Thursday, April 16, 2015

Singapore Trip Part II (Episode 2)

Supaya nyambung, mending baca yang Episode 1 nya dulu Singapore Trip Part 2 (Episode 1)
Nah kalo yang itu udah hatam, baru deh baca yang ini.

The Lazy Traveller
Day-2 :  Berkesempatan Mengunjungi Salah Satu Jembatan Pejalan Kaki Terindah Didunia

Jumat, 30 Januari 2013. Setelah melakukan aktivitas yang panjang dan menyenangkan seharian kemarin, mulai dari touchdown di Changi Airport, menuju hostel di Chinatown, memulai perjalanan menuju Santosa Island, menikmati berbagai wahana dari mulai yang biasa saja sampai yg absurd sekalipun, panas-panasan, naik MRT, jalan kaki sampai kaki lecet, bungkus makan ke hostel, mandi di kamar berukuran minim, gani baju, ganti celana, ganti daleman (ban dalem kali ah), selonjoran di kasur, sampai mata pun ikut selonjoran deh akhirnya. Bye yesterday, hari ini dapat dipastikan bahwa kami akan lebih semangat dari hari kemarin, karena inilah cara kami menikmati hidup..! this is my Rule Meeen....-Welcome to My Life-  (langsung nyanyi ala Simple Plan keselek kresek)


08:00. Sebenarnya ini terang-terangan memperlihatkan ke-lazy traveller-an kami. Barangkari lupa, kami disini terdiri dari Geng Guee (Saya, Icad, Massa, Dhika, Mba Ian) dan Ridha Cees (Ridha, Nizar, Mba Niar, dan Rapi), sedangkan sisanya (Mike, Teguh, Rizwan, Wulan) lagi sibuk menjadi gembel kece di Malaysia.

Jika biasanya seorang traveller selalu bersemangat bangun pagi karena ada banyak tempat yang ingin dia kunjungi, nah justru berbeda dengan kami yang begitu susah bangun pagi, membuka selimut, bangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi, dan langsung menghampiri sarapan pagi.  Inilah kenapa kami disebut Lazy Traveller. Butuh waktu berjam-jam untuk membuat kami sadar total bahwa ini bukan bangun tidur seperti akhir pekan – akhir pekan biasanya, malas bangun karena takut disuruh beres-beres rumah sama mamah, atau malas bangun karena semalaman begadang ngeboyong kerjaan kantor ke rumah, atau malas bangun karena balas dendam tiap hari harus bangun pagi biar ga telat kuliah. Bukan bukan woooyyy,, ini bukan weekend biasa, sadarrrr wooyyy,, ini bakal jadi salah-satu weekend terseru kamu..!!! eh gila beneran dong ini Saya lagi liburan. Dan atas kesadaran diri saya yang paling dalam, Saya pun bangun, buka jendela, melirik pemandangan pagi di sepanjang Pagoda Street yang penuh dengan lampion dan dekorasi serba merah, menikmatinya dengan damai, lalu tidur lagi. Kampret ini belek di mata lengket banget susah kebuka.

Di halaman yang berfungsi sebagai dapur, tersedia satu set kompor gas (gas apa listrik sih lupa ), ada kulkas, mikrowafe, lemari gantung, dispenser segala isi (tinggal pencet mau kopi, milo, capuccino, latte, atau Cuma air putih) rak piring, wastafel yang diletakkan berdekatan dan sejajar dengan pintu. Sekitar 1 meter di seberangnya ada sebuah meja persegi tanpa taplak, diatasnya penuh dengan hidangan pagi seperti roti lengkap dengan pemanggangnya, sereal, selai, gula, susu, margarin, garpu, pisau, gunting, obeng, baud, paku, palu, kunci inggris, amplas (sekalian aja buka bengkel reparasi otak).

Satu persatu dari kami mulai duduk di bangku kosong (itu judul pelm hantu woooy) dan mulai menyantap segala macem yang tersedia di meja, termasuk perkakas-perkakas bengkel tadi. Ada sekitar 5 set meja dan kursi kayu disana.

Satu lagi, wc nya. Wc berdimensi sekitar 1x1x1 m (kandang marmut kali ah) menjadi tujuan kami selanjutnya setelah sarapan. Ya, buang hajat, buang tisyu, buang sabun, buang aer, dan buang-buang waktu pastinya.

