Tuesday, August 9, 2016

HO CHI MINH CITY, INI VIETNAM APA PERANCIS SIH?


Kali ini Saya akan melanjutkan cerita perjalanan Saya yang melibatkan 8 kota di  5 negara Asean bersama 3 orang partner gila bernama Mike, Rizwan, dan Ichad.  Saya ulangi lagi kalo rute kota yang kita singgahi adalah Bandung – Purwakarta - Tangerang – Kuala Lumpur – Ho Chi Minh – Mui Ne – Bangkok – Pattaya – Bangkok – Singapore - Tangerang – Bandung

Setelah pekan lalu saya bercerita tentang pengalaman unik kami ketika transit di Kuala Lumpur di cerita "Dari Bandung Sampe Kuala Lumpur, Dari Sini Semua Kebodohan Dimulai", sekarang saatnya Saya menceritakan perjalanan utama di kota ke-4 yang kami singgahi. TOUCHDOWN HO CHI MINH CITY AND WELCOME THE FRENCH OF ASIA.

Foto yang Saya ambil ketika Landing di Tan Son Nhat Airport
4. Ho Chi Minh City, Ini Vietnama Apa Perancis Sih..?

Pukul 12.55 masih di tanggal 20 April 2016, pesawat kami landing di Bandara Internasional Ho Chi Minh City, Tan Son Nhat Airport. Yeayyyy touchdown Saigon, eh Saigon apa Vietnam ya? Duhhh biar gak salah mending simak dulu sebait prolog sejarah berikut ini.

Hostel dimana kami menginap

Jadi menurut cerita yang beredar di buku-buku sejarah anak sekolah maupun mbah WIKI, kota Ho Chi Minh yang kini merupakan kota termetropolitan di Vietnam (dahulu terbagi dua, Vietnam Selatan dengan Saigon sebagai ibu kota, sedangkan di bagian utara Vietnam tersebutlah kota Hanoi sebagai urat nadi nya) dulunya bernama Saigon.  Dulu nya kapan? Ya dari dulu aja sampe sekitar abad ke-19an. Setelah ditaklukan kolonialisme Perancis pada 1859, peradaban kota Ho Chi Minh selama pendudukan mereka atas Vietnam  banyak dipengaruhi oleh gaya-gaya bangunan klasik dan tata ruang kota khas eropa. Itulah kenapa kota ini dijuluki Paris di Timur.

Sampai akhirnya kekuasaan Vietnam Selatan diambil alih oleh Tentara Rakyat Vietnam pada 30 April 1975 sebagai akibat dari perang Vietnam. Selanjutnya pada 1 Mei 1975, nama Saigon diganti oleh pemerintah komunis yang berkuasa saat itu menjadi Ho Chi Minh City  yang berasal dari nama samaran pemimpin mereka. Di Perancis, dikenal dengan Ho Chi Minh Ville Atau Kota Ho Chi Minh.

Independence Palace, salah satu tempat bersejarah di Ho Chi Minh

Nah begitu kira-kira sejarah singkat nama Ho Chi Minh beserta asal-usulnya. Oke, sekian cerita kali ini, minggu depan Ibu Guru akan menjadwalkan QUIS ya, jangan lupa belajar yang rajin dan minum serebrovit grow. :D 

KAMFREETTTT, mana cerita perjalanannya WOOOYYY, MANAAAAA....!!!!!!

Astagfirullahaladzim kumprat kampret kumprat kampret, gak boleh tau ngomong gitu. Tuhan itu bersama orang yang sabar. kemudian gelar pengajian, dilanjut bagi-bagi nasi berkat.


Dan bersambung...
Nanti abis lonceng tanda jam kerja berakhir dilanjut lagi ya ceritanya MUIHIHIHIHIHIIIII..









written by : ananuranita
photos by : mikeelfia





Thursday, August 4, 2016

Dari Bandung Sampe Kuala Lumpur, Dari Sini Semua Kebodohan Dimulai

Sebelum baca cerita ini, biar sambung menyambung menjadi satu, ada baiknya baca dulu awal mulai kenapa cerita ini terjadi disini nih, KLIK : 8 Kota, 5 Negara, 2 Milyar Raib


