Friday, December 19, 2014

Menggali Pesona Garut Melalui Talaga Bodas dan Gunung Piramida



Sesekali melangkah bersama, sesekali membuka bekal, sesekali melempar batu, sesekali membuat pose, sesekali mengerutkan dahi, sesekali mengelap keringat, sesekali meloncat girang, sesekali meneriaki alam, sesekali merangkul kawan, sesekali menyadari betapa tak ada kesia-siaan yang Tuhan buatkan. Sesekali, berterimakasihlah.
-Badriana Nuranita 



Minggu, 7 Desember 2014, pukul 07:00. Pagi itu Saya sudah siap-siap berkemas dengan perlengkapan seadanya. Dari selaawi, sebuah kecamatan perbatasan utara Garut – Sumedang yang merupakan rumah tinggal saya, Saya segera merapat menuju rumah teman Saya di Leuwigoong. Ini hari kedua kami bersama kawan-kawan dari Bandung berkeliling Garut. Saya dan Guntur adalah teman satu SMA  yang sudah hampir setahun ini sering menghabiskan waktu bersama menjajaki pantai dan gunung di berbagai tempat. 

“Maenya nu jauh-jauh wae, yu ah sakali-kali ka imah sorangan”(Masa yang jauh-jauh terus,  yuk ah sesekali ke rumah sendiri). Salah satu alasan yang membuat kami menjadikan Garut sebagai tujuan travelling kami kali ini.

Talaga Bodas, sebuah telaga yang berada di dataran tinggi timur Garut dengan ketinggian 1512 MDPL. Telaga ini berjarak tidak lebih dari 23 km dari kota Garut. Dan inilah yang menjadi tujuan pamungkas AKS Goes to Garut (begitu nama sekumpulan kami disebut). Guntur, Saya, beserta 13 kawan-kawan dari Bandung begitu terkesan ingin mencicipi pesona Telaga-nya Garut setelah sebelumnya Gunung Papandayan, Guntur, Cikuray, Curug Sanghyang Taraje, dan Kawah Darajat.


Sebenarnya ada beberapa jalur yang bisa ditempuh untuk sampai ke tempat wisata alam yang berada di kecamatan Wanaraja tersebut. Berangkat dari Bandung kamu bisa mengambil arah melewati kota Garut menuju Bunderan Suci, atau jika dari Tasik, akan lebih mudah kamu mengambil jalur lewat malangbong menuju kecamatan Cibatu, atau jika kamu seperti kami yang memulai perjalanan dari wilayah utara Garut seperti leuwigoong, Cibiuk, dan Limbangan, ada jalur pintas yang bisa kamu lewati. Dan perjalan tersebut akan dibahas melalui cerita ini.

Sekitar pukul 09:00, kami memulai perjalanan. Dari Jalan utama Leuwigoong, berbelok ke arah jalan yang sejajar dengan rel kereta api,  kami berangkat menuju jalur alternatif yang nantinya akan menembus ke perbatasan Cibatu - Wanaraja. Kurang dari satu jam perjalanan yang kami tempuh untuk sampai ke jalan perbatasan Cibatu-Wanaraja, kemudian berbelok ke kiri, kami mulai memasuki kawasan pemukiman khas dataran tinggi, berada di kecamatan Wanaraja. Beriringan menggunakan sepeda motor, kami ber-15 memacu kecepatan melewati jalanan mulus beraspal.

Banyak pemandangan indah yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan, tidak berbeda dengan dataran tinggi pada umumnya, sejauh mata memandang dapat kita nikmati deretan pepohonan khas tropis, disekitarnya nampak bukit-bukit yang ditumbuhi sayuran-sayuran.