10:30. Kali ini tujuan jalan-jalan kami adalah Henderson Waves Bridge. Apakah itu Henderson Waves Bridge?? (yaelah dari judulnya aja udah ketauan kalo itu tuh jembatan). Kita lihat nanti deh, pokoknya dari hostel ini, kami menuju ke stasiun MRT yang ada di Chinatown menuju arah Telok Blangah.

11:00. Berhenti di stasiun Telok Blangah, selanjutnya kami berjalan kaki sekitar 1 km menuju halte bis, ada bis cantik yang akan membawa kami ke Henderson Waves. Nah di bis ini, kamu tidak perlu repot-repot mengeluarkan koin SGD kamu, cukup menempelkan EZ Card kamu saja (ada saldonya tapi yesss, sekali lagi –ADA SALDONYA-).


Perjalanan dari Telok Blangah menuju Halte Bis via Henderson Road

Hanya dalam waktu 10 menit saja, kita sudah dapat turun dari bis. Jangan lupa tempelkan kembali EZ Card kamu ke alat sensor di pinggir pintu keluar, soalnya kalo engga, kamu dianggap tidak membayar, dan kamu akan dikenakan denda yang langsung dipotong dari saldo EZ Card kamu. Entah berapa dendanya, tapi yang pasti malu-maluin deh, soalnya di EZ Card kamu nantinya akan ada catatan khusus, nah kalo keseringan itu bisa jadi catatan kriminal lho. Makannya dikasih tau dari sekarang nih biar ga lupa, biar ga ngelakuin kesalahan yang sama kaya temen Saya, bukan temen sih sebenernya, tapi Saya sendiri wakakakakkk (yah namanya juga manusia, tidak luput dari Khilaf dan Bego).


Ini yang Saya Maksud Bis Cantik via Henderson Road, banyak tiangnya, lumayan buat gelantungan

11:10. Henderson Waves Bridge, sebuah jembatan khusus pejalan kaki yang disebut-sebut merupakan salah satu jembatan terindah di dunia. Menurut sumber yang dilansir dari  http://travelawan.com/blog-travel/henderson-waves-sebuah-jembatan-cantik-di-singapura.html,  jembatan ini memiliki tinggi lebih dari 60 meter di atas permukaan laut dengan panjang sekitar 274 meter, jembatan ini menghubungkan Mount Faber Park dengan Telok Blangah Hill Park. Merupakan hasil desain dari IJP Corporation, London dan RSP Architects Planners and Engineers (PTE) ltd., Singapura. Diresmikan oleh Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 10 Mei 2008.

Nah tadi kan kita udah turun dari bis nih, yaudah deh jembatan Henderson tepat berada di atas kita. Di langit??  Bukan lahhhhh,, ya sekitar 40 meteran lah dari permukaan Henderson Road. Lah terus gimana caranya keatas dong? Ya naek tangga lah begoooo.

Dari halte pemberhentian Henderson Road, kamu tinggal menyebrangi jalan, lalu menaiki puluhan anak tangga yang tersedia disana, kemudian kamu akan menemukan 3 percabangan jalan (entah kemana aja skip), pokoknya ambil percabangan ke kiri, lurus dan sedikit menanjak, terus belok ke kiri lagi, maka kamu pun akan melihat tulisan besar yang nemplok di dinding “Henderson Waves”. Ini nih penampakannya:




Tuh ada plang ke arah Henderson Waves

Yang ini baca aja sendiri

View Henderson Waves dari Bawah

Tukang bersih-bersih kebun di Henderson Waves

Sejarah dan Penjelasan Proses Kontruksi Henderson Waves

Penampakan  Pelat Lantai Henderson Waves Pelat 

Penampakan Sepasang Sepatu di Henderson Waves

Penampakan Henderson Road dari atas Henderson Waves

Penampakan 5 orang Tim Super Rusuh di Henderson Waves
(Kiri: Dhika, Ichad, Mba Ian, Massa, Ana)

Benar memang, bentuk jembatan ini unik juga. Rangka baja yang merupakan bagian struktur utamanya didesain melengkung beraturan ke arah vertikal membentuk liukan seperti ombak (apa ular ya?, atau lele..?). Jika gelagar memanjang, melintang, bracing, dan main structure menggunakan rangka baja sebagai materialnya, maka berbeda dengan pelat lantai dan art structure-nya yang memilih kayu sebagai material yang digunakan. Warna dan pola serat kayu yang cenderung artistik menjadi pilihan tepat dalam mendesain jembatan pedestrian ini. Tidak hanya pelatnya saja, bahkan sang insinyur (ga mau bilang ini buatan arsitek) membuatkan undakan sebagai tempat bersantai para pengunjung dengan kayu-kayu cantik yang meliuk-liuk keatas sampe ke awan sampe ke langit ke-7 (lu pikir ini peristiwa isra mi’raj).

