Jumat, 07 Februari 2014

Pendakian Puncak Gunung Papandayan

Masih bersama YKS team, libur imlek pekan lalu, tepatnya tanggal 31 Januari 2014, Saya dan beberapa kawan seperjuangan Pendakian menuju Puncak Mahameru (Guntur, Yoga, Agita, Mila, Chitra, Teh Nina, Tami, dan Uchi) kembali ingin menelusuri keindahan alam raya dari atas ketinggian. Dan Papandayan lah yang menjadi gunung pilihan ketua tim kami, Guntur. Di cerita tempo lalu, Saya pernah bilang bawa alam dapat menyatukan perbedaan, dan hal tersebut berlaku juga di perjalanan kami kali ini. Guntur membawa pasukan baru, sebut saja DNF (Doni and Friends), mereka ber-13 orang adalah rekan-rekan kerja Guntur di kantornya., 4 orang wanita ( Ainun, Icha, Putri, Reni) dan sisanya para pria ( Mas Doni, Abul, Cupit, Hendro, dll). Jika ditinjau dari logat bicaranya yang kental, kebanyakan dari mereka sepertinya  berasal dari daerah Jawa (yang jelas bukan Jawa Barat), dan ternyata memang benar. Inilah mengapa tadi saya bilang alam dapat menyatukan perbedaan, dari mulai beda tempat kuliah, jurusan, daerah, tempat kerja, suku bangsa, bahkan negara (cuma sayang disini 4 bule-bule kemarin gabisa ikut). 



Menurut informasi yang dilansir dari Mbah Wiki, " Gunung Papandayan adalah gunung api yang treletak di Kabupaaten Garut, ajawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 mdpl itu terletak 70 km sebelah tenggara kota Bandung. Gunung ini memiliki beberapa kawah yang terkenal, diantaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Naangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya. Tofografi di dalam kawasan curam, berbukit dan bergunung serta terdapat tebing yang  terjal. Menurut klasifikasi Schmidt dan Furquson termasuk type iklim B, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/thn, kelembaban udara 70-80 % dan temperatur 10 C.


Itulah sekelumit gambaran umum mengenai Gunung yang kami daki kali ini. Sebagai info tambahan yang saya dapat dari....(Tet tot lupa nama website nya), gunung ini juga masuk ke dalam salh-satu dari 4 gunung dengan padang edelweiss terindah di Indonesia disamping Gunung Gede, Pangrango, dan Rinjani. Gimana ga penasaran coba.. makannya supaya ga semakin mengawang-ngawang, langsung kita simak ceritanya.

Di suatu pagi yang cerah di kota kembang,, (hallaaaah, udah kaya dongeng aja pembukaannya). Oke, jadi gini ceritanya, jumat pagi tanggal 31 Januari 2014 bertepatan dengan libur imlek, kami berangkat dari stasiun Bandung tujuan Cicalengka menggunakan kereta api KRD Bandung. Tidak butuh waktu lama kami menumpangi kereta tersebut, satu jam kemudian kami telah sampai di stasiun Cicalengka.  Disana kami memulai perkenalan satu sama lain antar anggota sambil menunggu angkot yang kami charter munuju Cisurupan, Garut.

Singkat cerita, sampailah kami di alun-alun Cisurupan. Disini, kami berhenti lumayan lama untuk mengecek kembali persiapan logistik dan perbekalan sambil menunggu anak laki-laki jumatan. Dari mulai yang jumat’an, makan siang, bungkus bekal, jajan es krim,  cek kelengkapan, bolak balik wc untuk sekedar pipis, sampe yang buang air besar pun ga kalah bolak balik. Pokonya segala aktifitas berbau kelaziman kami selesaikan disini, karena disana tidak akan lagi kami temukan fasilitas-fasilitas umum seperti biasanya (iyalahhhhhh, namanya juga gunuuung).

