Selasa, 29 April 2014

Double Summit Gunung Gede dan Pangrango

Part 1 : Pendakian Puncak Gunung Gede

Gunung gede dan Pangrango merupakan suatu kawasan wisata nasional yang terletak dalam satu kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango atau disingkat dengan istilah TNGGP. Untuk mendaki dua puncak ini, ada tiga jalur yang dapat dipilih, dari arah Cianjur (posko Gunung Putri), Bogor (Posko Cibodas), dan Sukabumi (Saalabintana).  

Hari itu, Jumat 18 April 2014, kami memulai misi pendakian ke-3 kami setelah Semeru dan Papandayan, namun kali ini judul misinya agak lebih keren, yaitu Double Summit Puncak Gede Pangrango atau dengan kata lain pendakian dua puncak Gunung Gede dan Pangrango.

AKS, Begitulah demikian nama sekumpulan pendaki kekinian ini disebut. AKS yang merupakan singkatan dari “Ayo Ke Suryakencana” sebenarnya bukan nama baru bagi kami,  AKS ini adalah peralihan dari nama asal kami YKS (baca Yuk Ke Semeru). Kenapa namanya diganti? Mari kita bicarakan di lain pembahasan. Trus kenapa kepanjangannya Ayo Ke Suyakencana? Ya karena kali ini tempat indah berawalan S yang kami tuju adalah Suryakencana, salah satu dari 4 padang edelweis terindah di Indonesia. Oh iya, anggota yang sekarang berangkat berjumlah 18 orang, 17 diantarnya asli nusantara (Sunda, Jawa, Betawi, dan Sumatera) serta seorang asli  vietnam (entah lah nemu dari mana).

Sejak jumat dini hari kami telah tiba di jalur pendakian gunung Putri, jalur pemberangkatan yang kami pilih. Sambil menunggu pagi tiba, kami beristirahat di warung-warung dan halaman depan rumah warga setempat, beruntung sekali karena warga disana sudah terbiasa akan lalu lalang para pendaki yang sedikitnya mengusik tidur nyenyak mereka, alih-alih ini justru menjadi penghasilan tambahan mereka untuk sekedar menjajakan cemilan hangat, kopi, sarapan  serta jasa penyediaan WC umum.

Sang fajar telah keluar dari ufuk timur, itu kali pertama kai melihat sunrise di kaki gunung ini, begitu cantik merah merona, saya fikir di kaki gunungnya saja sudah secantik ini, apalagi jika dilihat dari puncaknya. Karenanya, hal ini menjadi salah-satu penyemangat kami untuk segera berkemas dan bersiap-siap memulai pendakian kami ke puncak yang sudah terbentang luas di depan mata.

Pukul 07.30, setelah melaksanakan olahraga pemanasan dan foto full team yang merupakan ritual wajib bagi pendaki eksis sekelas kami, kami pun bergegas menuju posko penjagaan Gunung Putri (1450 mdpl) terlebih dahulu.  Posko ini wajib kami singgahi untuk melakukan pemeriksaan barang bawaan serta menunjukan persyaratan administratif yang harus kami urus sejak sebulan sebelumnya.

“Ada yang bawa pisau, sabun, odol, radio,???”. “Tidak ada”, dan kami pun lolos melewati pemeriksaan tersebut. Oh ya satu lagi, sampah harus dibawa pulang dan wajib diperlihatkan di posko terakhir pendakian.
Ini nih ada secarik kronologi yang saya salin ulang (berhubung sama banget ceritanya dan lebih kearah males untuk nyeritainnya lagi) dari Jalur Pendakian Gunung Gede dan pangrango  , gini nih ceritanya:

“Pendakian awal berupa jalan setapak yang melintasi kebun penduduk, yang selanjutnya akan menyeberangi sungai kecil. Setelah melewati sungai jalur mulai menanjak dan kita akan menemukan pipa air minum yang disalurkan untuk keperluan penduduk sekitar. Satu jam perjalanan dari pipa air pendaki akan sampai di Pos Tanah Merah yang berupa bangunan bekas kantor Taman Nasional yang sudah tidak terpakai di ketinggian 1.850 mdpl. Beberapa dinding kayu sudah hilang dan lantai kayunyapun sudah pada berlobang, namun atapnya masih bagus sehingga dapat digunakan untuk berteduh.”