Jadi, traveling seputaran ASEAN Saya kali ini masih bersama partner-partner sejati Saya seperti negara-negara sebelumnya. Namun kali ini cukup ber-4 saja, Saya, Mike, Rizwan, dan Ichad, sisanya banyak yang pada berhalangan, ada berhalangan waktu cuti, berhalangan duitnya, berhalangan gegara ada acara urgent, berhalangan karena lagi halangan, sampe berhalangan karena dihalang-halangin (yakale mau perang dihalang-halangin). Tapi tetep sih, ber-4 juga kayaknya berasa se-RT, karena perjalanan Saya dibarengi oleh duo sejoli GILA asal Sumatera Jawa yang rusuh minta ampun.

Baik, kita mulai dari rute. Rute nya adalah Bandung dan Purwakarta - Tangerang – Kuala Lumpur – Ho Chi Minh – Mui Ne – Bangkok – Pattaya – Bangkok – Singapore - Tangerang - Bandung, perjalanan yang melibatkan 8 kota di  5 negara di sepanjang destinasi nya. Mari kita kupas satu persatu.

1 Butir A.  Bandung, The Start Point City
Et dahhhh udah kayak bunyi UUD 45 aja ada butir-butirnya.

Rabu, 20 April 2016. Kami memulai perjalanan tepat jam 01.00 dini hari menggunakan bis Primajasa dengan harga tiket 140.000 IDR /orang. Oh ya, kami disini adalah Saya dan Icad saja, sedangkan dua lagi berangkat dari Purwakarta. Udah sih di Bandung nya Cuma gitu aja, kan biar banyak aja gitu list kota yang kami singgahinya, wkwkwk.

1 Butir B. Puwakarta Istimewa, punya nya Kang Dedi Mulyadi
Beuh naha jig-jig mamawa Purwakarta jeung bupatina? Teunanaon atuh, supaya ikut jadi topik yang banyak dicari orang di mesin pencarian dengan hasil sekitar 20.700 pencarian tiap 0,48 detiknya. Nih ane kasih buktinya gan.

Ngomong noh sama dengkul gueeee...!!!

Tenang-tenang gan. Maksudnya adalah selain Bandung sebagai tempat starting point kami, nah satu orang dari kami ternyata merupakan putra daerah Purwakarta yang diutus Wa Enung sama Mang Atam untuk ikut berjelajah ke luar negeri.  
"Siapa lagi itu Wa Enung sama Mang Atam WOOOOOOYYYY...?"
"Ah sudahlah".
Pokoknya kesimpulannya adalah, Saya dan Ichad meluncur langsung  dari Bandung ke Tangerang, sedangkan si Kemmy yang kena sial karena harus nyamper dulu si Rizwan dari Bandung ke Purwakarta untuk kemudian ketemu Saya dan Ichad di Tangerang.

2.  Tangerang, It’s Time to Fly
Tiba di Soekarno Hatta Airport – Tangerang pukul 04.30 waktu setempat. kami melanjutkan dengan check in penerbangan kami tujuan Tan Son Nhat Airport via Kuala Lumpur. Pukul 06.25 merupakan jadwal take off pesawat tercinta yang Saya tumpangi dengan hanya 639.500 IDR. Mayan Murah kaaaaan? Iyalah, maskapai ter-low cost apalagi kalo bukan AIRASIA.

Penampakan Rizwan saking antusias banget mau naek pesawat

     3.  Kuala Lumpur, Oh Nooooo The Stupidman Leaves His Bag
09.25 waktu setempat, dan inilah saatnya kami transit. Ada waktu sekitar 2,5 jam buat ngubek-ngubek kota ini sebelum nanti kami terbang lagi pukul 12.00.  Awalnya mikir gitu, lumayan lama kan 2,5 jam dan bakal berasa banget boringnya kalo kami cuma diem-diem aja. Akhirnya salah satu dari kami punya ide briliant untuk mencegah keboringan kami,
 “Yuk kita keluar aja dulu, cari makan di luar biar lebih murah, trus jalan2 aja dulu sekitaran luar bandara, yang jelas jangan di bandara nya aja." 
“Oke Deal”
sampe KL cuy, foto dulu dong


