Wednesday, March 2, 2016

Gong Xi Fat Cai 2016

Bangka, 8 Februari 2015
00:44

Malam ini rame sekali euy. Di tahun Monyet ini Saya ikut merayakan imlek di pulau yang penghuninya mayoritas koko cici mata sipit, pulau tetangganya si laskar pelangi, pulau yang martabaknya terkenal sekali karena enaknya.
Dentuman bunyi petasan dan kembang api dan sorak sorai seremoni festival barongsai (sepertinya) bersautan sama derasnya suara hujan dan dor-dar halilintar. Lalu kecatikan nyala lampion yg berderet menghiasi kota sejenak mengingatkan Saya akan kenangan imlek taun lalu di negara tetangga yg ikonnya patung Singa bersisik.
Malam itu, diantara deretannyala lampion dan meriahnya tontonan barongsai, Saya sedang kesal, lalu kami berpisah. Saya mengambil jalan Saya sendiri, dan dia bersama yang lain. Sialnya Saya tersesat dan tak menemukan jalan pulang. Saya berjalan jauh, tapi nyatanya masih berputar-putar di tempat itu-itu saja (semua tau kalau saya buta arah) sampai akhirnya kami kembali berpapasan. Tapi Saya malah berlari pergi dan menangis,
menangis sepanjang malam,..
sampai lelah..
sampai ngantuk..
sampai tidur..
sampai pagi.

Ah lucu sekali kalau diingat.

Oh ya, SELAMAT TAHUN BARU, bagi siapapun, kapanpun, dan apapun jenis tahun barunya, yang pasti doa nya sama-sama yang baik2 to? Semoga selalu dilimpahi kasih sayang dan diberkahi rejeki berkecukupan, jangan lupa bersyukur.














Written by : Ananuranita



Tuesday, March 1, 2016

Gunung Slamet Si Pamungkas Akhir 2015 (Part 1)



Dear AKS Team :
Guys, ini napak tilas tahun ke-3 kita di 26 Desember tahun ini, setelah sebelumnya AKS Part 1 (Ayok ke Semeru) di 26 Des 2013, lalu AKS Part 2 (Ayok ke Sumbing Sindoro) di 26 Des 2014, dan kali ini alhamdulillah masih nemu gunung yang berawalan S, sebab jika tidak, maka team ini otomatis bubar.  Gunung Slamet, meluncur kitaaaaaaa....

Gunung Cikuray di awal pos 0 sampai pos 4, Gunung Pangrango di pos 5 sampai pos 7, Gunung merbabu di pos 7-9, Gunung Ciremai dan semi Semeru di track menuju puncaknya. Sebuah akulturasi track yang sangat mempesona bukan. Singkatnya, gunung ini semacam adik kesayangannya Semeru. Sial, salah ekspektasi, mana udah lama ga naik gunung lagi. FIX oleng.

Tapi semua keterjalan track yang dilalui menjadi tidak begitu berarti (walupun angger cape) kalo bareng2 team solid yang kelebihan kadar sengkleknya walaupun terkadang penuh drama dan kelebay-an yang membuat muak.

Alhamdulillah genk misi kita ke Slamet slamat sampai tujuan ya. Selamat ulang tahun team, terimakasih sudah mengkayakan mata dan hatiku bersama alam dan kalian.



Nah for reader, jadi gini ceritanya:

Kamis, 24 Desember 2015
Pukul 17.00 kami ber-12 janjian di Terminal Cicaheum Bandung, menggunakan bis ekonomi via Bandung - Purwokerto, kebetulan akhir taun ini long week end natal dan apa ya lupa, jadi pokonya kami desek-desekan di Bis sambil manggul-manggul keril sampe gempor paha.

