka banget langitnya


Perjalanan menyusuri sungai ke arah hulu

Bibir sungai yang saya pijaki berada di Kecamatan Selaawi,  jika kita seberangi sungai ini maka kita akan sampai di Kecamatan Malangbong, sedangkan jika kita menelusurinya mengikuti hulu sungai, maka kita akan melewati Kecamatan Limbangan bertemu dengan Jembatan Cipancar.


Bebatuan di bibir Sungai Cimanuk


Akhirnya keluar juga pose andalan saya


Saat pulang menanjak menaiki bukit


Tengah hari saat perjalanan pulang, pohon dan matahari diatas Tebing Cimanuk


Saya (tengah) dan dua sodara sepupu saya (ki:Teddy, ka:Marwan)


Saya dan sodara sepupu saya



Ini bukan soal manja, takut panas, atau gak mau item


Photo by: Teddy, Marwan, Ana