Eh ternyata ada satu hal kecil tapi penting yang luput dari perencanaan matang-matang perjalanan kami. DUIT MALAYSIA ALIAS RINGGIT ALIAS RM ALIAS RUMAH MAKAN EH MAKSUDNYA RINGGIT MALAYSIA ATAU POPULER DENGAN SEBUTAN MALAYSIA RINGGIT  MYR.
“Cuy, gue lupa gak bawa ringgit.”
“Iye sama gue juga, nih adanya sisa-sisa taun taun lalu”
“Apaan tinggal receh-receh gitu, mana cukup buat makan kita, di gue ada 10 ringgit nih.”
“Yaudah, Gue narik aja dulu dari CIMB gue”, ujar Saya. 
Lalu kami bergegas menuju mesin ATM CIMB yang berkeliaran disana. Tapi pas Saya mau menuju mesin ATM, si Kampret Rizwan tiba-tiba bilang kalo dia ternyata punya Ringgit banyak yang cukup buat makan kami berempat. Ah tapi, melihat dari track record dia yang hobinya nge-eek-banteng alias nge-BULL-SHIT ini bau-banya pasti dia becanda doang. Kami minta kasih liat duitnya, eh malah gak diliatin, malah sambil cengengesan bilang ih pokonya ada aja. Kan ini pasti kebohongan semataaaaa.

Bye, kami bertiga memutuskan untuk gak percaya sama dia, finally Saya terus aja jalan menuju mesin ATM, membuka dompet kemudian mengambil kartu ATM. Ehhhhh pas Saya udah tinggal nempelin si kartu ATM ke mesinnya, bener dong tiba-tiba dia keluarin selembar uang pecahan 50 RINGGIT sambil ketawa ketiwi kayak orang sableng. Emang sialan nih si Kamfret, kalo bukan karena emaknya yang baik banget, udah kita karungin terus dilempar ke Laut Merah juga ini anak.

Terimakasih Rizwan, sudah menyelamatkan nyawa kami di negeri orang. Berbekal 50 MYR atau sekitar 160 ribu-an, ditambah receh-receh yang terkumpul, berangkatlah kami berburu Pokemon Go nyari pintu keluar Airport. Kami berkeliling, mengikuti petunjuk, berputar-putar tapi anehnya gak nemu-nemu pintu keluar (Emang bego aja dasarnya ini mah). Sial, satu jam yang wasting time, yaudah lah akhirnya kami memutuskan untuk cari makan di foodcourt Airport yang sebenarnya tadi sudah kami puterin 7 puteran sekalian lempar jumrah sekalian cium ka’bah buat cari tau harga nya dan ternyata kami pandang mahils banget buat level traveler bokek kayak kami.

No option, dan dari sekian banyak menu yang tersedia, kami menjatuhkan hati kepada 1 paket combo fried chicken without rice yang kami tebus seharga tepat 62 MYR di resto bernama Popeye Lousiana Kitchen. Lho, kok gak pake nasi? Bukan karena gaya-gayaan, tapi karena gak ada menu nasi hiks. Dasar orang Endonesaaaa.


Rizwan dan Ichad saat menikmati makan siang di Popeye Lousiana Kitchen

Saya dan Mike saat menikmati makan siang di Popeye Lousiana Kitchen

Menu di resto yang kayaknya memberlakukan sistem pelayanan self service ini sebenernya woth it buat kami berempat, meskipun enak nya masih kalah sama KFC di Indonesia sih kalo menurut Saya. Hanya saja, ada hal yang rada menggu pikiran, yaitu waiter-nya. Berbadan gempal, tinggi, besar, hitam, berbulu lebat, dan berekor panjang bermata belo. Dari mulai kita order, bayar, makan, minum,ngobrol, makan lagi, minum lagi, bayar lagi, itu waiter sangar entah kenapa rasanya ngelirikin kamiiiii terus. Nah Lu, abis Lu disate sama Si Gorila Babon.

