Showing posts with label selaawi. Show all posts
Showing posts with label selaawi. Show all posts

Monday, December 29, 2014

Gunung Tempatku Bermain Ketika Itu



Terkadang kita melupakan hal-hal kecil  yang berada lebih dekat dengan kita. Misalnya saja ini, foto diatas maksudnya. Ini adalah pemandangan yang bisa dinikmati dari belakang rumah Saya, dan Saya baru menyadarinya sekarang.

Namanya Gunung Palasari, saya tidak tahu persis berapa ketinggian gunung ini, sepertinya tidak sampai 1800 mdpl, gunung ini juga bukan gunung yang sewaktu-waktu bisa meletus, karena ini sebenarnya terdiri dari gundukan bukit-bukit yang  ditanami berbagai tanaman oleh warga sekitar kaki gunung. Bahkan sewaktu SD dulu saya beberapa kali ikut Uwa saya memanen jagung, kacamg, dan umbi-umbian di Gunung ini. 

Wa Acah  adalah kakak Bapa Saya yang tinggal di kaki Gunung Palasari, Baeud nama desanya.  Pada hari-hari libur sekolah, biasanya saya dan beberapa sepupu saya menghabiskan liburan kami disana, untuk sekedar berkunjung, bermain-main, bahkan sesekali ikut membantu memanen hasil kebun. Kami sangat kegirangan ketika itu.

Tempatku bermain ketika itu, tak ada permainan lewat gatget, tak ada obrolan lewat chat bbm, tak ada pamer status lewat facebook, tak ada kesibukan upload foto lewat instagram, tak ada share location lewat path. Hanya sebuah ingatan kegembiraan anak-anak desa di kaki gunung, dan sekarang saya menuliskannya lewat ini.  


Badriana Nuranita
28 Desember 2014



Tuesday, August 5, 2014

Menelusuri Kenangan Masa Kecil di Sungai Cimanuk



Tak melulu mendaki ketinggian, kali ini justru saya menuruni ketinggian, menghampiri salah satu percabangan sungai terpanjang di Garut. Percabangan sungai itu menjadi pemisah antara beberapa kecamatan di bagian utara Garut, diantaranya Selaawi, Limbangan, dan Malangbong. 

Libur lebaran kemarin, Kamis 31 Juli 2014, saya ditemani saudara-saudara sebaya saya kembali turun bukit mengunjungi Sungai Cimanuk. Tempat dulu kami bermain disini, menyebrang menggunakan rakit, berlomba melajukan perahu-perahu-an berbahan sendal jepit dan bambu (dulu mungkin kami belum terlalu memngerti soal mengotori lingkungan) bermain bersama sampai basah kuyup, membuka bekal dan makan bersama diantara tumpukan bebatuan sambil menikmati sejuknya angin yang membelai kami. Sungguh mengasikkan sekali rasanya.  

Tidak terlalu banyak yang berubah saat terakhir dan pertama kali saya kesini, masih hijau, masih asri, masih terjal bukit yang harus dituruni, dan tebing itu ternyata masih tetap cantik. Sesaat kami memijaki tebing curam itu, menikmati pemandangan elok lekukan tubuh sungai, mendengarkan riakan air ditemani kacauan manja burung-burung, dan sedikit mengabadikannya di kamera saku.  Ternyata setelah hampir sekian tahun kami tidak mengunjunginya, tebing ini masih menjadi tempat favorit yang kami kunjungi saat kami merindukan cerita masa itu. 


Lalu kami pun melanjutkan langkah menapaki satu-satunya track yang harus kami turuni. Curam memang, tapi menyenangkan. Ana.



Hamparan madi yang mulai menguning, kalo kata orang sini "geus meujeuhna alaeun"


Karena tak ada namanya, maka kami sebut ini "Tebing Cimanuk"






Beberapa pose saya saat menikmati Pemandangan dari Tebing Cimanuk




Inilah percabangan Sungai Cimanuk. 


Aiiihhh suka banget langitnya


Perjalanan menyusuri sungai ke arah hulu

Bibir sungai yang saya pijaki berada di Kecamatan Selaawi,  jika kita seberangi sungai ini maka kita akan sampai di Kecamatan Malangbong, sedangkan jika kita menelusurinya mengikuti hulu sungai, maka kita akan melewati Kecamatan Limbangan bertemu dengan Jembatan Cipancar.


Bebatuan di bibir Sungai Cimanuk


Akhirnya keluar juga pose andalan saya


Saat pulang menanjak menaiki bukit


Tengah hari saat perjalanan pulang, pohon dan matahari diatas Tebing Cimanuk


Saya (tengah) dan dua sodara sepupu saya (ki:Teddy, ka:Marwan)


Saya dan sodara sepupu saya



Ini bukan soal manja, takut panas, atau gak mau item


Photo by: Teddy, Marwan, Ana