“ Jalur semakin menanjak dan melintasi akar-akar pepohonan, suasana hutan semakin lebat dan mencekam, setelah berjalan sekitar 1,5 jam akan sampai di Pos Legok Lenca diketinggian 2.150 mdpl. Jalur berikutnya semakin curam dan licin terutama di musim penghujan, di beberapa tempat medan sempit sehingga pendaki harus ke pinggir bila berjumpa dengan pendaki dari arah berlawanan.”

“Pos berikutnya adalah Buntut Lutung yang berada di ketinggian 2.300 mdpl. Tempat ini agak lega sehingga bisa beristirahat rame-rame setelah melintasi jalur sempit. Jarang sekali ada pendaki yang membuka tenda di pos-pos di sepanjang jalur gunung putri. Selain tempatnya sempit dan tidak ada sumber air, pendaki lebih suka bersusah payah sekuat tenaga untuk sampai di Alun-Alun Surya kencana dan berkemah di sana.”

“Sebelum sampai di lapangan terbuka Surya Kencana kita masih harus melewati dua pos lagi yakni Pos Lawang Seketeng (2.500 mdpl) dengan medan yang semakin terjal dan semakin menguras tenaga, serta Pos Simpang Maleber (2.625 mdpl). Pos yang ada berupa bangunan untuk duduk yang dilengkapi dengan atap yang disangga satu tiang seperti payung. Seperti pos-pos yang lainnya tiang penyangga atap sudah roboh semua.”

Stop sampe sini nyalin cerita orang nya. Sekarang dilanjutkan penuturan dari saya lagi. Apa yang dilansir di cerita diatas benar-benar kami alami ternyata, dari awal berangkat sampai tiba di Suryakencana tuh full tanjakan terjal semua, cape nya luar biasa, meskipun kalo dibandingkan dengan Arcopodo-nya Semeru sih masih males banget Arcopodo. Tapi panjangnya itu lhoooooo, yang bikin perjalanan terasa sangat monoton. Kalo menurut saya sih malesin banget, berasa berjalan tanpa ujung deh.

Untungnya kemonotonan ini membuat saya sadar bahwa semakin lama saya berjalan maka semakin lama saya sampe Surya Kencana. Alhasil Saya dan rekan saya Tomi memutuskan untuk mempercepat langkah kami, berharap di depan sana sudah tidak akan kami temui kemonotonan ini.  Dan setelah melalui hampir 6 jam yang panjang, kami pun tetiba disuguhkan dengan hamparan tanah lapang  menyerupai taman, edelweis tampak depan mata, ternyata inilah Surya Kencana.

Selanjutnya yang saya lakukan adalah menghempaskan tubuh saya ke tanah dekat rerimbunan pohon edelweis, menghela nafas panjang, serta memandang sekeliling saya dengan penuh takjub. Sejauh mata memandang, di sekeliling yang saya lihat hanya padang hijau lapang terhampar ilalang, dan kini edelweis-edelweis itu menghiasi padang rumput ini. Saya menutup mata sejenak, tersenyum sedikit, dan berkata pada diri saya sendiri, “Sungguh tiada hal yang lebih dari indah, selain menikmati lukisan-Mu”. Subhanallah.

Sedikit relaksasi otot dirasa cukup, kami pun membuka bekal yang kami beli pagi tadi di kaki gunung, pindang dan sayur menjadi sajian makan siang kami. Tidak sampai satu jam kami beristirahat disini, usai mengambil foto bersama full team, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat camping, berjalan ke arah kanan mengikuti aliran sungai kecil diantara dua lapang mendekati mata air.