Malem hari, itu waktu yang paling bagus ngeliat jembatan ini. Ada lampu kuning menyala-nyala membalut seluruh lekukan jembatan. Tadinya kami berniat kesini lagi sih malamnya, cuma nyatanya hanya sekedar fiktif belaka. Ini nih penampakan Henderson Waves di malam hari yang Saya comot dari google.


http://www.worldtoptop.com/wp-content/uploads/2011/05/henderson_waves_bridge_2.jpg

http://nexttriptourism.com/henderson-waves-bridge-suitable-for-roads-in-singapore-1/images-henderson-waves-bridge-suitable-for-roads-in-singapore/

Aduh ga akan beres dikupas di bab ini doang deh kalo soal detail dan struktural jembatannya (Secara kerjaan ane ngitung2 jembatan gan, ngitung berapa banyak maksudnya..). Skip deh,, intinya kami pun puas jalan-jalan, lari, jungkir jumpalik meng-eksplore jembatan ini.  Saking enjoynya banget banget, sampe setengah sadar kalo ini tuh jumat lho (sekali lagi – JUMAT- Jumataaaan Wooooyyyyy). #buruburunyarimesjid #langsungsolattobatdimall

13:00. Laper meeen. Akhirnya kami memutuskan untuk menjajaki kuliner Singapura di Vivo Mall. Kamu tau makanan apa yang kami pesan? Nasi padang. Hahahaha jauh-jauh kesini ketemunya Rendang Saiyo juga, cuma yang jualnya bukan si Uda atau Uni, tapi emaknya si Upin Ipin.


Padang lagi Padang lagi
14:00. Tuntas menyalurkan hasrat tak terbendung, kami pun (oh iya lupa bilang, kami di Henderson udah beda sama kami disini, karena ternyata Ridha and the gank memutuskan bercerai dengan Saya dan yang lain), mereka lebih memilih menghambur-hamburkan uang mereka di Orchard daripada berbaur dengan alam bersama Saya, Ichad, Massa, Dhika, dan Mba Ian.  Jadi yang sekarang kami (ingat! Saya, Ichad, Massa, Dhika, dan Mba Ian) lakukan adalah pergi meluncur menuju Botanical Garden. Hanya sekali saja naik MRT ke arah Botanical Garden, kamu sudah akan tiba di taman hijau (lebih hijau taman safari sih) nan sejuk (sumpah panas banget) nya Singapura. Tapi bagusnya taman disini tuh emang tertata banget, bersih banget, dan terawat banget pastinya. Taman disini terbagi kedalam blok-blok berdasarkan fungsi dan habitatnya, ada blok tanaman dan pepohonan yang dilindungi, ada blok bunga-bunga warna warni, ada danau luas yang dihuni para angsa dan ikan-ikan, ada rumput hijau yang banyak disinggahi ratusan merpati, ada saung-saung dan bangku-bangku yang diperuntukan buat para pengunjung, ada juga kandang-kandang kosong yang diperuntukan buat kami, lhooo?..


Penampakan plang petunjuk arah Botanical Garden

Pose Saya berfoto di samping plang petunjuk arah Botanical Garden

Pose Saya memeluk plang petunjuk arah Botanical Garden memakai sendal capit (setelah kaki lecet karena salah pake sepatu)

Pose Saya berpura-pura menikmati hamparan rumput di  Botanical Garden 

Penampakan danau di Botanical Garden

Dua jam menjadi tidak terasa karena kami disana hanya duduk-duduk di bawah  pohon di bibir danau, lalu tidur.