Sekitar jam 13.30 kami melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian yang untungnya masih bisa dijangkau dengan kendaraan sejenis Jeep (kalo di Semeru), ya kalo di Garut sih istilahnya Kol buntung atau Kolbak (Itu lohhh yang biasa dipakai buat ngangkut sayur atau domba Garut tea geuning..). Luarrrr biasa sekali garinjulna ieu jalan (= istilah untuk mengatakan jalannya rusak /jelek dalam bahasa Garut), saking jeleknya, belum pun kami memulai pendakian, tapi rasa sakit di badan (tepatnya pantat dan punggung) sudah lumayan terasa gara-gara goncangan badan yang mau tak mau harus berbenturan dengan permukaan kolbak yang kami duduki. Satu jam dengan kondisi seperti itu menjadi tidak terasa karena ketika kami nikmati perjalanan dengan penuh guyonan, candaan dan cengkrama khas ala kami.



Lalu tibalah kami di posko pendakian. Cuaca disini mendung,  lekukan panorama gunung pun hanya bisa kami lihat samar-samar karena tertutup gumpalan awan hitam pembawa hujan. Semoga ramalan cuaca BMG yang mengatakan hari ini akan turun hujan deras adalah keliru. Tapi ternyata hipotesa kami yang keliru, tak lama setelah kami melakukan olahraga pemanasan, hujan pun turun, bubarlah kami mencari tempat berteduh, terjadilah kegalauan antara menunggu hujan reda atau sama sekali tak memperdulikannya. Cuma ada 2 pilihan dan kami harus memutuskan satu, akhirnya salah satu dari kami terlibat percakapan seperti ini:

Unyil    : Jangan risaukan hujan, ayo kita mulai mendaki saja..!
Usro     : Tapi kan, hujannya masih deras bung.
Unyil    : Ayo jangan mau kalah sama hujan, buktikan bahwa kita tangguh..!
Usro     : Oh benar juga, jadi kita berangkat sekarang aja nih bung?
Unyil    : Kenapa tidak, jika hujannya sudah mulai reda.
Usro     : Gubraaaaakkkkk...ftftftftfttt... berlalu tanpa tanda tanya.

Ah sepertinya memang cuaca sedang tidak bersahabat dengan kami, sekitar pukul 15.00 akhirnya kami memutuskan untuk berangkat dan mulai menapaki jalur pendakian. Trek di awal pendakian ini dihiasi oleh pemandangan tebing-tebing yang menjulang tinggi dan cekungan-cekungan kawah Papandayan yang mengeluarkan bau blerang super tajam. Perjalan kali ini rasanya begitu berisik, bunyi air hujan beradu dengan bebatuan sisa letusan gunung yang kawahnya masih aktif bahkan sewaktu-waktu bisa meletus lagi. Raincoat yang kami kenakan menjadi tidak ada fungsinya, hujannya memang benar-benar ramah ingin menemani perjalanan kami.




Hampir setengah perjalanan menuju tempat camp (Pondok Saladah) dilalui dengan track lumayan menanjak, full berbatu, dan tentunya berbau bangeeet. Hujan masih turun dan kami masih melangkah, sesekali berfoto, sesekali meneguk air mineral sebagai penghilang dahaga, dan sesekali menghentikan langkah untuk sekedar menghela nafas panjang.



Tepat di ujung jalur kawah bebatuan kami berpapasan dengan sekelompok pengendara motor cross yang ternyata mereka sedang ber-offroad (dari jalur manaaaa gitu lupa tapi yang pasti beda kabupaten pokonya) hingga menembus menuju jalur bebatuan ini. Kaget juga sebenarnya, track untuk pendakian seperti ini bisa dilalui jalur pe-motor gila seperti mereka. Momen seperti ini sangat sayang jika dilewatkan begitu saja, maka dari itu saya, Tami, Guntur dan Mila menyempatkan diri untuk berpose diatas motor layaknya pengendara tangguh ditepi tebing.





Sedikit intermezo rasanya cukup, kami harus mendirikan tenda  sebelum hari semakin gelap. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Menjelang track selanjutnya, panorama kanan kiri sudah mulai berganti dengan  barisan pohon tinggi nan rimbun yang menghiasi tebing-tebing curam. Dari sini, konturnya terus menanjak, hanya berupa jalur setapak., itupun sebenarnya bukan jalur khusus pendaki, tapi lebih terlihat seberti jalur aliran air. Kami berjalan menelusuri jalur bersamaan dengan air hujan yang mengalir sampai tepat di atas mata kaki kami. Awalnya saya kira ini musibah, tapi setelah saya pikir-pikir lagi ini justru anugrah. Dengan datangnya hujan ini, saya semakin menyadari bahwa tanpa hujan, semua yang hijau ini tidak akan bisa tumbuh dan bertahan begitu indah membalut tebing-tebing curam ini, sehingga pada akhirnya saya dan yang lain bisa menikmati keindahan ini dengan mata telanjang. Terimakasih hujan.

