Selasa, 06 September 2016

PENDAKIAN TEK-TOK GUNUNG BURANGRANG, DAN PENDERITAAN MENAHAN MULES

photo by : dunia-si-ana.blogspot.com


Yessss HOREEE, di gunung ini Saya tak menunaikan kebiasaan yang bisa juga dikatakan sebagai ritual wajib Saya dikala mendaki gunung. OPERASI GOLOK, ya betul sekali. Operasi golok atau secara harfiah merupakan kepanjangan dari menggali lubang menggunakan golok yang diperuntukan sebagai media penampungan sisa makanan yang sebelumnya telah masuk ke dalam mulut kita kemudian dicerna oleh kerongkongan, lambung, dan usus, serta dikeluarkan melalui anus, terakhir di tampung di wadah alami beralas tanah yang alam sediakan untuk kita selaku pendaki gunung. Singkatnya OPERASI GOLOK disederhanakan menjadi GALI LOBANG BUAT BUANG HAJAT.  

BANGKE LUUUUUU tau gitu gak gue simak...!!!

Perjuangan Saya mendaki gunung ini bisa dibilang mati-matian karena harus susah payah mendaki gunung sambil menahan lapar dan dahaga supaya tidak mules. Awalnya Saya percaya, kalo kebiasaan mules Saya bisa ditangani dengan tidak memasukan segala sesuatu yang dapat menekan isi usus Saya.  Tapi nyatanya, hipotesa tersebut salah karena meskipun tidak makan dan minum, tetap saja perut Saya MULES dan KEBELET. Ah sial, berhubung Saya sudah lelah menjalani ritual Operasi Golok di hampir setiap gunung yang Saya jajaki, jadi Saya berusaha keras mendaki dan menuruni gunung ini disertai penderitaan menahan mules, dan Saya tak menyangka ternyata berhasil. YESSS.


Jadi ceritanya sekitar dua minggu lalu, Saya diajak Ridwan (teman mendaki di beberapa Gunung sebelumnya seperti Merbabu dan Lawu) serta beberapa rekan naik gunung Clans PT Dirgantara Indonesia (yang beberapa orang diantaranya seperti Mba Restu, Mba Icha, dan Mas Yanto sudah pernah mendaki bareng Saya) untuk melakukan jalan-jalan malam menjelajahi Gunung Burangrang yang puncaknya berada di pertemuan 3 kota di Jawa Barat, yakni Bandung, Purwakarta, dan Subang. Gunung berketinggian 2050 MDPL yang terbentuk dari letusan Gunung Sunda di abad silam tersebut bisa ditempuh melalui 3 jalur pendakian yakni via Legok Haji, Pos Komando, dan Pangheotan. Dan dari ketiga jalur tersebut, kami menjatuhkan pilihan kepada Jalur Pesantren. 

JALUR PESANTREN? Ini siapa yang bego sih? yang baca atau yang nulis? gak ada tulisannya Jalur Pesantren kali ah...!!! emosi juga nih lama-lama.

Eits siapa bilaaaang...?

ELUUUUUUUU yang bilang tadi woyyy ELUUUUUU. Nih blog lama-lama gue bakar juga.

Sabarrr sabarrr, tenang dulu mangkanye, dengerin penjelasan ane dulu coba gan. Yang dimaksud via Jalur Pesantren itu adalah jalur alternatif yang bisa kita ambil jika tidak bisa masuk via Pos Komando, karena tidak sembarang orang bisa masuk melalui jalur Komando, harus urus ijin sana sini, itupun waktu nya jangan sampai bentrok dengan jadwal latihan para tentara KOPASUS. Fyi, beberapa hutan di Gunung Burangrang merupakan arena latihan tembak menembak dan bom mengebom para tentara KOPASUS, jadi jangan heran ketika sepanjang perjalanan mendaki kamu akan ditemani oleh deru suara meriam dan bunyi tembakan yang saling bersautan.