Pagi hari di Terminal Purwokerto sebelum menuju Pos Bambangan

Perkenalkan dulu anggota tim hore kami (dari  kanan ke kiri, dari depan ke belakang):
1. Febi, porter merangkap fotografer.
2. Mas Hendro, fotografer merangkap penasihat umum.
3. Yoga, ketua team merangkap porter merangkap seksi logistik merangkap bendahara merangkap tukang suruh merangkap penjaga wanita.
4. Mas Abul, porter merangkap penasihat rohani.
5. Saya (Sebut saja Nita, atau Ana, atau Turub Panci), ketua tim Operasi Golok atau Golok Opertion atau disingkat GO atau nama lainnya tukang boker di gunung.
6. Tami, hijaber kece paling hits se- instagram yang hobinya makan dan galau nangis-nangisin  mantannya, tapi kalo udah ngomongin gunung, beuh setrong deh dia.
7. Uchi, hijaber paling sadar, lembut, dan subhanalloh banget.
8. Teh Nina, ibu kita semua yang menu masakannya selalu menjadi energi buat kita kalo lagi di gunung meski terkadang bawel nya ga karuan.
9. Ichad, penyusup baru tim AKS, pernah dua kali gabung bareng ndaki trus jadinya nagih minta diajakin lagi.
10. Ucup, sulit dideskripsikan. Ada dia kondisi mental tim ancur total, gaada dia dunia kita mati kaya di kuburan.
11. Ojan, sang PORTER sejati tak tertandingi yang pelit ngomong (tau-tau boker di celana).
12. Mas Bison, dari namanya saja sudah ketebak kalo Mas-mas satu ini bisa dibilang Rajanya Ndaki.


Jumat, 25 Desember 2015

Sekitar pukul 10.00 kami sudah tiba di posko pendakian Bambangan, titik awal bagi semua pendaki untuk memulai tracking ke Gunung Slamet. Sementara yang lain sibuk repacking, Saya dan Teh nina pun ga kalah sibuk. Ya, sibuk nyari WC umum karena kita super kebelet boker. Satu jam kemudian, barulah kita berfoto disini dan mulai berjalan.#jadidaritadingesot??

Full Team di Pos Bambangan 

Perjalanan dari Pos 0  menuju Pos 1 ditempuh dengan waktu sekitar 2 jam. Tracknya panjang memang, tapi masih nanjak-nanjak standar pegunungan lah, melewati perkebunan warga, pohon-pohon yang seperti pinus tapi entah apa namanya, ilalang dan rerumputan macam di Pos 1 pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Oh ya, di Pos 1 gunung ini ternyata ada mendoan juga, gunung kedua setelah Lawu yang Saya temui  mendoan dan pisang goreng hangat dan nutrisari.

track panjang menuju Pos I

Pos I Pondok Gembirung

Menuju ke Pos 2, tak ada lagi tanjangan standar, yang ada adalah nanjak teruuuuss tanpa ampun dengan view hutan dan track panjang. Tanpa bermaksud membanding-mandingkan tipe jalur pendakian gunung satu dan gunung lainnya, tapi nyatanya track ini emang mirip track Gunung Cikuray banget, dagu ketemu lutut, lutut ketemu kepala, kepala ketemu pundak lutut kaki lutut kaki. #kemudiannyanyibersama

Sepatu hijauku sedikit lelah dan butuh sandaran 

Sekitar pukul 14.30, dari Pos 2 kami lanjut menuju Pos 3. Yang namanya rejeki mah ga akan kemana emang, alhamdulillah nanjak terus tanpa sepersenpun bonus, track tanah dan akar-akar, lalu view disekitar jalur adalah hutan, sampai kami ber-12 akhirnya mulai terpisah-pisah. Ada kloter cepat yakni para porter yang hobinya bawa tenda, kloter nyicil yang hobinya  nyicil jalan, dan kloter enjoy yang sudah barang pasti hobinya foto-foto sambil menikmati pemandangan sekitar. Kloter manakah Saya? Bukan yang pertama pastinya.

Sekitar pukul 15.30, menuju Pos 4, kami berjalan berpencar, pokoknya ikutin yang paling depan, syukur-syukur nemu tempat nge-camp di Pos 5. Tracknya masih dengan view hutan belantara dengan tanjakan yang semakin terjal dan tanpa bonus.