Nah ini kan niatnya mencari tempat nge-camp yang dekat dengan sumber air, tapi belum pun sampai sumber air, malah air yang berinisiatif menghampiri kami terlebih dahulu. Hujan  turun begitu cepat, semakin lama semakin deras, jas hujan  dan cover bag pun menjadi sia-sia,  alhasil sekujur badan dan semua yang kami bawa menjadi basah kuyup.

Bukan hanya itu, hal menarik lain adalah di padang edelweis ini kami sempat terpisah hampir satu setengah jam (bahkan saya sempat ketiduran ditengah hujan deras, sementara teman-teman saya sedang mencari rekan-rekan lainnya ) lamanya, ternyata kami para wanita terpisah dari rombongan kami para pria yang lebih dulu dari kami. Mereka sengaja lebih dulu untuk membangun tenda, barangkali  supaya kami yang agak lambat ini tinggal duduk manis saja di tenda. Tapi ternyata begitu banyak tenda yang dibangun di tempat seluas ini, sehingga kami menemui kesulitan untuk menemukan tenda team kami. Ditambah lagi guyuran hujan deras ini semakin mempersulit kami untuk menjangkau keberadaan mereka. Akhirnya kami mengambil inisiatif untuk mencari mereka dengan panggilan nama, teriakan lebih tepatnya, dan teriakan teriakan itu ternyata membawa kami kepada mereka. Alhamdulillah mereka masih lumayan peka dengan suara kami.

Sekitar pukul 17.00 kami sudah berkerumun di  tiga tenda yang kami bangun. Masing-masing orang sibuk membenahi pakaiannya yang basah kuyup dan menggantinya dengan pakaian lain yang setidaknya tidak terlalu basah.

Menjelang malam, rintik hujan semakin lama semakin melemah. Syukur lah hujan mulai reda, karena kami harus menyalakan api untuk menghangatkan badan dan memasak menu makan malam ini, oseng bayam dan sosis cukup untuk perbaikan gizi malam ini.

Sabtu, 19 April 2014, 3 jam di pagi ini kami habiskan dengan berbagai aktifitas, dari mulai bolak balik sungai buat ngambil air wudhu, ngambil air minum, nyuci alat makan, cuci muka, pipis, sampe buang air besar. Jika dibayangkan sekarang mungkin begitu menjijikan, tapi  entah kenapa pada waktu itu semuanya terasa baik dan sah-sah saja. Menemukan sebuah sumber air saja sudah Alhamdulillah.

Di sudut sebelah tenda, aktifitas lain nampak sedang dilakukan oleh kebanyakan orang, menjemur pakaian. Seketika hamparan edelweis ini dipenuhi oleh hamparan pakaian dan perlengkapan naik gunung kami yang kemarin sore basah terkena hujan. Semua tampak sibuk menjemur dan mengeringkan apapun yang bisa dikeringkan. Padang edelweis ini lebih seperti lapak Gasibu (pasar tumpah setiap hari minggu di Bandung) jika saya tatap sekilas dari atas bukit yang sedari tadi saya pijaki ini. Saya pun tak mau kalah dan segera meniru gaya mereka mengeringkan pakaian.