Pukul 10.15, kami tiba di sebuah jalan dengan bibir lembah yang cukup luas, ada pemandangan cantik yang membuat kami tiba-tiba sepakat untuk menghentikan langkah. Lalu kami pun berhenti.
Gunung Piramida, demikian kebanyakan orang menyebutnya, berada di Desa Sadahurip, Kecamatan Pangatikan, Garut.  Terang saja, gunung bernama Sadahurip ini memang memiliki bentuk yg mirip dengan piramid. Menurut cerita, gunung tersebut kental dengan beberapa kisah misteri mengenai asal usulnya. Entah lah, tapi faktanya gunung mungil ini emang cantik. Jika kamu seorang pendaki, pasti kamu gregetan ingin menjajaki puncaknya yang lancip menjulang.  Sayangnya tujuan utama kami sekarang bukan itu, hanya tersedia setengah jam bagi kami untuk menikmati keindahan panorama asri pedesaannya, menghirup kesegaran aroma gunungnya,  dan tentunya mengabadikan momen ini dalam kamera. 


Gunung Sadahurip yang dikenal Gunung Piramid




selfie adalah keharusan



Para Wanita AKS dengan pose menutupi gunung



Para personil AKS dengan pose menutupi setengahnya gunung



Masih Kita dengan pose menutupi gunungnya





Selanjutnya pukul 10:45, kembali kami memacu kecepatan, kali ini menanjaki jalanan bolong. Hati-hati bagi pengguna kendaraan, butuh skill ekstra dan kondisi motor yang prima untuk melewati medan ini. Tapi justru disini seninya, jika bersama mereka yang satu misi, selelah apapun perjalanan akan ada saja lelucon berbalut kebersamaan yang membuat perjalanan semakin berkesan. Saking serunya, tanpa terasa kami sudah mulai melihat sebuah gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Taman Wisata Alam Talaga Bodas”.


Tampak gerbang depan Taman Wisata Alam Talaga Bodas



Pukul 11:00. Yeeeee sampai. Di gerbang ini, kami langsung ditodongi tiket masuk seharga 7.500 per/org ditambah dengan  tarif masuk motor 7.500/kend, karena kami datang pada hari libur. Jika kamu datang kesini pada hari biasa, kamu hanya dikenakan tarif masuk 5.000 saja.

Setelah melewati gerbang, kamu akan disuguhkan dengan deretan jongko yang menjual aneka jajanan, cindera mata, dan oleh-oleh khas Garut. Selain jajanan yang lengkap, fasilitas umum seperti toilet dan mushola juga semakin lengkap, apalagi kini sudah dibangun cottage di sekitar lokasi wisata, sehingga para pengunjung yang ingin berlama-lama tidak perlu khawatir mencari tempat penginapan.



Tarif karcis masuk ke lokasi ini bisa dilihat di foto diatas.



Selanjutnya kamu akan disuguhi berbagai macam jajanan dan cindera mata khas dataran tinggi


Rasanya kami sudah tidak sabar ingin melihat Talaga Bodas. Tinggal satu tahap lagi, setelah membayar karcis dan menyimpan kendaraan, kamu hanya tinggal berjalan kaki tak lebih dari 100 meter melewati jalanan beraspal mulus namun sedikit menanjak. Berjalan kaki memang lebih sehat dan lebih menghangatkan suasana kamu dan teman-teman. Karena kendaraan pribadi tidak diperkenankan melewati jalan ini, maka kamu bisa menggunakan jasa ojeg setempat yang tersedia. 



Palang yang tidak boleh dilewati kendaraan pribadi kecuali ojeg masyarakat setempat



Pukul 11:15. Adalah Talaga Bodas, sebuah cekungan berisi sedimentasi blerang dan lumut yang membentuk telaga berwarna putih dengan kepulan asap dan bau khasnya yang begitu menyengat. Sebentar, sejenak saya mengingat-ingat sepertinya saya pernah melihat tempat ini sebelumnya. Oh ya, itu memang Talaga Bodas, foto Talaga Bodas lebih tepatnya. Saya jadi teringat beberapa tahun lalu saat saya masih kelas 1 SMA, kakak kelas saya pernah memperlihatkan foto-foto saat dia dan teman-temannya berkemah disini. Dia juga menceritakan keseruannya saat menjelajahi hutan Talaga Bodas, mendengar suara babi hutan di malam hari, sampai susahnya mencari tumpangan truk saat akan pergi. Wah pasti seru sekali jika Saya dan teman-teman mengalaminya juga, gumam saya dalam hati. 












