Rabu, 14 Mei 2014

Double Summit Gunung Gede Pangrango Bagian 2


Tapi kenapa saya masih saja bimbang? Padaha fisik saya mengingkan saya untuk menyudahi pendakian ini dan ikut pulang bersama 8 rekan lainnya, namun entah mengapa ketika saya memutuskan akan pergi, saya malah mundur lagi dan melirik tekad terbesar saya yaitu masih ingin berjuang menggapai Puncak Pangrango. Tiba-tiba saya pun menjatuhkan pilihan saya bersama 8 rekan yang masih memilih tetap tinggal disini untuk melanjutkan pendakian malam nanti.  
(Baca cerita sebelumnya : Double Summit Gunung Gede Pangrango )




Part 2 : Pendakian Puncak Gunung Pangrango

Sabtu malam, 19 April 2014. Pada akhirnya kami tinggal ber-9. Saya, Teh Nina, Tami dan Pegy hanya berharap pada 5 sisa petangguh ini, Yoga, Kang Fadhli, Tomi, Andre, dan Mas Dikun, 4 orang penghuni ITB dan satu orang penghuni PT Dirgantara Indonesia.

Sepasang tenda telah dibangun, seperti biasa, Teh Nina selaku yang tertua dari kami selalu berinisiatif duluan untuk menyediakan konsumsi. Menu kali ini adalah menu termewah kami sepanjang perjalanan pendakian kami, nasi,mie, dan bubur ayam siap saji dipadukan dengan berbagai lauk pauk seperti sarden, tuna saus padang, sosis, tempe orek campur kentang mustafa, ditambah snack pilus garuda sebagai toppingnya. Tentu saja selaraskan dengan minuman hangat kaya akan nutrisi seperti susu cokelat fullcream, energen, dan white coffe. Merupakan suatu anugerah ternikmat jika di hutan saja kami masih bisa menikmati makanan se-spesial itu. (padahal sih itu juga dikasih tenda sebelah, sengaja juga semua dimasak supaya beban carier berkurang).

Pukul 20.30. Tak terasa sudah malam lagi, tiap malam di tiap tempat persinggahan yang berbeda, layaknya para nomaden. Sudah saatnya beristirahat meregangkan otot-otot yang tegang sebagai persiapan pendakian tengah malam nanti. Bicara soal otot-otot yang tegang, saya baru ingat bahwa bekas jatuh turun Gunung Gede tadi belum sempat saya periksa. Awalnya saya kira tidak apa-apa, hanya sekedar lecet-lecet di kaki dan sikut saya. Tapi setelah saya periksa ternyata ada luka di bawah telapak kaki saya, sepertinya cukup dalam, entah bekas menginjak pisau malam kemarin, entah kerena tertusuk ranting, atau mungkin luka bekas menginjak pisau kemudian tertusuk ranting. Satu lagi yang paling mengganggu sedari tadi adalah bengkak dan rasa sakit yang menyaut-nyaut di lutut kiri saya, betapa sangat menghambat langkah saya. Hanya berpikir kalo itu sekedar bengkak akibat memar di lutut (Setelah pergi ke dua orang tukang urut dan satu tukang tulang, belakangan saya ketahui bahwa itu adalah urat kecil yang kejepit diantara engsel tulang lutut), akhirnya saya mengoleskan cream pereda rasa sakit dan menempelkan koyo di lutut serta bagian tubuh lainnya. Begitupun Teh Nina,Tami, dan Pegy, saling pijit, saling balur, saling tempel, dan aktifitas saling menghangatkan lainnya sehingga kami pun bisa tidur dengan optimal.

Minggu dini hari, pukul 01.30. Banguuuuuuuun. Alarm manual itu berasal dari suara ketua  tim kami, Yoga. Kami harus segera bersiap-siap untuk melakukan summit attack menuju Puncak Pangrango. Hawa dingin tidak menciutkan nyali kami. Setelah melakukan olahraga pemanasan, tepat pukul 02.00 kami bergegas memacu langkah menyusuri track menuju Kandang Badak. Hanya butuh 40 menit waktu bagi kami sampai di Kandang Badak, padahal kemarin saja hampir 2x lipatnya dari Kandang Badak menuju tempat nge-camp kami. Mungkin karena kami meninggalkan carier dan semua barang bawaan kami di tenda, hanya jas hujan, minuman, bekal sarapan pagi se-alakadarnya saja. Selain itu, perjalanan tengah malam memang dipercaya dapat menaikan kecepatan langkah, tak memakan banyak waktu untuk beristirahat.

Setibanya di Kandang badak, kami beristirahat sebentar untuk sekedar meneguk air minum, menghela nafas panjang, dan mengisi ulang mulut kami dengan premen jahe yang katanya ampuh menghangatkan tenggorokan. Untuk menuju jalur pendakian puncak Pangrango, kami mengikuti tanda panah berbelok ke kanan, masuk hutan yang lebih rapat dan lebat, lalu menyusuri jalur aliran air yang hanya setapak. Bukan hanya itu, disepanjang track sering sekali kami jumpai pohon-pohon besar dan lapuk yang menghalangi jalur kami. Mau tak mau kami harus menaiki pohon itu untuk melewati jalur demi jalur.