Tapi hal itu gak berlangsung lama, karena kami harus segera pergi dan segera masuk antrean bording pass lagi untuk keberangkatan Ho Chi Minh City sekitar setengah jam lagi.  Kami berempat pun meninggalkan restoran dan bergegas menuju tangga eskalator menuju Gate berapa yaa lupa yang dituju sambil cekakak cekikik ngeliatin kelakuan si Rizwan, sampai pada suatu ketika pas kami sudah berbelok menuju eskalator, tiba2 terdengar teriakan si Gorila Babon yang sepertinya tertuju pada kami.
“WOY WOYYYY, liat belakang cobaaaa, itu si waiter kok kayaknya manggil-manggil kita deh,” seru Rizwan.
“Ahhh mana mungkin, lu salah liat kali”, timpal yang lain.
“ Eh tapi bener deh dia ngeliatin kita kok bener, duhhh kenapa ya?”, tanya yg lain.
“Ooohhh apa jangan-jangan karena kita barusan lupa bersihin bekas makanan kita kali ya?”, jawab Rizwan pasti. 
“Oh iya iya bener- bener, ayo cepet kabuuurrrrrr”, masih Rizwan yang bilang.
Akhirnya kami tergesa-gesa menuruni eskalator karena takut diuber si Gorila Babon lalu dilaporin ke satpam, kemudian diringkus aparat, dan berakhir di penjara internasional dengan titel penjahat kelas kakap yang makan gak beresin lagi bekas makanannya. OMAIGAT.

Nah, pas kita lagi tergesa-gesa menuruni eskalator yang panjangnya hampir setara dengan jari-jari bumi  ternyata ada hal ganjil yang baru kami sadari.
“Wan, koper Elu manaaaa?”
Satu kalimat tapi bagai sebuah isyarat akan datangnya hari kiamat. Sontak kami berempat menyadari satu hal,  oooohh jangan-jangan si Gorila Babon dari tadi manggil-manggil tuh gegara koper gembel si Kamfret satu ini ketinggalaaaaaan...!!!
WADAWWW dosa besar ini mah udah suudzan sama orang.  

Akhirnya buru-buru kami solat tobat dan memohon ampunan saat itu juga Si Rizwan balik lagi menuju resto tadi, menghampiri si Gorila Babon yang ternyata merupakan jelmaan dari Pangeran Damar Wulan berwujud Lutung Kasarung, Rizwan kemudian mengambil koper gembelnya, dan seketika menghilang karena takut diuber si Gorila Babon lalu dilaporin ke satpam, kemudian diringkus aparat, dan berakhir di penjara internasional dengan titel penjahat kelas kakap yang makan gak beresin lagi bekas makanannya mengucap terimakasih. 



Saya, Ichad, Mike yang tak peduli lagi Rizwan kemana
Kejadian naas saat kekamfretan itu terjadi, bisa diliat di video ini.




Nah guys, Berbekal pengalaman tersebut, hikmah yang bisa diambil adalah :
DON’T JUDGE A BOOK BY THE COVER yang artinya adalah JANGAN BELI BUKU KALO GAK ADA COVERNYA.
Pukul 12.00, gak kerasa udah saatnya terbang lagi aja nih kita. Bye Malaysia, bye Kuala Lumpur, bye Popeye Lousiana Kitchen, bye Pangeran Damar Wulan berwujud Lutung Kasarung.




bye Pangeran Damar Wulan berwujud Lutung Kasarung

Nb:
O ya satu lagi, jadi ternyata setelah saya cari tau, usut punya usut, ternyata si Popeye Lousiana Kitchen itu emang gak menerapkan sistem SELF SERVICE alias dari mulai ambil makan sampe beres sampe buangin bekas makan ke tempatnya sampe bersihin tempatnya itu dikerjakan sama masing-masing costumer. Yang kami lihat waktu itu ada bule habis makan terus langsung bersiin sama beresin lagi bekas makannya mah emang dasarnya aja si bule itu mantan Pembantu Rumah Tangga  di Arab udah biasa menerapkan kebiasaan di negaranya. SALUT YANG BERAKHIR LEGA.



Lega gak jadi buronan polisi internasional dengan titel penjahat kelas kakap yang makan gak beresin lagi bekas makanannya. OMAIGAT.


to be continue ya ceritanya, mamangnya mau lanjut ngerjain kewajiban lembur kantor yang sesungguhnya dulu.


writes by   : ananuranita (dunia-si-ana.blogspot.com)
photos by : mikeelfia

Monday, May 30, 2016

Petualangan Gunung Slamet Bersama AKS Team




Ini cuplikan video Saya bersama Team tercinta Saya AKS (Ayok ke Slamet). Sejak pertemuan pertama kami tanggal 26 Desember 2013, selanjutnya tiap tahun di tanggal yang sama yakni tanggal 26 Desember menjadi tanggal yang sakral untuk kita melakukan pendakian ke sebuah gunung berawalan S.