Talaga bodas dari berbagai view



Melihat hamparan biru talaga dengan pahatan bebatuan menghiasinya, membuat tangan ini tak sabar untuk merogoh kamera ponsel yang akhir-akhir ini setia menemani perjalanan saya. Tanpa berlama-lama, kami langsung mengabadikan berbagai situasi dan momen menyenangkan bersama alam Garut ini.  Membawa teman adalah pilihan yang cocok untuk menikmati sensasi kebersamaan di telaga ini, membawa keluarga tak kalah menghangatkan, terlebih bersama kekasih hati, sepertinya tak ada pilihan yang salah. Karena suasana romantisnya, tak jarang telaga ini pun dijadikan lokasi pemotretan foto pre-wedding.


Bagi pengagum landscape, Talaga bodas menjadi pilihan yang tepat. Hamparan air yang seolah berwarna biru dengan asap yang membumbung tinggi dihiasi hijaunya hutan dan barisan ilalang yang melekuk membentuk hati. Andai saat itu langitnya secerah biru,  tentu akan menghasilkan sebuah jepretan yang sempurna.



Talaga Bodas with Panorama





Pukul 12:15. Jika bukan karena cuaca yang sedang kurang bersahabat, mungkin saat ini kami belum segera berkemas. Sesekali melangkah bersama, sesekali membuka bekal, sesekali melempar batu, sesekali membuat pose, sesekali mengerutkan dahi, sesekali mengelap keringat, sesekali meloncat girang, sesekali meneriaki alam, sesekali merangkul kawan, sesekali menyadari betapa tak ada kesia-siaan yang Tuhan buatkan. Sesekali, berterimakasihlah.

Garut, 7 Desember 2014

Badriana Nuranita





Pose ala Boys Band


Pose ala Boys Band Mellow Berpelukan


The great team "AKS"



Ejot yang lagi gegalau ditemani setangkai daun berbentuk hati



Ana yang lagi galau takut ga bisa move on dari Talaga Bodas



Guntur sang Ketua team yang lagi galau benunggu belahan hatinya









Foto kita ga akan lengkap tanpa wefie



Sampai jumpa......

Tuesday, December 2, 2014

Bukan Tentang Seberapa Gunung yang Pernah kita Daki

Jadi ceritanya rombongan traveller bernama AKS yang desember taun lalu (baca cerita ini : Pendakian Menuju Puncak Mahameru) melakukan perjalanan perdananya ke Semeru (AKS = Ayo Ke Semeru) ternyata ga kerasa udah mau setahun aja kita berkeliling bersama menjajakan diri di berbagai gunung dan pantai indah di Indonesia, mulai dari Gunung Semeru, Gunung Papandayan, Pantai Sawarna, Gunung Gede Pangrango, Gunung Merbabu, Malioboro dan Pantai Siung Gunungkidul, Gunung Manglayang, Gunung Rinjani, Gunung Ciremai , Gunung Guntur, Gunung Cikuray, Gunung Lawu, Pulau Semak Daun, Gung Prau, dan akhirnya Gunung Sumbing dan Sindoro (AKS = Ayo Ke Sindoro Sumbing) yang menjadi destinasi penutup travelling kita taun ini. 

http://mapala-cartens-jepara.blogspot.com/2011/12/asal-usul-sejarah-gunung-sindoro-dan.html


Aduh lumayan banyak juga yah kalo dilist gitu. Tapi gini men, intinya bukan seberapa banyak gunung atau tempat indah yang udah kita kunjungi, tapi justru apa hal-hal baru (yang bermanfaat tentunya) yang bisa kita dapatkan dari sebuah perjalanan. Mengenali keragaman negeri kita lebih banyak lagi, menyelami kebudayaan negeri kita lebih dalam lagi, mencintai lingkungan kita lebih banyak lagi, memperjuangkan apa yang ingin kita raih, dan tentunya menemukan sahabat sejati yang tak hanya bisa dibawa senang saja. Itu barangkali manfaat yang sudah saya, teman-teman seperjalanan saya, dan mudah-mudahan kalian juga, teman-teman yang belum sempat dipertemukan dengan saya untuk berkeliling Indonesia.