Viev menuju Pos 4

foto dulu cuy

Menuju Pos 5, tak terasa petang mulai datang. Sekitar 1 jam perjalanan dari Pos sebelumnya, eh udah mau magrib aja ini. Sementara kami masih berpencar dan belum menemukan satu tempat pun untuk pasang tenda. Long week end akhir taun ini memang super sekali membuat gunung menjadi sesak dan penuh oleh para pendaki dan segala sampah yang mereka bawa, termasuk kami

kondisi Pos 5 yang sudah penuh dengan tenda
Namun sore itu, keberuntungan sedang berpihak pada Saya. Di Pos 5, akhirnya Saya dan Icad secara tak sengaja bertemu dengan beberapa para petangguh kami, Febi dan Ucup. Setelah menjajaki Pos 5 dan ternyata tidak menemukan spot nge-camp, akhirnya kami ber-4 memutuskan untuk bersama-sama lanjut ke Pos 6, sambil sesekali berteriak-teriak memanggil 2 petangguh yang sudah duluan meninggalkan anggota yang lain  untuk mencari spot nge-camp. Dan sisanya? yang jelas ada di belakang kami, dan enjoy, dan mereka pasti baik-baik saja, dan kami pasti bertemu.

Tiba di Pos 6, terang sudah pudar, berganti gelap pertanda malam datang. Ojaaaaaaannnnn....!!!! Mas Abuuuuuuulll....!!!! WHERE ARE YOU..??? DIMANA KALIAN...??? KAMARANA WAE SATEEEHHH...??? 
OMAIGAD Saya lelah, dia lelah, mereka lelah, dan kamu pasti lelah juga bacanya kan? 

Dari Pos 6 menuju Pos 7, waktu itu sudah masuk Isya, dan kami masih berjalan, dan mereka pasti masih berjalan, dan kami masih saling mencari. Antara lelah, lapar dan mau nyerah, bercampur aduk dengan keyakinan kalo diatas sana Ojan dan Mas Abul pasti sudah nyiapin tempat camp buat kami semua. 

Pucuk dicinta ulam pun tiba, ternyata eh ternyata sekitar pukul 19.30 kami bertemu dengan seonggok mahkluk berjubahkan jas ujan dengan tenda menjulang gagah di sebelahnya. "Mas Abuuuuuuuul... alhamdulillah ketemu juga. Tuhkan bener, tendanya udah jadiiii, Yuk kita masuukkk tenda". // "Tenda..? Tenda yang mana Nit? tenda kita masih di keril, Ojan masih nanjak lagi nyari spot tenda buat kita"// Gubrakk #kemudianpingsan.

Oh ya, kabar gembira lagi bahwa kami  ketemu Yoga (Salah satu yang masuk pasukan santey sekaligus pelindung wanita) juga disini, pas Mas Abul, Icad, Ucup, Febi dan Saya lagi meratapi nasib sambil makan cokelat lupa lagi merknya . Yoga sekonyong-konyong dateng dari bawah nyusul sendiri. Akkkk bahagia nya, eh tapi, mana yang lain?? Teh Nina, Tami, Uchi, Mas Hendro, Mas Bison ...??? 
Ternyata mereka menemukan lapak pas-pas-an di Pos 5, lalu nge-camp disana. Yoga turun kembali bergabung ke Pos 5, lalu kami ber-6 memutuskan untuk menyusul Ojan mencari lapak.

Sial, pukul 20.00 kita masih nanjak di seputaran track menuju Pos 8 yang kalo Saya bilang sih ini mirip track Merbabu via Selo yang pas menuju Sabana 1 nya itu lho. Hemmm sudah tak mampu dideskripsikan lagi. Saking susahnya nemu lapak, kami sempat numpang beristirahat di tenda pendaki lain dong, beruntung Si Mas nya Super baik dan mau menampung kita. Sementara beberapa beristirahat di tenda, dan beberapa lagi masih cek spot lapak menuju Pos 9, dari halaman tenda orang lain, Saya menikmati dingin bersama malam dan Sang Purnama.