Ayok Ke Semeru di 2013
Ayok Ke Sumbing Sindoro di 2014
dan Ayok ke Slamet di 2015 kemarin.

Lalu, taun ini, Ayok Ke S mana lagi kawan?
#MikirKeras

Thursday, May 5, 2016

8 Kota, 5 Negara, 2 Milyar Raib



www.dunia-si-ana.blogspot.com

Diawali dari traveling Saya dan 7 sahabat Saya sejak taun 2012 silam ke Malaysia, Singapore, dan Thailand, sejak saat itu, setidaknya tiap tahun sekali menjadi  agenda wajib bagi kami untuk merencanakan perjalanan go internernational (jiga lomba nyanyi wae). Hampir tiap tahun selalu ada saja destinasi negara yang menjadi tujuan kami, ya meskipun baru hanya seputaran sesama Negara Melayu dan sekitarnya.  

Taun 2016 ini, kami sudah membidik dua negara sekaligus untuk tujuan traveling kami. Seperti biasanya, perencanaan selalu dimulai minimal 1 tahun sebelum keberangkatan. Supaya apa? Supaya kami dapat tiket promo pesawat yang murmer. HIHIHIHI.  Dari agustus 2015, jatuhlah pilihan destinasi kami kepada VIETNAM dan THAILAND. Alasannya karena apa? Karena promo tiket pesawat yang didapat pada saat itu adalah tujuan Ho Chi Minh City, Vietnam. Haahahahaaa maaf ya kami bukan traveller dengan tingkat idealis yang tinggi yang punya visi misi tertentu mengunjungi suatu negara. Yang penting cap di passport penuh, pungkas salah satu dari kami, maksudnya Saya.


www.dunia-si-ana.blogspot.com

 Nah kalo alasan satu lagi, kenapa Thailand? Padahal kan udah pernah kesana. Iya udah pernah kesana, ke Thailand, tapi Cuma ke Phuket, Bangkok sama Pattaya nya kan belum. Mangkanye nih sekalian aja mumpung lewat.

Okei  Ane paham gan. Pertanyaan Selanjutnya, apa korelasinya traveling dua negara ente dengan judul postingan yang ente tulis 8 KOTA 5 NEGARA  2 MILYAR RAIB?? 

Good question. Korelasinya adalah ya emang faktanya kayak gitu sih. Okelah biar lebih jelas dan terbuka, Saya akan jabarkan yang dimaksud 8 KOTA 5 NEGARA  2 MILYAR RAIB itu maksudnya kek mana? apa aja ? gimana bisa ? masa ? bodooooooo.


Penjelasannya mana?

Tunggu postingan selanjutnya ya plisssss ini mah plissssss  (muka super ngarep biar banyak yang penasaran padahal semua orang muak).
Besok besok deh dilanjut postingannya, sekarang Saya mau lanjut lembur dulu, lembur buat traveling menyambung tujuan hidup yang haqiqi.

Yang jelas, perjalanan Saya dan para partner (kali ini ber-4 saja) yang menamakan dirinya Lazy Traveling adalah perjalanan yang ibarat Nano-nano, dia mengandung bermacam rasa asam asin dan gaada manisnya.

4 Lazy Traveller

Saturday, April 16, 2016

Lagi Stress Sama Kerjaan atau Tugas Akhir Tak Kunjung Kelar? Mungkin Kamu Butuh Kesini.


Begitu damai dan tenang, itulah kesan pertama saat Saya menginjakan kaki di Bukit Doa Tomohon.  Tomohon yang berjarak sekitar 22 km ke arah timur kota Manado ini memiliki sebuah bukit yang merupakan tempat wisata rohani dengan keunikan tempatnya yang sayang untuk dilewatkan. 

Perjalanan Kota Manado - Tomohon


Dari kota Tomohon, kamu bisa menyusuri lokasi yang dikenal dengan Jalan Salib Mahawu.  Terdapat belasan spot-spot pemberhentian dengan berbagai macam patung yang katanya menceritakan kisah sengsara perjalanan hidup Yesus, termasuk kisah tragedi Penyalibannya.