Pukul 10.00, matahari hendak mulai berdiri di atas kami,  hari yang cerah untuk melanjutkan misi pendakian puncak Gede. Tak banyak basa basi, kami pun bergegas meneruskan perjalanan, kembali menyusuri tanjakan dengan alas batu-batu terjal yang membentuk tangga. Semakin lama semakin menanjak tak karuan, kali ini saya masih tetap bersama parter saya Tomi, sedangkan sisanya nampak sudah jauh di depan kami. Setiap 40 langkah, kemudian saya berhenti dan menghela 10 nafas panjang, begitu seterusnya selama hampir 2 jam, sampai akhirnya kami berhasil menginjakan kaki di 2958 mdpl, Puncak Gunung Gede.  Lekukan kawah raksasa dipinggir puncak yang kami pijaki begitu nyata terpampang, namun baunya yang khas membuat kami tidak betah berlama-lama disini, ditambah lagi dengan kepulan kabut tebalnya yang menghalangi pandangan kami untuk menikmati pemandangan indah bogor, sukabumi, dan cianjur dari atas puncak. Kabut dan gerimis hujan yang turun menggiring kami untuk ikut turun bersama mereka.

Turun Gunung menuju jalur Cibodas, demikian nama jalur pendakian yang kami lalui ini. Dari puncak Gunung gede kami tidak turun melewati jalur yang sama dengan jalur pemberangkatan, namun kami turun lewat track pepohonan tropis dengan akar dan batang yang bisa dijadikan pegangan. Jalur ini cenderung tidak rapi seperti jalur Gunung Putri. Kami mengambil jalur sembarangan semau kami saja, tapi tetap ujung-ujungnya  kami  akan dihadapkan pada suatu jalur pendakian paling curam yang menantang nyali.

Tanjakan Setan. Namanya saja sudah ngeri, dan ternyata memang sesuai dengan kenyataannya. Sebenarnya jika kami mengambil jalur ke sebelah kanan terus, kami bisa lolos dari tanjakan setan ini, tapi justru rintangan ini lah yang membuat kami semakin tertantang.  Satu persatu dari kami mulai membalikan badan menghadap tebing sambil berpegangan pada tambang yang dikaitkan di pohon, perlahan-lahan kaki kami mulai turun mencengkram kuat pada punggung tebing, terpeleset sedikit salah-salah kami bisa terguling ke dasar pendakian.

"Saya kira itu biasa saja, lagipula kan ada tambangnya, gampang lah pasti." Itu hal yang terlontar dari mulut saya saat melihat satu persatu orang sedang menuruni tebing tersebut. Tapi saat giliran saya, baru pun saja menginjakan kaki saya menuruni tebing, hati saya sudah berdebar-debar tak karuan, sambil memegang erat tambang, kaki saya meraba mencari tumpuan, kondisi ini semakin menguji adrenalin saat saya berbalik ke depan dan menoleh ke bawah...gilaaaaa.. ternyata saya masih takut ketinggian. Saya pun terus memegang tambang dan memperkuat pijakan kaki yang sebenernya terasa gemetaran. Alon-alon asal kelakon, sama seperti yang lain, saya pun akhirnya dapat mendarat dengan selamat di dasar tanjakan.

Satu rintangan berhasil dilewati, namun sayang ini bukan akhir dari rintangan. Masing ada beberapa kilo meter yang harus kami lalui untuk sampai di tempat peristirahatan sementara, Kandang Badak.  Sebelum sampai Kandang Badak, ada insiden kecil yang saya alami ketika sedang asik memacu kecepatan menuruni track.  Saat itu nampaknya saya sudah menemukan irama kecepatan saya menuruni track, tapi tanda sadar kaki saya menginjak batu yang licin, terseok menambrak akar, dan saat saya berusaha mempertahankan keseimbangan saya,  tubuh saya malah terpelanting jatuh dan membentur tanah berbatu. Sesaat saya meringis sambil terbangun membenarkan kondisi badan, ada sesosok pria yang membantu saya bangkit, tapi saya agak lupa apakah itu Mas Yanuar atau Mas Dikun. Salah satu rekan saya, Pegi  malah menyuruh saya untuk berhenti dulu, tapi saya rasa ini hanya sepele, tidak apa-apa, lalu saya segera bangkit dan berlari kembali menuruni track.