OKE lanjut, kami (semua tim kecuali Saya, karena sekali lagi, Saya hanya anggota follower yang baru mengiyakan ikut mendaki sekitar H-6 jam keberangkatan) memutuskan mendaki gunung ini dengan cara TEK-TOK saja alias PULANG-PERGI atau PERGI-PULANG alias TOK-TEK. Setelah sebelumnya meeting point di daerah sekitaran Mesjid Salman-Bandung pada minggu dini hari, tanggal 22 Agustus 2016 lalu, selanjutnya kami memacu kecepatan menuju arah Parongpong, Bandung Barat menggunakan motor kami masing-masing kecuali Saya yang nebeng sama adik kelas yang sengaja Saya paksa ikut padahal dia harus nge-lab ngebersin TA nya yang tak kunjung beres eh. 

Singkat cerita kami memulai pendakian sekitar pukul 02:00 dini hari, dimulai dari mesjid Al-Kareem yang Saya katakan jalur Pesantren tadi. Oh ya, pada pendakian jalur ini, setidaknya terdapat 3 puncak bayangan yang bisa kamu namai sesuka hati semisal Puncak Hidup, Puncak Mati, dan Puncak Keabadian, atau Puncak Jomblo, Puncak PHP, dan Puncak Menemukan Pujaan Hati untuk menjadi penanda track-track yang sudah dilewati (berhubung di jalur ini, tidak terdapat pos).

Kenapa ada puncak bayangan? 
Karena beberapa track di gunung ini, berupa dataran mirip puncak yang bisa dijangkau setelah kamu melewati tanjakan curam, yeeayy puncak, karena setelahnya, akan kamu temui turunan yang lumayan curam, tapi ternyata akan kamu temui tanjakan lagi, begitu seterunya sampai kamu sadar bahwa cinta sejati itu tidak harus memiliki  tiba di Puncak yang sebenarnya.

Baiklah mari kita runut. Setengah jam pertama kami menembus jalur pendakian relatif datar berupa kebun-kebun dan deretan pohon pinus. Selanjutnya sekitar 45 menit kemudian, kami memasuki hutan lebat dan sangat gelap (yaiyalah kan situ pergi nya malem-malem) dengan track yang semakin lama semakin menanjak dan semakin mencekam. Astagfirulloh, ketika cerita ini diketik mendadak bulu kuduk Saya merinding lagi begitu hebat kalo mengingat kejadian seram malam itu. Ini kok jadi berasa nulis cerita buat acara malam mencekam ARDAN RADIO yang tayang tiap malem jumat pukul 22;00 sih. SKIP, kembali ke cerita semestinya.

WOOWW ada dataran luas, inikah yang dinamakan puncak???
Tentu BUKAN, BEGOOOOO.

Ternyata ini hanya dataran biasa yang biasanya digunakan para pendaki untuk beristirahat, lalu kami meneruskan perjalanan sekitar 20 menit melewati hutan yang mulai curam sampai kami pun tiba di dataran yang ketua tim kami "Yoga" menyebutnya Puncak Kenikmatan Bayangan 1. Oke, masih dua puncak bayangan lagi, dan perjalanan kami pun masih terus berlanjut hingga sampai Puncak Bayangan 2 (sekiatar 20 menit), melewati track turunan dan tanjakan curam dengan kemiringan bisa dibilang sekitar 60 bahkan 70 derajat, menurut Saya ini mirip sama Cikuray atau Pangrango versi pendeknya. Sampai kemudian  kami tiba di Puncak Bayangan 3 dalam 30 menit sesudahnya. Dan kalian tahu apa yang kami lihat setelah melewati Puncak Bayangan 3 tersebut?

Adalah panorama city light Bandung (eh itu Bandung, atau Subang, atau Purwakaarta ya? wkwkwk) yang begitu indah dengan kerlipan lampu-lampunya, kemudian dihiasi oleh benderangnya sang rembulan yang begitu bulat seperti Saya menemani langkah kita seterusnya menuju puncak. 


Nah, dari puncak bayangan yang dikenal dengan Puncak Meong ini, kamu akan disuguhi dua percabangan, ke sebelah kanan kamu akan tiba di Situ/Danau Lembang, dan jika mengambil jalur lurus seperti kami, maka kamu akan disuguhi track lebih curam dan licin dari track sebelumnya, serta tanjakan yang curam dengan kondisi sisi kjanan dan kirinya berupa jurang menukik tajam. Track itulah yang akan membawa kamu menuju Tugu Triangulasi Puncak Burangrang. Ingat, tetap pasang mata awas dan jaga konsentrasi kamu. 