Jalan dari Tomohon menuju Bukit Doa 

Jalan dari Tomohon menuju Bukit Doa Mahawu


Bukit Teletubbies di Bukit Doa (Sayang lagi kemarau)


Kekaguman lain dari tempat ini adalah terdapat bangunan megah diatas bukit hijau yang tepat menghadap Gunung Lokon, namanya Chapel of Mother Mary. Sebuah akulturasi gaya bangunan yang unik dengan desain dekoratif Eropa klasik. Menurut Saya, berada di bangunan ini seperti berada di dalam sebuah dongeng, indah dan cantik.   


This is Chapel of Mother Mary 


This is Chapel of Mother Mary 
View Chapel of Mother Mary dari depan
Saya berfoto dengan Chapel of Mother Mary

Saya berfoto dengan Chapel of Mother Mary

Saya berfoto dengan Chapel of Mother Mary

View Chapel of Mother Mary menghadap Gunung Lokon

View Chapel of Mother Mary menghadap Gunung Lokon



Saya berfoto di depan Gunung Lokon

Nah satu lagi, di Bukit Doa ini juga terdapat sebuah Amphiteater yang menyediakan tempat duduk seperti tribun dengan bentuk melingkar. Untuk mencapai Amphiteater tersebut, dari Chapel of Mother Mary kamu tinggal balik kanan berjalan mengikuti jalan kecil ber-paving block kayak foto di bawah ini. Menurut Saya, penampakannya sangat unik dan klasik seperti di film-film kerajaan romawi kuno. 

Jalan setapak dari  menuju Amphiteater

Sambil berjalan kaki, kamu akan menikmati hutan sejuk ini

Amphiteater

Ah coba saja Saya bersama teman-teman, pasti sudah kami eksplore habis-habisan tempat indah ini. Sayang Saya cuma sendiri (sebenarnya bertiga bersama supir dan atasan Saya yang Sayangnya mereka memilih untuk duduk saja di cafe dan sama sekali tidak ingin ikut berkeliling bersama Saya).




Ya tapi apapun itu, yang jelas Saya merasa beruntung dan bersyukur pernah kesini, ke sebuah tempat wisata dengan paket lengkap buat nenangin hati,otak,pikiran dan dompet. Disini, menikmati sisi demi sisi rasa damai, ditemani kegagahan Gunung Lokon, udara sejuk, langit biru, dan sepiring pisang kepok tak lupa hidangan sambal Aro, kamu akan lupa kalo kamu lagi dikejar deadline kerjaan atau tugas akhir yang tak kunjung final ada di Manado.




Written and Photos by : Badriana Nuranita
Info2 mengenai Bukit Doa Mahawu beberapa disadur dari : artikel di majalah Sriwijaya Air edisi Februari 2016 (gak sengaja baca majalah pas pake pesawat ke Bangka)

Monday, April 4, 2016

11 Hal yang Bikin Kamu Kangen Akut sama Manado

photo by dunia-si-ana.blogspot.com


Jadi ceritanya pertengahan taun lalu sekitar 5-12 Agustus 2015, Saya mendapat tugas Survey proyek perencanaan jalan di Manado dari kantor Saya di Bandung. “Yes Bunaken”, satu-satunya tempat yang langsung terbesit untuk Saya harus kunjungi di sela-sela pekerjaan Saya nantinya.

Tapi faktanya, setelah Saya menginjakan kaki di Bandara Sam Ratulangi, menginap di MOI Residence,  menunaikan tugas survey Saya bersama P2JN Sulawesi Utara ke beberapa wilayah mulai dari kota Manado, Tomohon, Tondano, Kawangkoan, Belang, Langowan, Bitung, Malalayang, sampai Kotamobagu, mainset Saya mengenai Bunaken adalah satu-satunya tempat yang waib dikunjungi di tanah Minahasa ini langsung terbantahkan begitu saja. SAYA SALAH BESAR. BENAR-BENAR SALAH BESAR.

Yang  berpikiran sama seperti Saya, Biar Saya kasih tau kalo ternyata Manado itu antik dan cantik. Antik dan cantik nya kenapa???
Ini nih alasannya.