Saya melirik jam tangan saya, dan ternyata ini baru pukul 03:15. Seharusnya ini menjadi tengah malam yang gelap, sepi, dan sunyi. Namun itu tidak terjadi pada kami, pasukan di belakang Saya (Teh Nina, Peggi, Andre, dkk) membuat perjalan ini menjadi lebih bersuara dengan gurauan dan obrolan ala mereka, malah ocehan mereka sesekali saya dengar bersautan dengan kicauan suara para penunggu hutan ini lebat ini. Saya pribadi sebenarnya sedang tidak ingin menyimak atau berusaha bergabung dengan obrolan mereka,  karena nyatanya cidera kaki kiri ini telah menghancurkan mood saya. 

Hampir 3 jam kami menyusuri hutan gelap ini.  Selama beberapa jam lamanya tidak kami temui satupun pendaki lain yang melewati jalur ini, tidak seperti di Gunung Gede yang sangat ramai ditemui para pendaki. Wajar saja, track pendakiannya berupa jalan super sempit yang sangat curam, becek, dan licin mungkin menjadi pertimbangan bagi mereka untuk melakukan pendakian tengah malam seperti ini. 

Di tiga perempat perjalanan, kami sempat mendapati sebuah tenda bediri di hutan selebat dengan tebing-tebing securam ini.  Kami pun sempat bertanya kepada mereka kira-kira berapa lama lagi kami sampai puncak, “Sekitar setengah jam lagi mas, mba” dan sautan mereka menjadi cambuk dalam kenyala-redupan semangat kami. Kami semakin bergegas untuk menapaki  jalur demi jalur yang menebing. Saya kembali mengintip jam tangan saya, ini sudah lebih dari setengah jam, tapi ternyata kami belum menemukan tanda-tanda puncak, kami masih berputar meliuk-liuk menapaki track.

Sial, ternyata orang itu memberi kami harapan palsu walaupun mungkin niatnya mensugesti kami supaya tetap semangat, tapi lain lagi jika kondisinya seperti ini, malah semakin merasa dipermainkan dan akhirnya kecewa. Ekspresi ini mungkin terkesan berlebihan jika terjadi di dalam kondisi normal, tapi berdasarkan suatu suatu teori alamiah yang pernah seseorang katakan pada saya 
Di gunung itu, kalau kita senang maka akan terasa benar-benar senang, sebaliknya kalau  kita kesal, tidak suka atau sejenisnya maka benar-benar akan kita rasakan itu luar biasa”.
Dan itu lah yang sedang saya rasakan sekarang.  Benar memang saya cape, kesal, dan hampir putus asa, tapi untungnya saya punya rekan-rekan satu tim yang solid, satu melangkah semua melangkah, satu beristirahat semua beristirahat, tak sungkan menarik tangan saya ketika hendak tergelincir, tak hentinya saling menyemangati supaya kami tetap melangkah, dan  ketika ada yang kedinginan, yang lain dengan rela meminjamkan jaket tebal dan sarung tangan mereka. Saya fikir, mungkin ini bentuk persamaan integral dari teori alamiah diatas,  bukan hanya perasaan senang dan kesal, segala macam perasaan akan terasa sangat kuat dan peka pada kondisi survival seperti ini. Bermodal kebersamaan itulah, hingga akhirnya pada hitungan ke-5 jam yang begitu terasa tetiba kami kami mendapati Sebuah plang di samping tugu bertuliskan “PANGRANGO, 3019 MDPL”.

Entah kenapa, semua lelah dan putus asa itu mendadak sirna, tergantikan oleh rasa riang dan syukur tak terhingga. Subhanallah, terimakasih Ya Rabb telah memberikan kami kesempatan untuk menikmati pesona-Mu lebih nyata lagi. Sinar matahari yang sudah satu jam terakhir menemani pendakian kami menuju puncak ini teryata masih tetap cantik mendampingi kami mengabadikan momen bersama disini, di puncak tertinggi kedua Jawa Barat.

Usai menikmati panorama dri atas puncak, kami memutuskan untuk sedikit menyisir turunan depan kami, beberapa puluh meter dari meneus dari puncak, ternyata kami temui Padang edelweis yang menurut saya lebih indah dari Suryakencana, dialah Mandalawangi. Luar biasa indaaaaaaahhhh, cekungan dataran di bibir gunung dengan hamparan bunga edelweis yang mulai mekar. Langit cerah dengan gumpalan awan putih nya membuat padang ini seolah-olah berada di atas awan.  Lebih istimewa lagi karena lebih jauh kami pandangi, ternyata padang ini menyimpan beribu kesegaran dari mata airnya, ada semacam sungai kecil di pinggir padang edelweiss ini yang airnya bisa kami gunakan untuk mengisi energi kami yang terkuras tadi. Sedikit aneh memang rasanya, mungkin karena sebelumnya kami tidak terbiasa meminum air mentah, tapi kami tak terlalu memperdulikannya, bukannya air gunung masih belum terkontaminasi, justru ini yang menyehatkan ( asumsi bahwa air ini belum terkontaminasi oleh para pendaki lain yang pipis atau buang hajat di sungai).