View malam dari Pos 8 Gunung Slamet


Butuh perjuangan yang keras untuk mencapai suatu tujuan. Sekitar Pukul 21.00 kami sudah bisa mendirikan tenda.  Maksudnya Ojan, Mas Abul, Febi, Ucup dan Icad yang mendirikan tenda, Saya tidak. Di perbatasan Pos 8 dan 9, tempatnya agak miring dipinggir pohon di bibir tebing, namun lumayan lapang. Disini dibangun lah sepasang tenda ditemani nyala Sang Rembulan.

Selamat tidur teman-teman semuanya. Akkkk Teh Nin, Tami, Uchiiiii...aku tanpa kalian menjadi sangat lapar, tak ada teman gali lubang, dan tak ada teman saling tempel koyo cabe.

Penampakan tenda perosotan kami di pinggir tebing 


to be continue...


Tuesday, November 17, 2015

Papua Oh Papua

PAPUA OH PAPUA (photo by @ananuranita)
Kemarin Aku ke Papua, Jayapura, lebih spesifik lagi Abepura. Tanggal 10-13 November, sayang cuma 4 hari saja. Aku nginep di Citihub Hotel selama 3 malam. Karena urusan pekerjaan, Aku singgah di beberapa kota dan kabupaten di Papua, untuk apalagi kalo bukan ngunjungin para jembatan. Meski melelahkan, tapi Aku senang. Mengapa senang?

Karena banyak hal istimewa yang ku temui disini.

Pertama. Pulau ke-5 di Indonesia setelah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi yang finally Aku singgahi dalam beberapa bulan ini.  Alhamdulillah mimpi keliling Indonesia yang sempat kutulis di LIFE MAP 2014-2015 akhirnya bukan sekedar tulisan. Jadi semakin yakin sama keajaiban tulisan, lebih tepatnya “Menuliskan mimpi-mimpi yang ingin dicapai.”

Kedua. Pulau terbesar ke-dua di dunia setelah Greenland ini sangat KAYA. Papua punya Ribuan pantai yang indah, danau yang cantik, gunung yang gagah, bukit yang ramah, tanah yang kaya, hutan yang asri, penduduk yang khas, adat budaya dan makanan yang khas, serta ras dan agama yang beraneka. 

Ada Harlem, Amai, Raja Ampat, Sentani, Siklop,  tambang emas, Cartenz, Asmat, Biak, Dani, Arso, Waris, Busur, Koteka, Tifa, Noken, Matoa, Papeda. Sungguh suatu paket lengkap. Dan lagi, bukankah keanekaragaman itu cantik bukan?

Ketiga. Beruntungnya Aku karena sempat berkunjung ke wilayah Perbatasan bagian timur negara Indonesia dengan Papua New Guinea. Wilayah SKOUW dan WUTUNG, dua wilayah berbeda negara yang hanya dipisahkan oleh dua benteng berbeda bendera berjarak sekitar 10 meter saja. 

Ketika aku berdiri di Benteng berbariskan tentara kerdil nan sawo matang, saat itu pulsa di ponselku masih utuh. Lalu, 1 menit kemudian Aku berjalan kedepan menghampiri benteng lain dengan para tentara berbadan gempal nan hitam, seketika Aku dikirimi sms operator yang bunyinya, “WELCOME TO PAPUA NEW GUINEA, TARIF NELPON DAN NERIMA TELPON KE INDONESIA 15 RIBU PER MENIT.” Lalu ponsel pun berdering, tanpa sadar Aku mengangkat telpon, dan dalam beberapa detik habislah pulsaku. (ketebak kan isi pulsaku berapa ? hahaaa miskin kaliiii).