Singkat cerita sampailah kami di Kandang badak, disini tempatnya tidak se-lapang Surya Kencana, tapi lumayan lah bisa dijadikan tempat nge-camp para pendaki.  Akhirnya kami ber-18 beristirahat terlebih dahulu sambil briefing membahas kelanjutan pendakian kami. Sebenarnya rencana  awal kami adalah melaksanakan dua pendakian sekaligus Gunung Gede dan Pangrango, hanya saja mempertimbangkan cuaca, situasi dan kondisi sekarang, sepertinya tidak akan kondusif lagi jika diteruskan sampai pendakian puncak kedua. Kebingungan ini memecah tim menjadi 3 suara:

  • Pertama, terdapat sekeompok orang yang sudah bulat tekad ingin pulang hari itu juga karena beberapa pertimbangan dan alasan masuk akal, kelompok ini akan langsung menuju Kandang Batu untuk segera pulang;
  • Kedua, terdapat sekelompok orang  yang masih berharap untuk meneruskan pendakian ke Pangrango, kelompok ini seharusnya bermalam di Kandang Badak dan membangun tenda ;
  • Ketiga, Ada sekelompok orang yang masih galau antara ikut pulang bersama kelompok 1 atau tetap tinggal bersama kelompok 2, saya lah orangnya, dan saya pun bingung tidak tau harus kemana.
Yang membuat lebih galaunya, harapan ketua tim kami Yoga adalah, "Jika kita berangkat bersama, pulang pun harus bersama", tapi anehnya dia justru yang paling semangat melanjutkan pendakian (gimana sih, loyal tapi egois, ga konsisten Yoga ini). Berbekal kebimbangan ini lah akhirnya kami menunda solusi perdebatan ini dengan kembali berjalan menyusuri Kandang Batu,  satu jam di perjalanan mungkin cukup bagi kami (saya terutama) untuk dapat menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil.

Di Kandang Batu, ternyata Keolopok Pertama (tidak akan melanjutkan pendakian) sudah langsung pergi turun gunung menuju jalur Cibodas.  Lalu satu demi satu dari kami pergi menyusul turun gunung dengan berbagai pertimbangan yang real dan masuk akal sekali.

Tapi kenapa saya masih saja bimbang? Padaha fisik saya mengingkan saya untuk menyudahi pendakian ini dan ikut pulang bersama 8 rekan lainnya, namun entah mengapa ketika saya memutuskan akan pergi, saya malah mundur lagi dan melirik tekad terbesar saya yaitu masih ingin berjuang menggapai Puncak Pangrango. Tiba-tiba saya pun menjatuhkan pilihan saya bersama 8 rekan yang masih memilih tetap tinggal disini untuk melanjutkan pendakian malam nanti. 






















Selasa, 15 April 2014

Pesona Pulau Bangka, Selalu ada Cerita dibalik Tugas Negara

Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Kali ini saya berangkat kesana bukan untuk tujuan liburan, atau backpackeran, atau pula traveling (awalnya). Pure ini untuk urusan kerjaan, I’m an Civil Engineer (walaupun masih ga PD bgt kalo denger gelar itu disandingkan  di belakang nama saya, maklum masih pemula). Oleh karena saya seorang pegawai proyek di sebuah konsultan jalan dan jembatan di Bandung atau sebut saja PT Indonesian Engineering Consultant Internusa (PT. Indec Internusa), maka sudah menjadi kewajiban saya untuk mengikuti intruksi atasan saya turut serta dalam penanganan proyek tersebut.

Rabu malam, 9 April 2014 lalu, saya bersama rekan dan atasan saya, kami bertiga berangkat dari Bandung menuju ke Bangka. Daerah yang kita tuju adalah Muntok, sebuah kecamatan di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Kami bekerja sama dengan P2JN Provinsi Bangka Belitung terlibat dalam sebuah proyek duplikasi Jembatan Air Daeng di wilayah tersebut.  