LAMPIRAN (udah kaya tugas akhir aja, pake lampiran). Dibawah ini adalah rundown  yang udah disusun Ketua Geng AKS (Cieee Ugun jadi ketua Geng) buat double Summit kita ke Sumbing dan Sindoro. Walaupun terkadang segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, tapi  kita sebagai manusia biasa (langsung play lagu Radja "Manusia Biasa")  apa salahnya membuat rencana perjalanan kita supaya lebih jelas, terorganisir, terarah, dan terprediksi  (dana nya T_T) sehingga bisa dipersiapkan dari jauh-jauh hari.


Rabu, 24 Desember 2014
17.00-18.00 Berkumpul di Terminal Cicaheum
18.00-05.00 Perjalanan Bandung-Wonosobo

Kamis, 25 Desember 2014
05.00-07.30 Istirahat, Shalat Shubuh, Cari Angkutan
07.30-08.00 Perjalanan Terminal-Desa Garung
08.00-10.00 Pendaftaran di Basecamp Garung, Repacking
10.00-17.00 Perjalanan Basecamp-Pos Pestan
17.00-18.00 Bangun Tenda, Beres-beres
18.00-20.00 Masak, Makan Malam
20.00-22.00 Acara Bebas
22.00-03.00 Tidur

Jumat, 26 Desember 2014
03.00-04.00 Persiapan Summit
04.00-05.30 Perjalanan ke Puncak
05.30-07.30 Sunrise dan Foto-foto di Puncak
07.30-08.30 Perjalanan ke Pestan
08.30-10.00 Masak, Makan Pagi
10.00-15.00 Perjalanan Pestan-Basecamp
15.00-16.00 Beres-beres
16.00-18.00 Perjalanan Desa Garung-Rumah Ita (salah satu personil AKS)
18.00-22.00 Beres-beres, Mandi, Istirahat
22.00-04.00 Tidur

Sabtu, 27 Desember 2014
04.00-07.00 Bangun, Sholat, Mandi, Sarapan
07.00-08.00 Persiapan Berangkat
08.00-09.00 Perjalanan Rumah Ita (salah satu personil AKS) -Desa Kledung
09.00-10.00 Pendaftaran di Basecamp Sindoro, Siap-siap
10.00-15.00 Perjalanan Basecamp-Pos 3
15.00-17.00 Bangun Tenda, Beres-beres
17.00-20.00 Masak, Sholat, Makan Malam
20.00-22.00 Acara Bebas
22.00-03.00 Tidur

Minggu, 28 Desember 2014
03.00-04.00 Persiapan Summit
04.00-06.00 Perjalanan ke Puncak
06.00-07.30 Sunrise dan Foto-foto di Puncak
07.30-09.00 Perjalanan ke Pos 3
09.00-11.00 Masak, Makan, Beres-beres
11.00-15.00 Perjalanan Pos 3-Basecamp
15.00-16.00 Perjalanan Basecamp-Terminal
16.00-18.00 Menunggu Bus
18.00-04.00 Perjalanan Wonosobo-Bandung


Tuesday, November 4, 2014

Man Jadda Wa Jada

Air mata ini rasanya ingin mengalir haru tiap kali mendengar kabar baik dari teman-teman yang berhasil meneruskan pendidikan ke negara orang, alhamdulillah, melihat orang-orang bisa meretas mimpinya, bukankah seharusnya ikut disyukuri. Ikut mensyukuri, mendoakan, dan mengamini, semoga kita pun diberi kemudahan seperti teman-teman kita.
Man Jadda Wa Jada. Sebuah ketetapan yang mengisyaratkan manusia bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum selama kaum tersebut tidak berusaha merubahnya sendiri. 
Yah, mungkin belum di tahun ini. Tapi yakin,  pasti ada rencana indah dibalik niat yang sungguh-sungguh. Doakan saya kawan, jikalau menurut orang ini hanya mimpi, perkenankanlah saya menjadikannya bukan hanya mimpi.