Sebelas alasan yang bikin kamu betah banget berlama-lama di Sulawesi Utara terutama Manado dan kota-kota sekitarnya. Entah itu emang niat traveling, atau ga sengaja karena urusan pekerjaan kaya Saya. 


  1.  Panas Dinginnya Kota Manado
  2.  Pantai Malalayang dan Boboca-nya
  3.  Bunaken, Permata dalam tumpukan Mas
  4.  Megahnya Jembatan Sukarno 
  5. Bukit Doa Tomohon tempatnya Wisata Religi
  6. Tomohon Si Kota Bunga
  7. Danau Tondano dan Legendanya
  8. Pelabuhan Bitung dan Menara Eiffel-nya
  9. Pesona Gunung Lokon
  10. Bubur Manado Si Lezat Tak Ada Dua
  11. Nona-nona Cantik Idaman Semua Pria
Nah, selanjutnya mari kita kupas satu-satu di postingan selanjutnya. Muihihihi.

Tuesday, March 29, 2016

Membunuh Waktu di Kuburan Kereta Purwakarta

photo by : dunia-si-ana.blogspot.com


Mendengar kata kuburan, Saya yakin yang terpintas di benak kita adalah padanan dari kata angker, sunyi, sepi, seram, setan, dan gentayangan. Ya dan memang tidak salah lagi, sekalipun namanya Kuburan Kereta, tapi Saya rasa tetap saja keangkeran itu tidak bisa dihilangkan dari citra sebuah kuburan.

Terbukti, pada hari Rabu tanggal 9 Maret 2016 yang bertepatan dengan hari libur apaaa ya lupa, Saya dan seorang partner petualang Saya bermana Icad, merencanakan sebuah misi pembunuhan dengan target lokasi di kota Purwakarta, di Stasiun Purwakarta, di Kuburan. Kami putuskan mengambil lokasi eksekusi di kuburan tersebut karena tempat itu dirasa sepi, tersebunyi, dan lumayan jauh dari kerumunan orang. Baiklah Saya sebagai pencetus ide dan Icad selaku eksekutor, tepat pada pukul 13.00 kami memulai misi kami, "Membunuh Waktu di Kuburan Kereta Purwakarta".

 Berbekal si Beat kesayangan kami (karena memang cuma itu yang bisa dipakai) yang selalu menemani kami bepergian, berangkatlah kami dari Bandung menuju Purwakarta (tentu bukan lewat tol) ditemani rintik hujan dengan intensitas yang bisa dikatakan tinggi. Niat kami sudah terlanjur bulat sebulat tahu bulat digoreng panas harganya 500an, sehingga hujan tak jadi rintangan. 

Dua jam yang sangat singkat bagi yang naik mobil dan lewat tol Cipularang lalu keluar di KM 70-an. Gilaaaaaaaaaaaaaakk bikin pegel pantat banget, ngantuk pula, hujan pula, kadang2 panas pula, fix deh gerah bercampur aduk sama kantuk sama debu.  Tapi seru, karena kami terlalu bersemangat. Ya, bersemangat buat makan sate maranggi paling enak di Purwakarta.

Menjajaki Purwakarta via Cimahi - Padalarang - Jl Raya Purwakarta - Jalur Cikampek-Padalarang - Darangdan - Sukatani - Kota Purwakarta, selain disuguhi mendung dan gerimis, kami juga disuguhi pemandangan hijau pesawahan dan birunya pegunungan di sepanjang jalan. Untung jalannya bagus, jadi kami bisa ngebut bersaing sama truk truk super besar yang banyak banget melintasi jalur ini.


Pemandangan memasuki daerah Padalarang


Pemandangan Pegunungan di daerah Padalarang

Pemandangan Pegunungan (sepertinya Gunung Parang) di daerah Purwakarta

Welcome Purwakarta

Singkat cerita, sekitar pukul 15.00 kami sudah tiba di Stasiun Purwakarta, tak susah mencari tempat yang kami tuju, kemudian kami masuk kedalam stasiun. Menurut info yang kami cari, kuburan kereta nya terletak tepat di dalam stasiun tersebut, eh tapi kan yang boleh masuk hanya yang punya tiket, pikiran dangkal Saya menuju ke arah loket yang harus saya hampiri untuk membeli tiket, tiket dengan tujuan kemana saja asal Saya dan Icad bisa melewati pagar pembatas yang dijaga petugas kereta api.