Pertama kali saya menginjakan kaki di tanah Bangka, kesan pertama yang saya dapat adalah Panas, haha. Wajar saja, pagi-pagi saja suhu udaranya sudah 30°, sedangkan di tempat tinggal saya hanya 21°, itupun bisa sampai sepanjang hari. Namun ada beberapa hal yang menarik perhatian saya sepanjang perjalanan menuju lokasi proyek. Pertama, jalan cekung cembung yang super lurus sejauh mata memandang; kedua, pohon sawit dimana-mana; ketiga rumah adat dengan arsitektural melayu yang mudah dijumpai; keempat, Tugu Bung Hatta; kelima, pantainya yang super cantik dan seksi.

Pertama, jalan cekung cembung yang super lurus sejauh mata memandang. Jika biasanya kita menjumpai jalan provinsi dengan kontur  berbukit dan berkelok, berbeda dengan ruas jalan menuju muntok yang memiliki kontur jalan cenderung lurus dan datar.  Saking lurusnya, kita bisa melihat jelas beberapa pasang turunan dan tanjakan dalam sekali pandang sehingga terlihat membentuk cekungan dan cembungan yang berkali-kali membuat jantung saya seperti tertinggal ketika melewati setiap turunan (kalo dalam bahasa sundanya mah I’m feeling “ngalenyap. Selain itu, kondisi perkerasan hotmix yang mulussss dengan jumlah volume kendaraan yang terbilang sedikit  untuk level jalan provinsi membuat perjalanan terasa lebih singkat dari jarak sebenarnya (sekitar 133 km dari Pangkal Pinang).

Kedua, pohon sawit dimana-mana. Ini mungkin berkaitan dengan kondisi tofografi wilayah Bangka Barat yang berupa dataran rendah, rawa-rawa, dengan iklim tropis basah. Pohon sawit cocok tumbuh di daerah tropika basah, pada ketinggian 0-700 m diatas permukaan laut. Sehingga sangat wajar apabila sebagian besar mata pencarian penduduk Bangka Barat ini adalah petani kelapa sawit.

Ketiga, rumah adat yang banyak dijumpai. Di sepanjang jalan menuju muntok sangat mudah sekali kita jumpai rumah-rumah tradisional yang berderet indah mewarnai pemandangan Bangka Barat.  Selidik punya selidik, ternyata Bangka kental sekali akan rumah adat nuansa Melayu- nya atau dikenal dengan nama “Rumah Melayu Bubung Panjang” dan “Rumah Melayu Bubung Limas”. Atap-atap  dengan liukan  khas di ujung atas kuda-kudanya ditopang depan badan rumah berbahan kayu kokoh berderet di ujung jalan yang kami lewati, sesekali panorama perkampungan tersebut berganti menjadi hamparan pohon sawit dan hutan bakau, hingga akhirnya sampailah kami ke lokasi proyek.

Ruas Tanjung Klian – Ibul, Km 137+655. Di ruas ini akan dibangun duplikasi jembatan yang melintasi Sungai Daeng. Maka mulai lah kami melakukan survei dan analisis area pembangunan jembatan. Dengan dibantu pihak P2JN Bangka Belitung selaku pemprakarsa proyek, kami melakukan proses pengukuran dan penggambaran detail jembatan,  pengukuran muka air sungai, analisis bangunan utilitas sekitar jembatan, diskusi, dokumentasi, serta kegiatan kelengkapan survei pendahuluan lainnya. Menjelang sore,setelah kegiatan suvei beres dilakukan, kami bergegas kembali ke Pangkal Pinang untuk mendiskusikan kembali beberapa hal di kantor P2JN.  Di perjalanan kami sempat berhenti untuk mengecek proyek jembatan lainnya yang sudah dalam tahap pengerjaan konstruksi.   Sebelumnya, kamipun sempat berhenti untuk sekedar mengabadikan momen di Sebuah Tugu berlambangkan Garuda dan nampak dua patung besar berdiri di sampingnya.