Penampakan Tim Rusuh sebelum skip tidur depan danau

16:00. Rasanya perjalanan di hari yang cerah untuk jiwa yang tenang ini sekian. Saatnya kami berpulang dulu ke hostel untuk mandi, rehat, meluruskan kaki, meluruskan jalan dan bertobat. Okay, berangkatlah kami ke Pagoda Street.

16:30. Ngebangke. Skip.

19:00. Saya tiba-tiba tersadar sudah tidak berbusana, Saya kaget dan lalu terperanjat, apa yang telah Saya lakukaaaaaan??.. oh ternyata Saya sedang mandi (Lega, loncat-loncat, terus gelantungan di tiang shower). Semales-malesnya kami, tapi kami masih punya semangat 45 kok buat berburu belanjaan (yaelaaaaa, giliran belanja aja semangat banget).  Setelah kami bersiap-siap, berangkatlah kami menuju Orchard, sebuah pusat peradaban super modern-nya  Singapore (Ya ga beda jauh sama Pasar Baru atau Tanah Abang lah yah). Pusatnya Barang-barang branded, maka tak heran bila Orchard ini menjadi destinasi utama para shopaholic yang berkunjung ke Singapore.


Plang Orchard Road

Tugu Orchard Road

Begitupun dengan kami, semangat berburu, melihat-lihat, mencari-cari barang-barang mahal yang kami inginkan, kemudian hanya mampu berfoto saja (itu pun di depan tokonya). Eh bukan karena kami ga bisa beli lho, tapi kalo namanya backpacker sejati sihh haram beli yang begituan (ngelessss mulu sih bisanya). Kami kesini sebenarnya sih Cuma punya 1 tujuan mulia, yaitu mencicipi es krim 1 dolar, meskipun sihh sebenarnya di Bandung juga udah banyak, Orchard Ice Cream namanya. Ahhh peduli amat, pokoknya dulu pas dua tahun lalu kesini nyicipin es krim itu enak bangeett, trus mau mengenang lagi kenikmatan es krim itu lagi. Udah itu doang. Titik.


Es krim ternikmat sedunia

Oh iya, di sela-sela pencarian es krim ternikmat sedunia, kami pun sempat mampir ke sebuah toko sepatu laris manis murah meriah di Orchrad, katanya sih sepatu ini lagi booming banget di dunia per-instagraman Indonesia. Yaudah deh biar kekinian kaya kaula muda sosmed, Saya pun memilih dua pasang sporty flatshoes warna biru dan merah. Dua sepatu yang Saya beli dibandroli SGD$30, sedangkan untuk flatshoes atau teplek biasa itu kamu bisa dapet 3 pasang dengan hanya  SGD$30. Hayo tebak apa merk sepatu nya??.

Cukup melelahkan sih sebenarnya, berjalan-jalan hampir 3 jam Cuma buat nyocol eksrim doang. Haha, sebenarnya yang bikin lama adalah di bagian pas milih-milih sepatu tadi, lamaa banget. Tapi itulah sih wanita, se-kumisan apapun, dia tetaplah wanita, punya naluri memilih dan menimbang yang tinggi. 

22:00. Back to hostel, dan ngisi perut di Mcd Chinatown dulu, rencananya. Dan rencana itu terlaksana oleh semua teman-teman, kecuali Saya, ada something stupid yang Saya lakukan disela-sela saat mereka sedang memesan burger di Mcd. Hingga akibatnya, akan muncullah sub judul baru dari cerita bersambung ini, “ LOST IN CHINATOWN”. Nah bagian memalukan itu akan Saya ceritakan di judul yang berbeda. On progress ya.


Pas lagi lost in Chinatown, sempet-sempetnya Saya ngambil gambar ini
Begini saja, karena Saya tak ada di tempat yang semestinya bersama mereka, jadi anggap saja jam 23.00 kami sudah ada di kasur masing-masing untuk bermimpi indah, kali ini bukan dengan Albert, tapi dengan emm... dengan... sebut saja Solehudin (aduh lupa namanya), penghuni baru kamar kami yang menempati tempat tidur Albert, ternyata dia masih sebangsa dengan Albert, kebetulan sekali, kemampuan berbaha Inggrisnya juga sama seperti Albert, mungkin mereka kembar. 


Ananuranita
Photo by : Dhika, Ichad, Ryan, Massa, Ana

No comments:

Post a Comment

Silahkan komen di bawah ya :)