Tuesday, October 14, 2014

Cerita Singkat Bersama Pantai Siung dan Air Terjun Jogan


Pantai Siung dan Pantai Jogan. Adalah dua pantai yang berbeda namun masih satu kawasan di pesisir pantai daerah Gunung Kidul, Jogja. Pertama kali saya kesini, bersama teman-teman dari Bandung, tepatnya beberapa jam setelah turun Gunung Merbabu.

Rencana awalnya kami akan melakukan double summit Merbabu dan Merapi, bahkan sampai kami mendaki Merbabu pun kami masih berpikiran untuk meneruskan pendakian menuju Merapi. Namun rencana meneruskan pendakian ke Merapi tersebut mau tak mau harus kami pupuskan karena ternyata kami mendengar kabar bahwa pada waktu itu Merapi kembali Awas. Saya langsung membuka info di media elektronik dan benar memang, Pihak pengelola Gunung Merapi hanya memperbolehkan melakukan aktivitas pendakian sampai Pasar Bubrah saja. Akhirnya kami pun memutar ide untuk mencari tempat lain yang bisa kami kunjungi di sela-sela perjalanan kami ini.  Ternyata jatuhlah pilihan kami pada pada pantai-pantai di wilayah Gunung Kidul, alasannya sih iseng saja awalnya. Karena namanya ada Gunung-nya, yah seengganya gagal ke Gunung Merapi, Gunung Kidul pun bisa jadi pelipur hati.

Pukul 21.00 sabtu malam, Tanggal 3 Mei lalu, kami mulai memacu kecepatan menggunakan dua buah mobil yang kami sewa di daerah alun-alun Jogja, serba mendadak namun akhirnya dapat juga.  AAAhhhhhh ini bakal jadi perjalanan super random yang begitu menyenangkan pastinya. Ditemani  banyolan khas ala frekuensi FM radio Jogja, kami mengambil arah ke wilayah Kidul Jogja, lelucon dan gelak tawa sesekali memecah perjalanan yang semakin malam semakin sunyi dan jarang penghuni.
Pantai Indrayanti, awalnya menjadi tujuan utama destinasi kami kala itu, namun entah kenapa ketika Saya bangun, tiba-tiba Saya sudah berada di sebuah parkiran beralaskan pasir, mungkin lebih tepatnya bibir pantai. Saya tidak bisa melihat jelas apa yang ada di depan saya karena begitu pekat dan gelap. Saya hanya mendengar deburan ombak dan angin yang saling bertautan menjajaki gendang  telinga saya.  

Seseorang berteriak memanggil dan menyuruh Saya turun dari mobil, Saya pun membuka pintu mobil mengikuti teman-teman saya yang sudah terlebih dulu turun. Samar-samar, saya semakin bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depan mata saya. Ombak, pasir, air garam, tebing, dan karang.

“Wooaaaaaawww kita sampai di Indrayanti ini? “ // “Bukan-bukan, ini bukan Indrayanti” //” Beuuuhh terus apa apa dong ini??”// “Ya pantai lahhh masa gunung “//” Yaelah anak balita juga tau ini pantai, pantai apa maksudnyaaa..?”//” aaaahh  banyak nanya lu, yaudah sih mending cepet sini bantuin kita ngebangun tenda sama bikin perapian//”  -imajinasi.