Pagar Pembatas Stasiun Purwakarta

Sedangkal-dangkal nya otak Saya untungnya tidak sedangkal mulut Saya yang hobinya nyerocos, hampir 15 menit kami bolak balik membaca papan pengumuman jadwal kereta serta mencari celah pagar yang bisa kami masuki tanpa jagaan petugas (karena tidak boleh sembarang orang bisa masuk), otak Saya jatuh dan tidak bisa berfikir, lalu giliran mulut Saya yang gerak. Saya menghampiri akang-akang penjaga parkiran yang sedang duduk ngaso di bawah tugu patung Gatotkaca di depan Stasiun.

Saya    : "Kang, punten bade tumaros, ari ka kuburan kereta ka palih mana?"
Akang : "Hah, kuburan kereta neng..?
Saya    : "Muhun Kang, eta geuning kereta-kereta anu tos teu dianggo anu sok diangge popotoan."
Akang : "Ooohhh eta, teras we ka ditu tuh kanu seueur nu dagang, belok kanan, lurus, teras ka kiri, teras nyebrang rel."
Saya    : "Oh hatur nuhun kg."
Akang : "Mangga neng."
Saya    : "Kangkung Kang."
Akang : "Bonteng neng."

Kemudian roaming yang baca, kemudian Saya malas nerjemahin.

BODOH. Kenapa ga nanya dari tadi aja, pake acara sok sok mikir sampe mau beli tiket tapi ga jadi karena mahal sampe mau ngendap-ngendap nerobos segala. 
Pelajaran dari kisah ini : Malu bertanya, bodoh ga ketulungan.


Icad dan Patung Gatotkaca

Saya dan Icad di depan Stasiun Purwakarta

Akhirnya kami ngikutin instruksi si Akang parkir tadi, dan YEAAAAYYYY kami sampai, kami menyebrangi rel dari arah utara stasiun yang memang tidak dipagari. Kami masuk lewat gapura bertuliskan Nagri Tengah Purwakarta, kemudian kami berjalan membelok ke arah kanan menerobos jalanan sunyi, lalu ke kiri menyusuri dinding gedung tua nan lapuk sampai mentok, lalu sebentar lagi kamu akan tiba di sebuah lahan sunyi dan berumput dengan puluhan bahkan ratusan gerbong kereta api usang yang bertumpuk rapi memenuhi lahan tersebut. 

Selamat datang di Kuburan Kereta, tempat besemayamnya bangkai-bangkai gerbong kereta dan bangkai penumpangnya yang sudah usang termakan usia maupun rusak karena kecelakaan.

Tanpa basa basi, kami berdua pun lantas mengeksekusi waktu, membunuhnya di Kuburan ini.
Hmmmmm Sadis.

Penampakan Stasiun Purwakarta

Gapura bertuliskan "Nagri Tengah Purwakarta"

Gedung tua gudang lokomotif

View kuburan kereta dari depan  Gedung Tua
View kuburan kereta dari depan  Gedung Tua

View  awal saat memasuki kuburan kereta 

View kuburan kereta 
View Saya bersama kuburan kereta

View Saya bersama kuburan kereta 

View Saya bersama kuburan kereta

View Icad bersama kuburan kereta 

View Icad bersama kuburan kereta 

View Icad dan Saya bersama kuburan kereta 

View Saya bersama Gedung Tua 
Sore hari sekitar pukul 16.15, usai melakukan pembunuhan waktu di Kuburan Kereta Stasiun Purwakarta, kami pun lekas menghampiri wilayah perbatasan Purwakarta - Cikampek, yakni Cibungur. Tujuannya adalah untuk melancarkan misi kedua yang lebih sadis dari misi pertama, misi kedua ini kita namai "Memutilasi Mahluk Hidup bernama Kambing dan Sapi, menusuknya, membakarnya, menaburinya dengan cabe dan tomat, kemudian melahapnya."
Hmmmmm Sadis.

Proses eksekusi  


Kondisi terakhir Korban setelah pembantaian

Sang eksekutor


Written by : Badriana Nuranita
Photos by  : Icad & Ana