Belum beres ceritanya, di setengah perjalanan ini saya lebih banyak berjalan agak terpisah dari rombongan, ada beberapa yang lumayan jauh di depan saya, dan kebanyakan masih jauh di belakang saya. Bukan sengaja memisahkan diri, hanya saja saya terlalu terlena dengan pesona tebing-tebing hijau di sekeliling yang membuat saya terlalu sering merogoh kamera dan mengabadikan setiap momen yang saya lalui di tengah gemercik hujan ini.





Lawang Angin, agak aneh sih namanya, tapi inilah tempatnya. Tak terasa kami tiba di suatu padang rumput agak lapang, ada satu bangunan disitu yang ternyata adalah posko pendakian kedua. Posko ini biasanya diperuntukan wajib lapor bagi para pendaki yang turun gunung. Tidak jauh dari sana, terlihat sebuah plang di pohon lengkap dengan arah panah bertuliskan “Pondok Saladah”. Uwooooooo (ekspresi khas ala guntur) satelah membaca petunjuk itu, saya menjadi semakin bersemangat untuk menaiki jalur menanjak, terjal nan setapak itu.







Menanjak dan licin, tanpa turunan sama sekali. Track kali ini harus lebih hati-hati karena di sebelah kiri jalur sempit tersebut kami langsung disuguhi jurang curam sepanjang track, tergelincir sedikit, salah salah kami bisa terperosok jatuh ke jurang. kami pun fokus berjalan tertunduk sambil menajamkan mata ke arah track, dan tanpa terasa ( terasa banget sih sebenarnya) track menanjak itu tiba-tiba disulap menjadi padang rumput lapang di depan mata kami (bukan disulap, tapi karena terlalu fokus nunduk, jadinya ga sadar udah sampai di Pondok Saladah). “Uwoooooooo (lagi) kita sudah sampai teman-temaaaan,,. Ayo kita cari tempat buat nge-camp.



“Jangan disana..! ada jalur aliran air. Jangan disini..! permukaannya ga rata. Disana saja..! biar bisa numpang nge-api unggun ke yang lain. Disini saja, biar..., disana saja, disana sini hatiku senang, lalalalalalala,,lalalalaaa....”
Hampir setengah jam lebih kami berdiskusi soal tempat nge-camp. Semua orang mencari, bahkan sepertinya ada segerombolan mata yang memperhatikan kemondar-mandiran kami, bertanya asal muasal kami, memberi saran ini itu, sampai mengira kalo kami ini sekumpulan anak-anak pencinta alam SMA sama seperti mereka. Juara emang, entah muka kami yang begitu imut-imut ataukah karena pandangan mereka yang tertutup kabut saat melihat kami. Hemm apapun itu, tapi terimakasih karena Cuma kalian yang melihat kami sebagai remaja-remaja imut.



Sedang asiknya kita bercengkrama dengan anak-anak SMA itu, Tami dan Chitra datang menghampiri kami. Mereka sudah menemukan tempat nge-camp yang pas untuk kami. Saya, Tami, Yoga dan Agita segera merapat ke TKP untuk mendirikan tenda sementara Teh Nina, Mila, Chitra, dan Uchi datang menyusul (mungkin mereka jatuh hati pada anak-anak SMA itu).

Tenda sudah dipasang, hujan belum begitu reda, cuaca masih berkabut, suhu udara semakin menggigit kulit, dan kami mulai laparrrrrrr. Alhasil, kami ber-8 berdesak-desakan di 1 tenda kecil (tenda lainnya dibawa Guntur dkk) menyantap bekal seadanya sambil menunggu Guntur dan rombongan DNS tiba.

18:30. Saya melirik jam tangan fossil ES-3030 yang akhir-akhir ini selalu setia menemani perjalanan saya. Tak terasa hari pun berganti menjadi malam pekat bersamaan dengan berhentinya hujan. Hanya dingin dan perlengkapan basah kuyup yang tersisa.  Tak lama kemudian, rombongan lainnya pun datang dan segera mendirikan tenda. Sedangkan kami yang telah lebih dulu datang, menyalakan kompor parafin, memasak air teh atau kopi untuk sekedar menghangatkan tenggorokan.