Pantai Siung. SUMPAAAH Ini pantai emang kece badai.  Kalo biasanya di film-film barat romantis suka ada adengan:

 “Suatu malam di sebuah pantai indah di Surganya dunia, tersebutlah sepasang kekasih yang sedang menikmati malam bersama. Mereka mendirikan tenda diatas cekungan bibir pantai tersebut, tepat didepan tenda mereka terlihat hamparan luas pasir putih berbalut air laut, sesekali dikeroyok ombak lalu dibawa pergi. Disamping tenda, mereka berkumpul membentuk lingkaran kecil diantara hangatnya nyala api ungun. Dalam canda dan gelak tawa, mereka pun mulai menghempaskan diri menyentuh pasir-pasir yang kian berbisik. Mereka mulai menengadah menyapa langit dan tanpa sadar  milyaran bintang sudah menggantung menghiasi atap tidur mereka. Tak ada satupun bintang yang menyendiri, mereka berkumpul membentuk gugusan indah penuh makna dan cerita. Bahkan lebih takjub lagi, tidak sedikit dari bintang-bintang itu yang nampak seperti  jatuh menghujani orang-rang di bawahnya, seperti hujan bintang, atau hujan meteor, lebih jauh lagi hujan matahari yang berada 5 cm diatas mata, begitu dekat, namun tak sedikitpun panas. Sungguh malam yang begitu mendekatkan mereka dengan alam dan penciptanya, beralaskan pasir, beratapkan langit, berhiaskan bintang, bemandikan air laut. Di setiap untaian suka cita, terselip doa dan nyanyian. Lalu mereka pun berdoa lewat untaian nada berbalut ketulusan.  Begini bunyinya:

“Tetaplah bersamaku,”
“Jadi teman hidupku,”
“Berdua kita hadapi dunia,”
“Kau milikku Ku milikmu kita satukan tuju”
“Bersama arungi derasnya waktu....”


Tak terasa hari pun berganti, atap bintang tetiba berubah menjadi  lukisan langit biru tanpa batas.
Hari sudah siang, “Bangun-bangun heh..” seseorang membangunkan Saya.
Jadi semalam saya mimpi?? Tapi terasa nyata banget banget. Tidak-tidak, itu bukan mimpi!!  Semua alurnya persis saya alami ko, hanya saja tokoh utamanya yang berbeda. Bukan sepasang kekasih, melainkan sekumpulan teman.  Ada saksinya ko, ada rekaman pas kami lagi nyanyi-nyanyi bareng ko di ponsel saya, ups baru inget kalo data di ponselnya keformat ulang....siaaaal...

Ahhh terlalu panjang jika saya ceritakan lewat drama telenovela ini, intinya pantai Siung itu bagi saya seperti duplikasinya Phiphi Island di Phuket sana. Ada tebing tebing menjulang di bibir pantainya, ada karang berjejer membentuk lekukan indah menawan, ada pasir putih dengan lautnya yang biru, ada matahari yang malu-malu terbit dari balik tebing, ada kepiting dan aneka penghuni laut saling berlarian, ada bahagia dan rasa syukur tak terhingga disana, dibalik semua kenikmatan yang telah alam karuniakan di bumi nusantara ini.

Teng- tong,, dan siang pun mulai datang, akhirnya kami pun harus rela meninggalkan tempat indah, bersih, dan menawan ini.  Jam 12.00 kami harus sudah ada di Stasiun Kereta Lempuyangan untuk kembali ke Bandung. Lalu mobil yang kita tumpangi pun meluncur menuju satu tempat lagi yang hendak kami singgahi sebelum kami pulang.

Pantai Jogan. Menyusuri jalan beraspal, membelah kesunyian hutan. Selanjutnya kami berbelok menuju jalan agak sempit, dan terlihatlah sebuah air terjun mengalir indah diantara ukiran tebing-tebing menjulang tinggi. Air terjun ini mempertemukan air tawar dari balik perbukitan Gunung Kidul dengan air laut khas milik Samudra Hindia. Derasnya Air Terjun Jogan terdengar memekik bersautan dengan gulungan ombak Samudra Hindia. Sebuah sensasi lain yang belum saya rasakan sebelumnya di gunung manapun bahkan di pantai berpasir manapun.

Jam menunjukkan pukul 10.00, saatnya kami meninggalkan Gunung Kidul bersama segala kenangan singkat yang sempat kami dapat. Terakhir, mobil pun berlalu menyusuri jalan beraspal melewati perbukitan membelah pepohonan kering menuju pusat kota.