Tak terasa, tiga jam sudah kami melewati track demi track yang bervariatif, hingga akhirnya kami berhasil menginjakan kaki (cieeee lebay) di dataran cukup sempit yang terdapat sebuah tugu bertuliskan "SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI DATANG DI PUNCAK BURANGRANG + 2050 MDPL MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.


Alhamdulillahirrabilalamin, segala puji hanya bagi Allah penguasa semesta dan seluruh isinya. Asli gak pake bohong, sejauh mata memandang kami bisa melihat indahnya alam ini, yang samar-samar tertutupi gelap, gelap sekali sampai tak ada yang bisa kami lihat, oh kami baru sadar, ternyata ini masih gelap, matahari belum terbit. GEBLEK.



Sambil menunggu terbitnya sunrise, Saya membenarkan posisi duduk menyender ke tugu, mencoba menundukan kepala dan merenung, kemudian tertidur nyender ke tugu karena ngantuk, jadi Saya tidak sempat melihat terbitnya si telor ceplok. SIAL.

Tapi tak apa, karena sehabis itu Saya disuguhkan pemadangan pagi luar biasa dari puncak Burangrang. Sebuah gugusan pegunungan Sunda yang melekuk indah membalut damainya Situ Lembang yang diam-diam tertutupi kabut putih ala gunung. Diatasnya nampak segaris cahaya jingga beralaskan birunya langit yang semakin lama semakin terang. Untuk mengabadikan momen indah ini, tanpa ragu Saya langsung merogoh kamera kesayangan Saya dari dalam tas yang tak lama kemudian Saya sadar OMAIGAT Saya lupa membawa memory card nya. FIX, KEBODOHAN HAQIQI.

Ah pokonya indah we lah, Saya bilang sih view dari gunung Burangrang ini ibarat melihat view Bromo dari Puncak Penanjakannya, Burangrang rasa Bromo, tapi Bandung tetaplah Bandung, rasanya unik dan Saya suka. Terimakasih Tuhan sudah memberi kesempatan Saya untuk menikmati Bandung lebih intim, dan bersyukur lebih dalam lagi. Matur Suwun Mase dan Mbae yang sudah berkenan mengajak Saya berkunjung ke kediaman leluhur Saya ini.

























note :
Oh ya, mau tau gak kejadian menyeramkan yang saya alami ketika melaksanakan perjalanan malam mendaki gunung Burangrang ini?

Simak baik-baik, namun cukup Saya saja yang kaget, kalian jangan ya. Jadi ketika Saya sedang beristirahat sambil selonjoran di Puncak Bayangan yang tadi Saya bilang, entah kenapa Saya merasakan ada sesosok mahkluk hitam yang diam-diam mengikuti Saya dari belakang, semakin Saya diam ternyata bayangan itu semakin menempel di dekat Saya, Saya terperanjat dan berteriak kaget, akhirnya bismillah Saya paksakan melirik ke sisi dimana bayangan itu tampak mendekat, dan betapa semakin kagetnya Saya ketika menyadari bahwa makhluk hitam tersebut adalah bayangan Saya sendiri. GUSTI ALLOH, KESOTOYAN MACAM APA INI...?? SAYA KAGET SAMA BAYANGAN SAYA SENDIRIIIIIII :(

Untungnya hanya ada satu orang saja yang menyadari akan hal ini, sedang yang lainnya tidak, semoga saja. Tapi bodohnya, orang tersebut juga malah ikut kaget. 
HAHAHAHAHADUHAINGNGAKAKTERUSKALOINGATKEJADIANINI. Unforgettable momen lah pokona mah nuhun Burangrang, nuhun Bandung, nuhun leluhur.

written : +ana nuranita 
sumber : @yogafebriano dan +ana nuranita 
photos  : +Muhammad Ridwan  @andiizig @ananuranita @restu