Pagi hari di akhir pekan yang indah, tak terasa harus kami akhiri karena jam menunjukan pukul 09.00, jadwal dimana kami harus turun gunung, pertimbangannya adalah karena kami butuh waktu turun gunung sekitar kurang lebih 3.5 jam, belum termasuk keliling nyari jalur sampe nyasar-nyasar ke tebing, terpisah dari tim, melipir ke dasar sungai, sosorodotan, dan gugulantungan di pohon, terus naik lagi nyari jalan, buka jalur, nanjak lagi, serodotan lagi, sampai akhirnya sampai juga kami di tempat camp dengan selamat sentosa walau sedikit bajred di sekujur tubuh.

Pukul 13.30 Saya, Teh Nina, Yoga, dan Tomi menjadi pasukan terakhir yang tiba di Kandang Batu. Kami langsung merapat ke camp, Saya, tami, peggy terkapar lesu di tenda, dan Teh Nina masak (Hahaa parahh, adik macam apa kita-kita iniii, membiarkan kakak tertua yg masakkk). Makanan matang, dan hujan pun turun. Alhasil, kami menyantap hidangan terakhir ini ditemani gemerincik hujan yang datang tiba-tiba. Akibat hujan, rencana setelah makan langsung bongkar tenda pun menjadi terhenti.

Sudah satu jam lebih kami menunggu hujan reda, namun ternyata hujan masih menyisakan gerismisnya. Mau tak mau, kami harus pulang, tak mungkin kami bermalam kembali disini, karena esok kami harus kembali ke rutinitas masing-masing. Pukul 15.00 kami memutuskan bongkar tenda, packing, beres-beres dan segala rupa. Fix beres, pukul 15.30  kami pun mulai berjalan kembali menyusuri hutan melewati jalur Cibodas.  Oh ya, sebelum berangkat, Saya, Teh Nina, Tami, dan Peggy buang air kecil berjamaah terlebih dahulu di balik pepohonan belakang tenda menggunakan alat pembersih seadanya.hihihihi, benar-benar berkesan.

Hore Jalur Cibodas, katanya jalur ini jalur yang paling mending diantara jalur Gunung Putri dan Salabintana. Hemmm tapi ternyataaaaaa?....tunggu dulu, menurut saya justru ini ga kalah ribet dibanding track-track sebelumnya. Memang sih jalunya jauh lebih tertata dan  lebih lebar, tapi kendalanya adalah semua jalur terbuat dari susunan batu kali yang besar-besar, lumayan tajam dan bergerigi, salah-salah injak, ya tergelincir. Itulah yang terjadi pada rekan saya Peggy, hujan yang belum terlalu reda membuat jalan menjadi licin, salah injak batu, dan tergelincirlah dia. Saya melihat sekali krologisnya karena kebetulan saya berjalan di depan dia. Kami dan beberapa rombongan pendaki lain langsung memberikan pertolongan pertama, membasuh luka di kaki dengan air, memebrikan alkohol, memberikan betadin, kemudian membalutnya dengan perban. Tak hanya itu, yang lebih parah adalah ternyata kakinya keseleo. Kang Fadhli kemudian memasangkan sejenis perban elastis untuk menahan posisi tulang di pergelangan mata kakinya, lalu salah satu dari tim kami Andre menggendong dia, karena sudah jelas kaki kanannya sakit jika digerakkan.  Kami semua pontang panting ganti peran, siapa yang handle bawa carier Peggy dan Andre, mau tak mau harus ada beberapa orang yang bergantian double bawa carier , dan mereka adalah Yoga, Kg Fadli, Tomi, dan Mas Dikun.

Mereka memang juara. Teman-teman saya memang hebat. Yoga dengan double cariernya tanpa membawa headlamp, Kg fadhli pun demikian, Tomi dengan carier dan sekarung trashbag berisi sampah, Mas Dikun dengan luka di Kakinya masih bisa menemani saya membuka jalur, Andre masih kuat menopang berat badan Peggy sepanjang perjalanan, Pegy yang pemula namun tak gampang menyerah, Tami yang super tangguh tak sungkan membantu Saya, dan terakhir, Teh Nina yang santei, cekatan, sama seperti Saya ga terlalu tangguh tapi punya nyali besar buat double summit. Kalo Ariel NOAH bilang “KALIAN LUAR BIASAAAAAA”.

Bersama kalian, pendakian dua gunung ini bisa saya lewati dengan mulus. Pukul 20.00, tiba di pos pendakian, mengurus administrasi simaksi terlebih dahulu, lalu akhirnya pulang dengan kaki cidera dan badan bau segala rupa. Trimakasih Kawan, Terimakasih GEDE PANGRANGO.