Malamnya, masing-masing orang sibuk dengan aktifitas menghangatkan badan di tenda mereka massing-masing. Tidak terkecuali dengan kami tim YKS. Kembali, di satu tenda kecil ini kami rela berdesak-desakan untuk suatu misi rahasia, “Tiup lilin satu bulanannya YKS”, petualangan pertama YKS di akhir desember 2013 dan malam ini kami memulai petualangan lagi di akhir januari 2014. Ucapan selamat, doa, harapan, dan tentunya obrolan gosip menjadi pengiring indah menjelang mimpi kami di Bukit Pondok Saladah ini.

03.00. Dini hari di Pondok Saladah. Sebagian dari kami sudah ada yang bangun, karena berdasarkan schedule sekarang adalah saatnya persiapan menuju hutan mati, sementara sisanya masih asik dengan mimpi dan dengkurannya. Chitra menjadi orang pertama di tenda kami yang keluar tenda, dan entah kenapa suatu keajaiban karena saya menjadi pengikut selanjutnya (biasanya saya selalu menjadi yang kedua terakhir dalam hal apapun), ternyata ini gara-gara kebelet pipis, Saya cepat-cepat menyusul Chitra menelusuri semak belukar untuk mencari “tempat cocok”. Alhamdulillah leganya.

Tak lama setelah kami kembali, orang-orang pun sudah mulai ramai melakukan persiapan, dari mulai masak air, mengemas perlengkapan summit, mengenakan perlengkapan anti dingin, sarapan roti, buang air kecil, sampai aktifitas melakukan Operasi Golok (= buang air besar dengan cara membuat lubang menggunakan golok di semak belukar), aktifitas tersebut entah kenapa menjadi kebiasaan Saya dan Mila akhir-akhir ini.

04.00. Saatnya kami memulai perjalanan menuju Hutan Mati. Kenapa disebut Hutan Mati? Alasannya adalah kalian bisa menyimpulkannya berdasarkan gambar yang sempat Saya abadikan ini. Rawa berlumpur, becek, lembek dengan kontur yang cenderung datar. Selama sekitar satu jam, Itulah track yang harus kami lalui hingga akhirnya kami mendapati suatu padang kering nan tandus yang dihuni oleh batang-batang pohon penuh ranting namun tanpa daun. Inilah Hutan Mati. Letusan Gunung Papandayan di masa silam hanya menyisakan  barisan batang dan ranting saja.   
Terkesan mengerikan bukan? Tapi yang terlihat adalah sebaliknya, lekukan pohon-pohon itu berderet rapi  menghiasi hamparan padang tandus yang jika kita telusuri hingga ujung tebing, ada sekumpulan panorama mengejutkan yang akan kita lihat lebih dekat.




Subhanallah. Semua yang hanya bisa Saya lihat di coretan lukisan ternyata terpampang jelas di depan mata. Sang fajar yang mulai mengintip dari balik puncak ditemani sekumpulan awan putih terhampar luas sepanjang mata memandang. Jika bukan tebing curam dan cekungan kawah yang jadi pembatas, sudah saya hampiri mereka.  Ini bukan hanya dongeng, tapi benar-benar negeri di atas awan. Allahuakbar. Engkau memang Maha Besar.





Dari sudut dimana Saya berdiri, gumpalan putih menyerupai awan tersebut samar-samar mulai menepi dan tergantikan dengan panorama indah di bawah sana, sepertinya semua pun bisa Saya lihat dari sini.  Bukan hanya itu saja, ternyata Saya bisa melihat gunung-gunung lain yang ternyata berderet membungkus negeri kelahiran saya tercinta, Garut ini.












Hampir  dua jam kami bertengger di sini, di tepi hutan mati dengan berjuta pesonanya. Dua jam sepertinya belum cukup, namun perjalanan belum usai, kami masih harus menapaki jalur pendakian untuk mencapai tujuan utama kami “Puncak“. Rasanya kami sudah tidak sabar menantikan keindahan selanjutnya di Tegal Alun yang merupakan puncak gunung dengan hamparan padang edelweissnya.  Sekitar pukul 07.00 kami mulai move on.






Perjalanan pun kini tak lagi semudah menggapai hutan mati, kembali kami disuguhkan dengan jalur pendakian ekstrim, berbatu, becek, dan dengan tanjakannya yang curam. Ini bukan masalah besar, kami pernah melalui hal yang lebih ekstrim sebelum ini (sombooong yang pernah mendaki ke Semeru). Berapa lama persisnya Saya lupa (1.5 atau 2 jam gitu), pokoknya setelah melewati jalur yang menguras tenaga dan dahaga ini akhirnya kami dapat menginjakan kaki di Padang Edelweiss Tegal Alun.

Ahhh entah kata-kata apalagi yang harus saya tulis disini untuk mengungkapkan kekaguman saya terhadap apa yang sedang saya saksikan sekarang. Jujur memang ini padang edelweiss terindah yang pernah Saya temui. Hamparan edelweiss dengan balutan tebing yang ditumbuhi pohon-pohon menjulang tinggi di sekelilingnya membuat saya tidak ingin cepat beranjak dari puncak Papandayan ini. Ratusan foto mungkin telah kami simpan di memori kamera kami masing-masing, bahkan kami pun sempat membuat video Teletubbis karena kebetulan situasi, lokasi dan warna jaket yang kami kenakan menyerupai 4 tokoh Teletubbis.











Orang bilang, puncak Papandayan itu ya Tegal Alun ini, maka dari itu kami berniat ingin berfoto di belakang tulisan “Puncak Papandayan 2665 mdpl”. Lha tapi setelah kami berkeliling, ko belum nemu juga tulisannya.
No picture = Hoax = Ga ada foto tulisan puncak = Ga sampe puncak.

Berbekal keyakinan tersebut, akhirnya kami bertekad ingin mencari tulisan puncak papandayan tersebut, karena memang beberapa orang yang sudah pernah kesini ada juga yang berhasil menemukan tulisan tersebut.  Untungnya kami bertemu dengan sesama pendaki yang ternyata baru berhasil menemukan puncak. Selanjutnya kami menelusuri hutan sesuai petunjuk pendaki tadi.

Nah, disinilah kesimpangsiuran terjadi. Ketika kami mulai menelusuri jalur, kami berpapasan lagi dengan pendaki lain yang memberi tahu bahwa mereka telah berhasil menemukan puncak papandayan tapi dengan jalur dan posisi puncak yang berbeda dengan yang ditunjukan pendaki pertama. Mereka sama-sama memperlihatkan foto puncak kepada kami namun dengan lokasi dan tulisan “Puncak’ yang berbeda.  Apa maksudnya semua ini??? Kondisi ini membuat kami semakin penasaran mengubek-ngubek isi hutan ini.

Ternyata terlalu banyak jalur disini, ini membuat semuanya semakin bingung. Akhirnya kami berpencar mengambil jalur masing-masing yang kami yakini, tapi ternyata kami malah berputar-putar di jalur itu-itu saja hingga pada suatu saat setelah semua orang sibuk mencari letak persis puncak, satu orang diantara kami “Guntur” datang kembali menghampiri kami dan mengatakan bahwa dia telah berhasil menemukan tulisan itu. Saya, Mila, Anggun, Agita,dll yang masih mencari di jalur lain akhirnya dipanggil-panggil supaya mengikuti jalur yang Guntur temukan.

“Teman-teman kita sudah sampai, ini puncaknya.” Jelas memang, disitu ada batang pohon portable yang dipasang plang bertuliskan “Puncak Papandayan” namun tulisan 2665 mdpl-nya telah terhapus. Saya pribadi sih sebenarnya bingung harus berekspresi seperti apa, melihat kondisi tulisan puncak yang letaknya masih lebih rendah dari tanah yang sedang saya pijak. Haha aneh memang, tapi setidaknya ada bukti bahwa kita telah mencapai puncak Gunung Papandayan ini.  Sesuatu yang kita yakini, itulah yang terjadi. Begitupula dengan ending dari pertanyaan:

Unyil    : Dimana sih sebenarnya puncak Gunung Papandayan?
Usro    : Ya disini, tepat dimana setiap orang menyakini bahwa “sebuah puncak  dapat  diraih saat kita berhasil melalui tantangan yang kita yakini bisa melaluinya.