Inilah yang keempat, Tugu Bung Hatta di depan Pesanggrahan Muntok, terletak di pusat kota Muntok. Awalnya saya iseng-iseng saja ingin mengabadikan momen dengan berfoto di depan tugu tersebut. Namun betapa bodohnya saya, ketika mengetahui ternyata tugu itu menyimpan sejarah perjuangan para pendiri negeri ini.  Pesanggrahan Muntok, di rumah yang sekarang menjadi penginapan itulah Bung Karno dan H. Agus Salim diasingkan oleh penjajah Belanda, sejak 6 Februari s.d. 6 Juli 1949. Di sini pula beberapa dokumen penting dikonsep dan ditandatangani, antara lain perpindahan ibu kota dari Jogjakarta ke Jakarta dan  perundingan UNCI, BFO, dan KTN, 22 Juni 1945.

”Nak, kita harus berjuang terus. Pantang mundur!” Kalimat itu membekas dalam ingatan RA Indrawati (79) kendati diucapkan 59 tahun silam oleh Ir Soekarno. Kata-kata presiden pertama RI yang diasingkan ke Bangka itulah yang mengobarkan semangat Indrawati untuk terus berjuang mengusir Belanda yang hendak menguasai kembali Indonesia. (baca: Sepenggal Cerita Muntok).

Lalu, tugu yang terletak di depan Pesanggrahan Muntok ini baru dibangun pada tahun 1951, dan diresmikan oleh Bung Hatta pada 17 Agustus 1951. Itulah kenapa tugu tersebut dinamai Tugu Bung Hatta. Megah sekali bukan cerita bapak-bapak pendahulu kita? Dan kekaguman saya pada sejarah perjuangan bangsa Ini semakin bertambah saja.  Tidak sampai setengah jam kami berfoto disana, karena masih ada satu tempat yang ingin kami singgahi. Ya, apalagi kalo bukan pantai. Mari sejenak kita beralih ke Dataran landai Timur Bangka.

Kelima, Pantai Parai Tenggiri. Satu dari sekian pantai terindah yang pernah saya kunjungi. Pantai ini berada 40 km dari Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang, terletak di Desa Sungai Baru, Kecamatan Sungai Liat, Bangka. Satu kata yang hampir tepat untuk mendeskripsikan apa yang saya lihat ini, SEMPURNA.

Lautnya yang bukan sekedar biru, tapi tosca, unik memang, apalagi dibalut dengan hamparan pasir putih dan pohon kelapa disekitarnya menghasilkan kombinasi warna yang cantik jika kita nikmati dengan mata telanjang. Kontur dataran landai dengan ombak relatif santai membuat pantai ini cocok dijadikan area snorkling, tentunya dengan pemandangan bawah laut yang cukup membuat takjub. Bukan hanya itu, yang paling spesial adalah gugusan batuan yang tertata apik menjadi benteng pemecah ombak di timur laut Bangka ini. Betapa sempurna keindahan kumpulan granit ini meliuk mengikuti cekungan, sebuah dekorasi  natural yang hanya bisa disajikan oleh alam.  Ini lah mengapa diawal saya bilang bahwa pantai ini nyaris sempurna. Kenapa nyaris? karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta. hehe..

Pantai Parai merupakan satu-satunya kawasan tujuan wisata pantai bertarap internasional yang patut dibanggakan dipulau bangka. Hampir semua fasilitas tersedia, mulai dari akomodasi, restauran, bar and grill, cafĂ©, kolam renang, bahkan sport and leisure.

Sejam menjadi tak ada arti saat saya mulai berkeliling menikmati spot demi spot area pantai ini dengan kamera setia saya.  Dan keindahan ini pun segera harus saya sudahi ketika bunyi handphone berdering pertanda panggilan atasan untuk segera merapat melanjutkan pertemuan menuju kantor P2JN Babel.  



































photos by: ananuranita
Sumber: