Saturday, April 16, 2016

Lagi Stress Sama Kerjaan atau Tugas Akhir Tak Kunjung Kelar? Mungkin Kamu Butuh Kesini.


Begitu damai dan tenang, itulah kesan pertama saat Saya menginjakan kaki di Bukit Doa Tomohon.  Tomohon yang berjarak sekitar 22 km ke arah timur kota Manado ini memiliki sebuah bukit yang merupakan tempat wisata rohani dengan keunikan tempatnya yang sayang untuk dilewatkan. 

Perjalanan Kota Manado - Tomohon


Dari kota Tomohon, kamu bisa menyusuri lokasi yang dikenal dengan Jalan Salib Mahawu.  Terdapat belasan spot-spot pemberhentian dengan berbagai macam patung yang katanya menceritakan kisah sengsara perjalanan hidup Yesus, termasuk kisah tragedi Penyalibannya.

Jalan dari Tomohon menuju Bukit Doa 

Jalan dari Tomohon menuju Bukit Doa Mahawu


Bukit Teletubbies di Bukit Doa (Sayang lagi kemarau)


Kekaguman lain dari tempat ini adalah terdapat bangunan megah diatas bukit hijau yang tepat menghadap Gunung Lokon, namanya Chapel of Mother Mary. Sebuah akulturasi gaya bangunan yang unik dengan desain dekoratif Eropa klasik. Menurut Saya, berada di bangunan ini seperti berada di dalam sebuah dongeng, indah dan cantik.   


This is Chapel of Mother Mary 


This is Chapel of Mother Mary 
View Chapel of Mother Mary dari depan
Saya berfoto dengan Chapel of Mother Mary

Saya berfoto dengan Chapel of Mother Mary

Saya berfoto dengan Chapel of Mother Mary

View Chapel of Mother Mary menghadap Gunung Lokon

View Chapel of Mother Mary menghadap Gunung Lokon



Saya berfoto di depan Gunung Lokon

Nah satu lagi, di Bukit Doa ini juga terdapat sebuah Amphiteater yang menyediakan tempat duduk seperti tribun dengan bentuk melingkar. Untuk mencapai Amphiteater tersebut, dari Chapel of Mother Mary kamu tinggal balik kanan berjalan mengikuti jalan kecil ber-paving block kayak foto di bawah ini. Menurut Saya, penampakannya sangat unik dan klasik seperti di film-film kerajaan romawi kuno. 

Jalan setapak dari  menuju Amphiteater

Sambil berjalan kaki, kamu akan menikmati hutan sejuk ini

Amphiteater

Ah coba saja Saya bersama teman-teman, pasti sudah kami eksplore habis-habisan tempat indah ini. Sayang Saya cuma sendiri (sebenarnya bertiga bersama supir dan atasan Saya yang Sayangnya mereka memilih untuk duduk saja di cafe dan sama sekali tidak ingin ikut berkeliling bersama Saya).




Ya tapi apapun itu, yang jelas Saya merasa beruntung dan bersyukur pernah kesini, ke sebuah tempat wisata dengan paket lengkap buat nenangin hati,otak,pikiran dan dompet. Disini, menikmati sisi demi sisi rasa damai, ditemani kegagahan Gunung Lokon, udara sejuk, langit biru, dan sepiring pisang kepok tak lupa hidangan sambal Aro, kamu akan lupa kalo kamu lagi dikejar deadline kerjaan atau tugas akhir yang tak kunjung final ada di Manado.




Written and Photos by : Badriana Nuranita
Info2 mengenai Bukit Doa Mahawu beberapa disadur dari : artikel di majalah Sriwijaya Air edisi Februari 2016 (gak sengaja baca majalah pas pake pesawat ke Bangka)

Monday, April 4, 2016

11 Hal yang Bikin Kamu Kangen Akut sama Manado

photo by dunia-si-ana.blogspot.com


Jadi ceritanya pertengahan taun lalu sekitar 5-12 Agustus 2015, Saya mendapat tugas Survey proyek perencanaan jalan di Manado dari kantor Saya di Bandung. “Yes Bunaken”, satu-satunya tempat yang langsung terbesit untuk Saya harus kunjungi di sela-sela pekerjaan Saya nantinya.

Tapi faktanya, setelah Saya menginjakan kaki di Bandara Sam Ratulangi, menginap di MOI Residence,  menunaikan tugas survey Saya bersama P2JN Sulawesi Utara ke beberapa wilayah mulai dari kota Manado, Tomohon, Tondano, Kawangkoan, Belang, Langowan, Bitung, Malalayang, sampai Kotamobagu, mainset Saya mengenai Bunaken adalah satu-satunya tempat yang waib dikunjungi di tanah Minahasa ini langsung terbantahkan begitu saja. SAYA SALAH BESAR. BENAR-BENAR SALAH BESAR.

Yang  berpikiran sama seperti Saya, Biar Saya kasih tau kalo ternyata Manado itu antik dan cantik. Antik dan cantik nya kenapa???
Ini nih alasannya.

Sebelas alasan yang bikin kamu betah banget berlama-lama di Sulawesi Utara terutama Manado dan kota-kota sekitarnya. Entah itu emang niat traveling, atau ga sengaja karena urusan pekerjaan kaya Saya. 


  1.  Panas Dinginnya Kota Manado
  2.  Pantai Malalayang dan Boboca-nya
  3.  Bunaken, Permata dalam tumpukan Mas
  4.  Megahnya Jembatan Sukarno 
  5. Bukit Doa Tomohon tempatnya Wisata Religi
  6. Tomohon Si Kota Bunga
  7. Danau Tondano dan Legendanya
  8. Pelabuhan Bitung dan Menara Eiffel-nya
  9. Pesona Gunung Lokon
  10. Bubur Manado Si Lezat Tak Ada Dua
  11. Nona-nona Cantik Idaman Semua Pria
Nah, selanjutnya mari kita kupas satu-satu di postingan selanjutnya. Muihihihi.

Tuesday, March 29, 2016

Membunuh Waktu di Kuburan Kereta Purwakarta

photo by : dunia-si-ana.blogspot.com


Mendengar kata kuburan, Saya yakin yang terpintas di benak kita adalah padanan dari kata angker, sunyi, sepi, seram, setan, dan gentayangan. Ya dan memang tidak salah lagi, sekalipun namanya Kuburan Kereta, tapi Saya rasa tetap saja keangkeran itu tidak bisa dihilangkan dari citra sebuah kuburan.

Terbukti, pada hari Rabu tanggal 9 Maret 2016 yang bertepatan dengan hari libur apaaa ya lupa, Saya dan seorang partner petualang Saya bermana Icad, merencanakan sebuah misi pembunuhan dengan target lokasi di kota Purwakarta, di Stasiun Purwakarta, di Kuburan. Kami putuskan mengambil lokasi eksekusi di kuburan tersebut karena tempat itu dirasa sepi, tersebunyi, dan lumayan jauh dari kerumunan orang. Baiklah Saya sebagai pencetus ide dan Icad selaku eksekutor, tepat pada pukul 13.00 kami memulai misi kami, "Membunuh Waktu di Kuburan Kereta Purwakarta".

 Berbekal si Beat kesayangan kami (karena memang cuma itu yang bisa dipakai) yang selalu menemani kami bepergian, berangkatlah kami dari Bandung menuju Purwakarta (tentu bukan lewat tol) ditemani rintik hujan dengan intensitas yang bisa dikatakan tinggi. Niat kami sudah terlanjur bulat sebulat tahu bulat digoreng panas harganya 500an, sehingga hujan tak jadi rintangan. 

Dua jam yang sangat singkat bagi yang naik mobil dan lewat tol Cipularang lalu keluar di KM 70-an. Gilaaaaaaaaaaaaaakk bikin pegel pantat banget, ngantuk pula, hujan pula, kadang2 panas pula, fix deh gerah bercampur aduk sama kantuk sama debu.  Tapi seru, karena kami terlalu bersemangat. Ya, bersemangat buat makan sate maranggi paling enak di Purwakarta.

Menjajaki Purwakarta via Cimahi - Padalarang - Jl Raya Purwakarta - Jalur Cikampek-Padalarang - Darangdan - Sukatani - Kota Purwakarta, selain disuguhi mendung dan gerimis, kami juga disuguhi pemandangan hijau pesawahan dan birunya pegunungan di sepanjang jalan. Untung jalannya bagus, jadi kami bisa ngebut bersaing sama truk truk super besar yang banyak banget melintasi jalur ini.


Pemandangan memasuki daerah Padalarang


Pemandangan Pegunungan di daerah Padalarang

Pemandangan Pegunungan (sepertinya Gunung Parang) di daerah Purwakarta

Welcome Purwakarta

Singkat cerita, sekitar pukul 15.00 kami sudah tiba di Stasiun Purwakarta, tak susah mencari tempat yang kami tuju, kemudian kami masuk kedalam stasiun. Menurut info yang kami cari, kuburan kereta nya terletak tepat di dalam stasiun tersebut, eh tapi kan yang boleh masuk hanya yang punya tiket, pikiran dangkal Saya menuju ke arah loket yang harus saya hampiri untuk membeli tiket, tiket dengan tujuan kemana saja asal Saya dan Icad bisa melewati pagar pembatas yang dijaga petugas kereta api.


Pagar Pembatas Stasiun Purwakarta

Sedangkal-dangkal nya otak Saya untungnya tidak sedangkal mulut Saya yang hobinya nyerocos, hampir 15 menit kami bolak balik membaca papan pengumuman jadwal kereta serta mencari celah pagar yang bisa kami masuki tanpa jagaan petugas (karena tidak boleh sembarang orang bisa masuk), otak Saya jatuh dan tidak bisa berfikir, lalu giliran mulut Saya yang gerak. Saya menghampiri akang-akang penjaga parkiran yang sedang duduk ngaso di bawah tugu patung Gatotkaca di depan Stasiun.

Saya    : "Kang, punten bade tumaros, ari ka kuburan kereta ka palih mana?"
Akang : "Hah, kuburan kereta neng..?
Saya    : "Muhun Kang, eta geuning kereta-kereta anu tos teu dianggo anu sok diangge popotoan."
Akang : "Ooohhh eta, teras we ka ditu tuh kanu seueur nu dagang, belok kanan, lurus, teras ka kiri, teras nyebrang rel."
Saya    : "Oh hatur nuhun kg."
Akang : "Mangga neng."
Saya    : "Kangkung Kang."
Akang : "Bonteng neng."

Kemudian roaming yang baca, kemudian Saya malas nerjemahin.

BODOH. Kenapa ga nanya dari tadi aja, pake acara sok sok mikir sampe mau beli tiket tapi ga jadi karena mahal sampe mau ngendap-ngendap nerobos segala. 
Pelajaran dari kisah ini : Malu bertanya, bodoh ga ketulungan.


Icad dan Patung Gatotkaca

Saya dan Icad di depan Stasiun Purwakarta

Akhirnya kami ngikutin instruksi si Akang parkir tadi, dan YEAAAAYYYY kami sampai, kami menyebrangi rel dari arah utara stasiun yang memang tidak dipagari. Kami masuk lewat gapura bertuliskan Nagri Tengah Purwakarta, kemudian kami berjalan membelok ke arah kanan menerobos jalanan sunyi, lalu ke kiri menyusuri dinding gedung tua nan lapuk sampai mentok, lalu sebentar lagi kamu akan tiba di sebuah lahan sunyi dan berumput dengan puluhan bahkan ratusan gerbong kereta api usang yang bertumpuk rapi memenuhi lahan tersebut. 

Selamat datang di Kuburan Kereta, tempat besemayamnya bangkai-bangkai gerbong kereta dan bangkai penumpangnya yang sudah usang termakan usia maupun rusak karena kecelakaan.

Tanpa basa basi, kami berdua pun lantas mengeksekusi waktu, membunuhnya di Kuburan ini.
Hmmmmm Sadis.

Penampakan Stasiun Purwakarta

Gapura bertuliskan "Nagri Tengah Purwakarta"

Gedung tua gudang lokomotif

View kuburan kereta dari depan  Gedung Tua
View kuburan kereta dari depan  Gedung Tua

View  awal saat memasuki kuburan kereta 

View kuburan kereta 
View Saya bersama kuburan kereta

View Saya bersama kuburan kereta 

View Saya bersama kuburan kereta

View Icad bersama kuburan kereta 

View Icad bersama kuburan kereta 

View Icad dan Saya bersama kuburan kereta 

View Saya bersama Gedung Tua 
Sore hari sekitar pukul 16.15, usai melakukan pembunuhan waktu di Kuburan Kereta Stasiun Purwakarta, kami pun lekas menghampiri wilayah perbatasan Purwakarta - Cikampek, yakni Cibungur. Tujuannya adalah untuk melancarkan misi kedua yang lebih sadis dari misi pertama, misi kedua ini kita namai "Memutilasi Mahluk Hidup bernama Kambing dan Sapi, menusuknya, membakarnya, menaburinya dengan cabe dan tomat, kemudian melahapnya."
Hmmmmm Sadis.

Proses eksekusi  


Kondisi terakhir Korban setelah pembantaian

Sang eksekutor


Written by : Badriana Nuranita
Photos by  : Icad & Ana


Wednesday, March 2, 2016

Gong Xi Fat Cai 2016

Bangka, 8 Februari 2015
00:44

Malam ini rame sekali euy. Di tahun Monyet ini Saya ikut merayakan imlek di pulau yang penghuninya mayoritas koko cici mata sipit, pulau tetangganya si laskar pelangi, pulau yang martabaknya terkenal sekali karena enaknya.
Dentuman bunyi petasan dan kembang api dan sorak sorai seremoni festival barongsai (sepertinya) bersautan sama derasnya suara hujan dan dor-dar halilintar. Lalu kecatikan nyala lampion yg berderet menghiasi kota sejenak mengingatkan Saya akan kenangan imlek taun lalu di negara tetangga yg ikonnya patung Singa bersisik.
Malam itu, diantara deretannyala lampion dan meriahnya tontonan barongsai, Saya sedang kesal, lalu kami berpisah. Saya mengambil jalan Saya sendiri, dan dia bersama yang lain. Sialnya Saya tersesat dan tak menemukan jalan pulang. Saya berjalan jauh, tapi nyatanya masih berputar-putar di tempat itu-itu saja (semua tau kalau saya buta arah) sampai akhirnya kami kembali berpapasan. Tapi Saya malah berlari pergi dan menangis,
menangis sepanjang malam,..
sampai lelah..
sampai ngantuk..
sampai tidur..
sampai pagi.

Ah lucu sekali kalau diingat.

Oh ya, SELAMAT TAHUN BARU, bagi siapapun, kapanpun, dan apapun jenis tahun barunya, yang pasti doa nya sama-sama yang baik2 to? Semoga selalu dilimpahi kasih sayang dan diberkahi rejeki berkecukupan, jangan lupa bersyukur.














Written by : Ananuranita