Oh ya, Aku sempat masuk melewati gerbang batas negara, dan itu artinya Aku berada di luar negeri. Anehnya, Aku tak perlu menyodorkan passportku, mereka hanya mensyaratkan surat ijin memasuki daerah perbatasan saja, namun itu pun Aku tak buat. Ya karena Aku beruntung, dibantu mitra kerjaku, yang memang orang pemerintahan. (Hemmm, jangan ditiru).

Satu lagi, di negara Papua New Guinea yang hanya setengah jam Saja Aku singgahi, Aku sempat menikmati view Pantai Indah mpunya Papua New Guinea. Pantai itu aku nikmati dari belakang rumah penduduk Wutung. Si mpunya rumah, dua orang mama, menghampiriku, mereka menyapaku dengan senyum ramah dan ucapan GOOD AFTERNOON. Akupun balik menyapa dan ngajak mereka foto bareng, eh tiba-tiba Aku dipeluk mereka dan dibilang dalam bahasa inggris berlogat Fiji yang kira-kira begini jika diterjemahkan, “OH TUHAN GADIS INI SUNGGUH CANTIK,” Hihi. Thank you Mama. God bless you.

Udah segitu aja dulu, barupun Jayapura yang Aku kunjungi. Fix, akan kutuliskan PAPUA kembali di LIFE MAP 2016. Entah lewat apa dan darimana pun jalannya, terimakasih Tuhan karena telah membukakan satu demi satu mimpiku. 

Lalu, malam ini aku menggigil meriang, dan tulangku terasa ngilu. Mudah-mudahan bukan malaria.

Senin, 16 November 2015.
Bandung.
23:41.


Ananuranita


tiket pesawatku


Aku dan pesawat saat akan tiba di Papua
Bandar Udara Sentani

Hotel tempatku menginap di kota Abepura
Kamar 309 tempatku menginap di kota Abepura
Pemandangan pagi hari dari tempatku menginap di kota Abepura
Pemandangan Kota Jayapura

Pemandangan pesisir pantai di kota Jayapura
Sore hari di menikmati view Danau Sentani
Aku dan langit dari Cristho Resto Danau Sentani
Sore hari di Danau Sentani

Sore hari di Danau Sentani

Sore hari di Danau Sentani

Menjemput sunset dari Danau Sentani

Aku dan dua kawan baruku dari Papua (Pace Ichu dan Dimas)

View Papua dari Tanah Hitam, Papua
This is Papeda (Makanan khas Papua)

This is Tifa (Alat Musik khas Papua)

Tempat memancing ikan tawar di wilayah Koya Timur
Hutan di wilayah Perbatasan wilayah Arso - Waris, Papua

Pemandangan Gunung Siklop dari daerah Waena, Papaua

Anak babi yang sempat ku temui di sekitar Desa Nafri, Papaua 

Jembatan Ubiau di wilayah Waris, Papua

Sungai Muara Tami ( Jembatan terakhir perbatasan Jayapura - Papua New Guinea)

Benteng pemisah batas sebelah timur negara Indonesia - Papua New Guinea

Benteng masuk negara Papua New Guinea

Aku berfoto di Pos Pemeriksaan Lintas Batas Skouw - Wutung (Indonesia - Papua New Guinea)

View laut Papua New Guinea (lupa nanya nama lautnya apa)
Aku dan dua orang mama berkebangsaan Papua New Guinea

Aku dan Kendaraan berplat polisi Papua New Guinea di Pasar Skouw

Pemandangan Teluk Yotefa ini dapat dinikmati dari bukit Skyline

Aku dan Papua dan lautnya

Pemandangan Danau Sentani dan wilayah perbukitan Jayapura 
Pemandangan Danau Sentani dan wilayah perbukitan Jayapura

Acara ini dipersembahkan oleh : BASRENG 22 (boleh cek ig nya sis @basreng22 monggo diorder)

Photos by me (bisa difollow ig nya @ananuranita) with NIKON COOLPIX. Terimakasih, karena tak ga ada yang fotoin, kini bukan lagi kendala terbesar bersolo traveling. Muahihihiiiii (ngupahan maneh).